
Terlihat seorang pemuda berkacamata dengan pakaian berkabung serba putih / blacu yang masih duduk bersimpuh di depan sebuah meja yang berisi sebuah guci putih dengan ukiran bunga teratai di bagian luarnya. Ada juga makanan, buah-buahan, dupa, lilin, uang akhirat di atas meja itu.
Kak Kai berdiam diri dan memejamkan kedua matanya dan mungkin sedang berdoa untuk ibunya yang sudah tiada.
Zen segera melenggang pelan dan ikut duduk bersimpuh di sebelah kak Kai. Perlahan Zen mulai memejamkan sepasang matanya dan juga ikut mendoakan bibi Yixue.
Setelah beberapa saat, akhirnya kak Kai dan Zen mulai membuka matanya bersamaan. Dan keduanya saling menatap dengan haru, hingga akhirnya Zen menepuk dan mengusap punggung kak Kai.
Tak ada sepatah kata apapun yang terucap di antara keduanya. Hanya pandangan hangat satu sama lain yang saling bertemu dan dipenuhi dengan kerinduan, duka, dan haru.
...⚜⚜⚜...
"Zen ... mengapa kau datang kesini?" tanya kak Kai begitu lirih ketika keduanya kini duduk bersama di halaman samping rumah.
"Aku juga tidak tau. Tapi tubuh ini sangat menginginkan untuk bertemu denganmu dan menyusulmu ke desa Nahui Guizhou." Zen menyauti dengan lirih dan menatap langit malam yang kini sudah bertabur dengan bintang.
"Kakak minta maaf karena pergi begitu saja ..." ucap kak Kai dengan lirih.
"Tidak perlu meminta maaf padaku, Kak. Bibi Yi sedang sakit parah saat itu, aku sangat tau bagaimana perasaan kakak saat itu. Pasti kakak sangat ingin selalu bersamanya, menjaganya, merawatnya dan ingin selalu memberi kekuatan untuknya agar bibi Yi bisa bangkit, terus berjuang dan tetap bersemangat!" ucap Zen yang juga terdengar begitu lirih.
"Hhm ... semua ucapanmu sangat tepat, Zen." sahut kak Kai masih terdengar begitu pelan. "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa Vann menggantikan pekerjaan kakak dengan baik?"
"Yeap. Sangat bagus! Dan aku begitu menyukainya, karena dia tidak terlalu mengekangku!" jawab Zen dengan senyum tipis menggoda kak Kai. "Namun aku lebih menyukai saat kakak menjadi managerku! Maka dari itu lusa kembalilah bersama kami untuk ke Beijing!" imbuh Zen sambil melirik kak Kai dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Kak Kai terlihat sesaat tersenyum tipis setelah mendengar ucapan dari Zen, namun dia kembali terlihat murung lagi, "Lalu bagaimana dengan bibi Rong? Jika kakak kembali ke Beijing, maka bibi Rong akan hidup di Nahui Guizhou seorang diri."
"Kita bisa mengajak bibi Rong untuk tinggal di Beijing juga, Kak." Zen mengusulkan dan terlihat begitu bersemangat.
"Itu.tidak akan berhasil, Zen. Bibi Rong tidak akan pernah meninggalkan desa ini. Karena baginya, Nahui Guizhou adalah satu-satunya rumah untuknya."
"Kai, Zen ..." tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah bibi Rong yang sudah datang dan sudah berdiri di samping mereka.
"Bibi Rong kenapa belum tidur? Bibi harus istirahat yang cukup." ucap kak Kai.
"Hhm. Iya. Bibi hanya ingin ke dapur dan mengambil minum saja. Tapi bibi melihat kalian masih disini. Kalian juga harus istirahat." sahut bibi Rong.
"Iya, Bibi. Sebentar lagi kita akan segera tidur kok." sahut Zen dengan seulas senyum.
"Benar, kalian juga harus beristirahat cukup sebelum lusa kalian melakukan perjalanan panjang ke Beijing." ucap bibi Rong yang membuat kak Kai sedikit terkejut.
"Kau pikir bibi ini anak kecil yang harus selalu ditemani? Kau harus kembali ke Beijing seperti pesan dari mendiang Yixue. Lagipula suatu saat kau juga akan menikah dan akan punya keluarga sendiri. Kau akan tinggal bersama keluarga kecilmu. Lihatlah, umurmu sudah hampir 28 tahun! Itu adalah umur yang sudah cukup untuk menikah, Kai. Apa kau sudah menemukan gadis yang tepat?" celutuk bibi Rong yang malah mulai ceramah panjang dan lebar yang membuat kak Kai terdiam seketika.
Zen yang mendengarnya, kini tak sanggup untuk menahan tawanya,"Tenang saja, Bibi Rong. Kak Kai akan membawakan menantu sebentar lagi. Dia sudah menemukan gadis yang sangat baik hati dan cantik. Bibi Rong pasti akan sangat menyukainya ..."
"Zen, apa yang sedang kau bicarakan?!" sungut kak Kai yang terlihat sedikit tak terima.
"Intinya kau harus kembali ke Beijing bersama Zen! Jangan memikirkan hal lain lagi! Bibi akan baik-baik saja disini!" ucap bibi Rong kekeh. "Bibi akan beristirahat. Kalian juga cepatlah tidur, ini sudah sangat larut." ucap bibi Rong lalu berbalik dan mulai melenggang meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Kakak juga beristirahatlah ... jangan terlalu berlarut dalam kesedihan dan kakak juga harus tetap menjaga kesehatan. Jangan sampai kakak down." ucap Zen mengingatkan dengan hangat.
"Hhm. Zen ... kau sendiri bagaimana kabarmu? Beberapa hari sebelum kakak meninggalkan Beijing, kamu terlihat seperti sedang ada masalah." kini kak Kai sedikit melirik Zen yang masih menatap lurus memandangi langit malam yang begitu gelap.
"Kau boleh menceritakannya dan berbagi pada kakak ... dengan begitu akan terasa lebih lega ketika sudah membagi bebanmu." ucap kak Kai lagi.
Zen tersenyum hangat dan masih menatap langit malam yang begitu gelap dan dingin, "Aku baik-baik saja, Kak. Hanya sedikit lelah saja kok. Jangan khawatirkan aku."
"Lalu kakak juga melihat berita tentangmu dan juga Amee beberapa hari yang lalu. Dan Amee juga mengatakan akan mundur dari dunia entertaiment. Apa semua itu juga benar, Zen?"
"Hhm. Itu semua benar. Setelah ada paparazi yang mengambil beberapa foto kita, tiba-tiba saja Amee memutuskan untuk mengundurkan diri."
"Tapi kenapa?"
"Aku tidak tau, Kak. Tapi dia memutuskan akan membuat usaha kecil-kecilan membuat dan menjual pakaian yang akan dia design sendiri. Makanya kakak harus segera kembali ke Beijing, dan segera membantunya. Setidaknya beri semangat untuknya."
"Hhm ... iya. Baiklah, kakak akan kembali ke Bejing bersama kalian." kini kak Kai tersenyum menatap Zen.
"Nah, gitu dong!"
Keduanya saling melempar senyum dan sedikit terlihat lebih bahagia.
"Dan cepatlah menikah dengan Amee! Punya seorang istri itu enak loh. Setiap hari dia akan selalu mengurus dan memanjakanmu. Dan tentu saja dia akan menemanimu sepanjang hari. Disaat pulang ke rumah dan sangat merasa lelah karena semua kesibukan seharian, dia akan membuat kita merasa menjadi lebih baik dan tentu saja akan selalu memanjakan kita walaupun hanya sekedar dengan pijatan, ataupun sesuatu ..." ucap Zen mulai ngelantur dan memejamkan sepasang matanya.
__ADS_1
Nah loh ... lagi-lagi kak Kai dibuat melongo seketika karena ucapan Zen yang seakan begitu memahami dunia rumah tangga yang begitu harmonis. Padahal seorang Li Zeyan belum punya istri. Bahkan seorang Li Zeyan itu belum pernah pacaran!
...⚜⚜⚜...