
Zen masih berkonsentrasi mengemudikan Ferrary merah menyala itu dengan kecepatan laju standar. Sementara Christal yang sedang duduk di sampingnya terlihat menikmati pemandangan kota Beijing siang itu. Wajah mungil Christal terlihat begitu bersinar.
Meskipun matahari sudah menyinari kota besar itu, namun hawa dingin juga masih begitu dirasakan masyarakat kota Beijing. Namun memang tidak sedingin kala musim dingin.
"Christal. Setelah pulang dari panti asuhan kita ke rumah kak Kai ya. Kak Kai meminta tolong sesuatu kepada kita." ucap Zen memecah keheningan di dalam mobil kesayangan Zen itu.
"Okay. Tapi meminta tolong apa ya? Dan mengapa kita harus melakukannya bersama?" tanya Christal yang masih mengamati gedung-gedung megah yang baru saja dilaluinya.
Salah satunya adalah Roger Stirk Harbour dan Three World Trade Center Mitra. Gedung itu menunjukkan leveling singkat dari jumlah gedung tinggi yang dibangun di seluruh dunia.
"Hhm ... mengenai hal itu aku sendiri juga belum tau Christal. Kak Kai akan memberitahukannya saat kita sudah sampai disana." jawab Zen seadanya.
"Li Zeyan. sebelum aku kembali ke Jepang, maukah kamu menemaniku dan mengajakku berjalan-jalan di Beijing?"
"Tentu saja, Christal. Saat ini aku memiliki cukup banyak waktu untukmu. Karena aku sudah tidak terikat dengan mereka. Saat ini aku hanyah orang biasa yang tidak memiliki kesibukan seperti dulu lagi. Dan aku juga bisa menikmati duniaku dengan sangat santai saat ini." sahut Zen yang kini mulai menepikan mobil itu karena mereka sudah sampai di panti asuhan.
Sebenarnya bukan hanya anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya yang sudah meninggal saja yang menempati panti asuhan ini. Namun mereka juga mengempatkan anak-anak yang mengalami kekerasan, KDRT, penelantaran, atau tak bisa hidup bersama orang tua karena suatu alasan dalam sebuah panti sosial.
Setidaknya 80 % dari 38000 anak-anak yang bernasib malang itu akan tinggal di panti sosial tersebut, di mana 1 dari 7 anak tersebut akan menghabiskan hidupnya selama lebih dari 1 dekade di panti sosial. Sebenarnya hal itu sangat bertentangan dengan pedoman PBB yang menyebut bahwa anak-anak selayaknya tumbuh bersama keluarga!
Sungguh begitu malang nasib anak-anak itu. Saat Zen melihat anak-anak itu tentu saja akan membuat seakan Zen sedang melihat dirinya sendiri saat kecil di masa lalu. Hidup tanpa kedua orang tua, kehilangan kehangatan dan kasih sayang dari kedua.
__ADS_1
Tentu saja akan merasa begitu kesepian karena hanya memiliki seorang kakek saja yang hanya bisa menemaninya di saat-saat tertentu saja. Rasanya begitu menyesakkan, terlebih masa kecil Zen sangat jauh dari kehidupannya saat ini.
Masa kecilnya selalu menjadi bahan bulian dari teman-temannya yang selalu saja mengejeknya dengan caci maki yang begitu kejam. Bahkan mereka juga memanfaatkan tenaga maupun kekayaan Zen saja saat itu.
Zen yang sudah berdiri dengan tegap di hadapan gedung panti asuhan itu, kini terdiam cukup lama dan menatap nanar gedung berwarna cream itu. Namun tiba-tiba saja Christal mulai mengusap pelan bahu lebar Zen dan membuat Zen tersadar dari lamunannya.
"Ada apa, Li Zeyan?" tanya Christal yang masih menatap sisi samping wajah Zen. "Apa kamu baik-baik saja?"
"Hhm. Aku baik-baik saja. Ayo masuk!" sahut Zen lalu mulai melenggang menuju bangunan 5 lantai di hadapannya itu.
Christal mulai mengikuti Zen memasuki halaman bangunan kuno itu. Sementara beberapa pengawal Zen dan pengawal Kagami ada yang beberapa ikut bersama dengan mereka. Namun ada juga yang sedang menunggu di luar saja.
Di dalam kardus itu terdapat lima daikon atau lobak jepang dan kotak di dalam kotak styrofoam itu berisi dengan ikan yellowtail raksasa.
Sebenarnya daikon dan ikan mungkin adalah hadiah yang terbilang cukup aneh dan unik untuk dibawa ke panti asuhan. Namun sebenarnya ikan yang akan diberikan oleh Zen kepada anak-anak itu adalah jenis ikan winter yellowtail.
Jenis ikan musim dingin yang tegolong sangat mewah. Bahkan harga per ikan ini saja bisa bisa mencapai 2.200 yuan (sekitar Rp. 4.600.000) Tidak hanya membawa sayuran dan ikan, namun Zen yang menyebut dirinya pecinta makanan lautan ini juga sudah menyiapkan sebuah amplop yang berisi dengan 9.200 yuan ( sekitar Rp 20.000.000) untuk sedikit membantu pihak panti asuhan.
Anak-anak di panti asuhan itu terlihat begitu antusias saat melihat jika sedang mendapatkan kunjungan dari seorang idol besar yang berasal dari Beijing. Bahkan kunjungan itu ditemani oleh seorang kakak yang sangat cantik bagi anak-anak itu.
"Hallo ... kalian apa kabar?" sapa Zen dengan hangat, karena Zen sudah sangat lama tidak mengunjungi mereka semua.
__ADS_1
"Kami sangat baik, Kak Zen. Kami sangat merindukanmu!" seorang gadis kecil yang terlihat begitu menggemaskan menjadi nomor satu dan segera berlari ke pelukan Zen yang sudah jongkok menantikan mereka.
"Maaf kakak baru sempat datang lagi. Karena kakak sangat sibuk beberapa saat yang lalu. Tapi kakak akan mengusahakan akan sering datang dan mengunjungi kalian." sahut Zen dengan hangat dan mengusap kepala gadis kecil itu.
Sementara anak-anak lainnya juga sudah mulai mendatangi mereka dan berbaur bersama dengan tawa bahagia.
"Oh iya. Kenalkan, kakak ini adalah kak Christal." kali ini Zen mulai mengenalkan Christal kepada anak-anak itu.
"Hallo semuanya ..." sapa Christal dengan senyum lebar dan sedikit melambaikan tangan kanannya.
"Baiklah. Kakak membawakan ini untuk kalian." Zen melihat ke arah 2 kotak styrefoam yang sudah diletakkan di atas meja.
Anak-anak itu mulai mendatanginya dan melihatnya dengan bersemangat. Di dalam kotak styrofoam itu sudah ada dua ekor ikan yellow tail yang sangat besar sepanjang kira-kira 1 meter dan mempunyai berat masing-masing sekitar 8 dan 10 kg.
"Wah ikannya besar sekali!!" seru beberapa anak yang melihat ikan yellow tail itu.
"Ya, kalian makanlah yang banyak dan sepuasnya setelah koki memasaknya untuk kalian." sahut Zen dengan senyum lebar dan masih berada di antara anak-anak itu.
"Kak Zen ... apa kakak Christal itu kekasih kak Zen?" tiba-tiba gadis kecil yang paling dekat dengan Zen itu mulai menayakan hal itu dan sesekali menatap Christal yang berada tak jauh dari Zen.
Sebenarnya pertanyaan itu sungguh membuat Zen merasa bingung harus menjawabnya. Bukan karena tak mengakui Christal sebagai kekasihnya. Namun karena anak yang bernama Liu Yifei itu saat ini masih berusiah 6 tahun. Dan umurnya itu masih belum cukup tepat untuk memahami sebuah ikatan seperti kekasih.
__ADS_1