Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
A Dream


__ADS_3

"Kau ... mengapa bisa seyakin itu?" kini Yuna menatap Zen dengan mengkerutkan keningnya. "Selama ini kita sudah mengupayakan semuanya. Namun tetap tidak bisa menemukan pelaku penyerangan terhadap suamiku. Bahkan ayah mertua sudah menggerakkan seluruh orang-orangnya. Namun rupanya pelaku sudah lebih lihai dan bisa menutupi semua pergerakannya dengan sangat baik." imbuh Yuna begitu lirih.


"Hhm. Iya, aku tau itu. Tapi aku yakin sekali kalian akan segera menemukan pelaku penyerangan itu." kini Zen sedikit melirik Yuna dan tersenyum hangat. "Dan ... semoga kalian bisa bersama kembali ..."


Empat mata itu kini saling melakukan kontak mata untuk beberapa saat. Entah mengapa Yuna menjadi merasa sangat tidak asing dengan tatapan Zen saat ini. Sangat familiar dan terasa begitu hangat untuknya. Bahkan keempat mata itu kini tak terasa menjadi sedikit berair. Namun dengan cepat Yuna segera memalingkan pandangannya.


"Tentu saja kita akan bersama kembali! Aku sangat yakin suamiku akan segera bangun!" kini Yuna melangkahkan kakinya dan menarik kursi lalu duduk di samping ranjang suami tercintanya.


Zen tersenyum hangat dan terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Yuna.


Walaupun terlihat begitu tegar, namun tentu saja sebenarnya ada sisi rapuh seorang Yuna yang tak pernah dia perlihatkan kepada siapapun kecuali di hadapan suaminya. Wanita mana yang tidak akan sedih dan terpukul ketika melihat kondisi suaminya yang sedang berjuang antara hidup dan matinya. Berjuang melawan maut. Bahkan dokter sudah pernah mengatakan sebelumnya, tingkat keberhasilan untuk tetap hidup Kagami Jiro hanya 30%.


"Teruslah berdoa untuk tuan Kagami Jiro!"


"Tentu saja aku selalu melakukannya." kini Yuna meraih dan menggenggam jemari kiri Kagami Jiro.


Dan pemandangan itu hanya membuat Zen sedikit terpukul dan sedikit menghembuskan nafas kasarnya ke udara.


"Baiklah. Aku rasa aku harus segera pergi. Pesawatku akan segera berangkat dalam waktu dekat ini." ucap Zen dengan begitu berat. Sangat berat baginya untuk meninggalkan Jepang begitu saja.


Dan tentu saja sangat berat untuk meninggalkan istri tercinta dan keluarganya.


Mendengar ucapan perpisahan dari Zen, entah mengapa membuat sedikit goresan di hati kecil Yuna yang dia sendiri tidak tau alasan yang sebenarnya.


"Hhm ... semoga perjalananmu menyenangkan." Yuna menyauti tanpa menatap Zen. Dia masih menatap nanar wajah suaminya yang kini sedang terbaring lemah.


Ah ... sakit sekali rasanya. Seperti sedang melihat istriku sedang berselingkuh dengan orang lain di depan mataku sendiri. Padahal tubuh itu adalah tubuhku sendiri. Tapi rasanya kok tetap sakit ya. Bahkan saat berpamitan pun, dia tidak menatapku sama sekali. Dan malah lebih memperhatikan tubuh itu. Huuppff ...


Batin Zen yang terlihat begitu murung.


"Baik. Aku pergi sekarang ..." ucap Zen begitu lirih dan kini berbalik membelakangi Yuna.


"Hhm ..."


Zen mulai melenggang dengan langkah kaki yang begitu berat. Seperti ada berton-ton beban yang membuatnya melangkah dengan sangat berat.


Beberapa saat, Yuna menoleh ke arah Zen. Namun Zen semakin menjauh meninggalkannya dan kini sudah meraih gagang pintu itu. Yuna kembali menatap nanar tubuh Kagami Jiro yang sedang terbaring di hadapannya dengan perasaan tak menentu.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Zen kembali menoleh ke belakang untuk melihat istrinya yang terakhir kali sebelum dia kembali ke Beijing.


Andai saja aku bisa memelukmu sekali saja. Andai saja aku bisa melakukannya ... pasti itu akan membuatku sedikit tenang ... Yuna, aku akan segera kembali. Dan kita akan bersama kembali. Tunggu hingga waktu itu tiba, Sayang.


Batin Zen masih dengan raut wajah yang begitu sedih. Perlahan Zen mulai menutup kembali pintu dan tepat disaat itu Yuna menoleh ke arah pintu. Tatapannya juga terlihat begitu sedih. Perlahan Yuna meletakkan kepalanya di atas brankar dan tangan kirinya memeluk tubuh besar suaminya.


...⚜⚜⚜...


Di sepanjang perjalanan Zen lebih sering terdiam dan melamun. Bahkan saat di dalam Air China dia lebih suka terdiam dan menatap awan dari dalam.


"Zen, beristirahatlah! Besok pagi kau harus mulai shoting lagi." ucap kak Kai sambil mengambil sebuah majalah dan mulai membukanya.

__ADS_1


"Hhm ..." sahut Zen dengan cuek. Kini dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan mulai memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


Malam ini terlihat dua sejoli yang sedang menghadiri sebuah acara pelelangan di sebuah gedung yang terbilang cukup mewah dan begitu luas. Sebuah tempat yang menyerupai sebuah teater bioskop, dengan sebuah panggung besar di depan dan ratusan kursi kemerahan yang sudah berjejer rapi menghadap panggung itu.


Si pria terlihat begitu gagah dan memiliki postur tubuh tinggi dan besar. Wajahnya juga menggambarkan dirinya memiliki kepribadian yang begitu tegas. Dia mengenakan setelan kemeja branded berwarna abu-abu.


Sedangkan si gadis terlihat begitu cantik, namun juga terlihat tegas dan sedikit garang. Dia mengenakan dress selutut press body yang menampakkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.


Terlihat tamu-tamu lainnya juga yang sudah menduduki kursi-kursi itu. Yang tentunya bukan tamu-tamu biasa. Mereka tentunya adalah orang-orang besar yang sangat berpengaruh untuk Kota dan Negara.


"Sayang, kau yakin cincin kuno itu akan mereka jual disini?" bisik gadis itu yang mendekatkan dirinya ke arah pria itu.


"Yeap. Aku sangat yakin! Dan aku akan memilikinya sesegera mungkin!" pria yang tak lain adalah Kagami Jiro itu menyauti dengan penuh percaya diri.


Barang demi barang mulai dikeluarkan dan segera dilakukan pelelangan untuk menemukan sang tuan barunya.


"Wanita ini masih perawan dan masih sangat polos. Dibuka dengan harga 1.000.000 yen." ucap pria itu melalui microphone.


"Bukankah ini namanya perdangangan manusia?!" ucap Yuna dengan nada sedikit tidak terima.


"Tenang, Sayang. Jangan emosi! Polisi saja tidak bisa campur tangan dalam perdagangan gelap seperti ini." sahut Kagami Jiro seadanya. "Wanita ini tidak melawan. Itu artinya, apapun alasannya ... dia sendiri yang bersedia berdiri di panggung lelang." imbuhnya dengan tenang. Dia menatap dan menjelaskan dengan lembut kepada gadis yang baru saja dinikahinya itu.


"Begitukah?"


"Iya, Sayang!" Jiro itu mengelus lembut kepala Yuna dengan senyum tipis.


"Dua juta yen!"


"Tiga juta yen!"


"Lima juta yen!"


"Sepuluh juta yen!"


Begitulah mereka saling bersahutan untuk memperebutkan gadis yang sedang berdiri di depan panggung lelang itu.


"Sepuluh juta yen sekali. Sepuluh juta yen dua kali. Sepuluh juta yen 3 kali. Terjual!" ucap si pembawa acara akhirnya.


"Astaga ..." Yuna merasa kesal dan menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Sepertinya moodmu sedang buruk, Sayang. Apa lebih baik kita pergi saja?" ucap Jiro yang mulai khawatir terhadap istrinya. "Aku akan meminta Igor untuk mendapatkan cincin kuno itu bagaimanapun caranya!"


"Baiklah. Kita pergi saja!"


"Okay!"


Kini keduanya bangkit dan mulai meninggalkan tempat pelelalangan ini. Mereka segera memasuki sebuah mobil mewah untuk menuju ke tempat berikutnya.


Jiro mulai memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri, kemudian dia mulai mencodongkan tubuhnya ke arah Yuna untuk memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya.


Namun karena Jiro yang sedikit usil, tiba-tiba saja dia malah mengecup singkat bibir Yuna saat sedang memakaikan sabuk pengaman itu.


"Ih ... kebiasaan deh!" celutuk Yuna dengan wajah yang sudah sedikit memerah.


Jiro hanya menanggapinya dengan tawa kecilnya yang begitu renyah, "Kita kembali saja ke hotel yuk! Bukankah kita harus melanjutkan keturunan dan menghadirkan Jiro junior?"


Seketika wajah Yuna semakin memerah setelah mendengar ucapan dari suaminya. Namun dia hanya terdiam dan tidak menjawabnya sama sekali.


"Karena tidak ada jawaban, maka aku anggap kau setuju!" celutuk Jiro dengan tawa kecil dan mulai menghidupkan mobilnya.


.


.


.


.


.


"Zen ... bangun! Kita sudah sampai di Beijing." ucap kak Kai sedikit mungguncang bahu Zen.


Bukannya bangun dan membuka matanya, kini Zen malah segera menarik dan memeluk tubuh kak Kai. Bahkan Zen berusaha untuk mencium kak Kai.


"Astaga anak ini pasti mimpi mesum! Bangun, Zen!" ucap kak Kai sedikit mendorong tubuh Zen.


Namun Zen malah semakin kuat memeluk kak Kai dan masih berusaha untuk menciumnya.


"Zen! Sadarlah!" kini kak Kai sedikit mendorong wajah Zen agar ciuman yang tak diharapkan itu tidak terjadi.


Perlahan Zen mulai membuka matanya dan setelah sadar dia segera melepaskan kak Kai.


"Astaga! Sory, Kak! Aku ... tadi mimpi sedang ..." Zen tidak melanjutkan ucapannya dan malah mengusap tengkuknya karena malu.


"Sudahlah. Bersiaplah! Pesawat sudah landing. Dan kita akan segera turun."


"Baiklah ..."


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2