Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Luka


__ADS_3

Senyuman hangat yang terukir manis di wajah Yuna seketika memudar karena mendengar ucapan itu, "Jika kamu tak menginginkanku untuk tetap berada disini, maka aku akan pergi." ucap Yuna begitu lirih. "Dan mungkin aku memang tak akan pernah bisa menggantikan sosok Amane di hatimu."


Yuna memalingkan pandangannya karena tiba-tiba saja sudah ada sesuatu yang begitu hangat membasahi kedua pipinya yang putih dan lembut itu.


Kagami Jiro yang mendengar ucapan Yuna sungguh dibuat berpikir keras saat ini.


Mengapa Yuna berkata seperti itu kepada bocah Li Zeyan? Atau jangan-jangan ... kita sudah bertukar tubuh kembali?


Batin Kagami Jiro lalu melihat tangan kirinya dan membolak-balikkannya. Terlihat sebuah tangan yang berukuran cukup besar dan kekar. Lalu Kagami Jiro juga melihat tubuhnya sendiri. Dia melihat tubuh yang besar, kuat, kekar, begitu perkasa dan dipenuhi dengan banyak tato.


Sebuah senyuman lebar mulai menghiasi wajah sangarnya saat ini hingga melupakan perasaan Yuna yang sedang terluka karena cemburu buta kepada Amane yang bahkan sudah tiada.


Ini adalah tubuhku! Tubuh yang sangat kuat, besar, kekar, dan sangat perkasa! Ahaha!! Akhirnya aku sudah kembali lagi!


Batin Kagami Jiro lalu melompat dari ranjangnya dan segera bercermin pada sebuah kaca di dalam ruangan rawat itu.


Seorang pria dewasa dengan wajah sangarnya terlihat sedang tersenyum bahagia. Wajahnya terlihat begitu bersinar karena suasana hatinya yang sungguh begitu baik saat ini. Wajahnya terlihat begitu bersih, tanpa ada beberapa rambut pada bagian wajahnya seperti kumis, dagu, ataupun cambang.


Karena selama ini Li zeyan selalu merawat wajah itu dan selalu mencukur semua bulu-bulu pada wajahnya hingga habis dan bersih.


Ini benar-benar aku! Ini adalah tubuh dan wajahku! Akhirnya aku sudah kembali lagi! Oh ... terima kasih, Tuhan.


Batin Kagami Jiro masih mengusap dan meraba wajahnya sendiri bagian demi bagian. Senyuman itu juga masih menghiasi wajah sangarnya.


"Baiklah. Aku akan pergi ..." ucap Yuna begitu lirih dan sudah meraih salah satu sling bag kesayangannya. "Jika membutuhkan sesuatu kau bisa memanggil suster saja." Yuna mulai melenggang dan bersiap untuk meninggalkan ruangan rawat ini.

__ADS_1


Langkah kakinya terasa begitu berat, namun apalah daya ... jika suaminya saja tak menginginkan keberadaannya disini, maka lebih baik Yuna pergi saja.


"Apa?" ucap Kagami Jiro yang terdengar begitu terkejut. Karena sedari tadi pria dewasa itu malah melupakan keberadaan Yuna. "Sayang ... maaf ... tolong jangan pergi." ucapnya berusaha untuk mengejar Yuna, lalu meraih lengan Yuna dengan tangan kirinya.


"Tolong jangan pergi, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat membutuhkanmu. Tolong jangan pergi, Sayang!" Kagami Jiro berhasil menahan Yuna dan kini keduanya saling bertatapan selama beberapa detik.


Kagami Jiro menatap Yuna dengan penuh haru dan rasa bahagia. Namun tidak untuk Yuna, dia menatap Kagami Jiro penuh dengan sebuah kekecewaan dan kesedihan yang membuat hatinya begitu sakit dan nyeri.


Bagaimana tidak sakit? Jika tiba-tiba saja seorang istri mengetahui sebuah kebenaran bahwa ternyata suaminya memiliki seorang putri bersama wanita lain. Bahkan mereka memiliki putri itu lebih awal, sebelum sang pria menikahi istri sahnya. Tentu saja Yuna masih begitu shock dan kecewa dengan kenyataan itu.


"Yuna ..." Kagami Jiro menatap haru wanita yang sudah 3 tahun dinikahinya itu lalu meraih dan memeluknya dengan begitu erat.


Tak melawannya, Yuna mengikuti saja kemauan Kagami Jiro, karena raganya juga merasa begitu merindukan sosok suaminya meskipun hatinya masih begitu nyeri mengingat apa yang sudah terjadi.


"Yuna ... tetaplah disini bersamaku. Jika kamu pergi, siapa yang akan merawat dan menjagaku, Sayang?" ucap Kagami Jiro dengan lembut dan mengusap kepala Yuna dengan tangan kirinya, karena saat ini tangan kanannya sedang di gips.


Suamiku sedang sakit, sebaiknya aku tak menambah beban dan rasa sakitnya dengan pemikiran kolotku. Sebaiknya hanya fokus untuk kesembuhannya dulu saja.


Batin Yuna lalu mulai membantu Kagami Jiro untuk kembali ke brankarnya dengan memapahnya. Hingga akhirnya Kagami Jiro kembali duduk di atas brankarnya.


Kagami Jiro terus saja menatap wajah ayu Yuna dengan senyuman misteriusnya. Sementara yang ditatap malah menyibukkan diri dengan hal lainnya, seperti merapikan barang-barang yang tergeletak di atas nakas.


Sudah 4 bulan aku merasa begitu kesepian. Aku sangat merindukanmu, Yuna. Batin Kagami Jiro yang masih saja menatap Yuna.


"Sayang ..." alunan maskulin itu membuat Yuna menghentikkan aktifitasnya.

__ADS_1


"Hhm. Ya ... ada yang sedang kau inginkan saat ini?" ucap Yuna tanpa menatap Kagami Jiro sama sekali.


"Aku ingin kamu ... kemarilah sayang ..."


Entah harus merasa sedih atau bahagia saat ini. Namun rasanya masih begitu sesak. Lagi-lagi Yuna tak menjawab ucapan dari Kagami Jiro, namun tubuhnya masih dengan patuh mengikuti perintah dari suaminya dan mulai mendekati pria dewasa itu.


Yuna tak mampu untuk memandang wajah itu, hingga akhirnya dia hanya menunduk dan menyembunyikan wajah ayunya yang masih begitu murung.


"Sayang ... ada apa? Mengapa kau terlihat begitu murung dan bersedih seperti ini?" suara dengan intonasi yang begitu lembut kini mulai terdengar kembali setelah sekian lama.


Karena tentu saja cara berbicara seorang Kagami Jiro dan Li Zeyan sangatlah berbeda selama ini.


"Katakan padaku ... ada apa? Apa yang sedang mengganggu hati dan pikiranmu saat ini?" ucap Kagami Jiro membelai lembut sisi kanan wajah Yuna.


Namun Yuna masih saja menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan dengan menggigit bibir bawahnya.


"Tidak, Sayang. Aku begitu memahamimu ... jika kau seperti ini, itu berarti sedang ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini." Kagami Jiro tersenyum tipis lalu meraih dagu indah Yuna dan mendongakkannya menghadapnya.


Namun Yuna malah terlihat semakin menahan tangisnya kali ini. Sepasang mata beningnya mulai semakin berair, hingga akhirnya tangis itu mulai pecah kembali karena ditatap hangat oleh suaminya.


Begitulah wanita, semakin ditenangkan maka malah semakin mewek. Karena pada dasarnya hati seorang wanita memang sangatlah lembut dan mudah tersentuh. Karena wanita bertindak dan berpikir dengan menggunakan perasaannya. Berbeda dengan laki-laki yang selalu saja berprinsip dan bertindak dengan menggunakan logika. Hayoo para wanita mengakulah!


"Yuna ... apa apa sebenarnya?" Kagami Jiro semakin kebingungan karena melihat Yuna yang malah semakin terisak.


"Mengapa selama ini kamu membohongiku?" ucapnya dalam isak tangisnya dan sesekali Yuna membungkam mulutnya dengan punggung telapak tangannya. "Mengapa kamu tega melakukan semua ini padaku? Hiks ..."

__ADS_1


"Membohongi soal apa, Sayang? Aku tak pernah berbohong soal apapun padamu. Aku selalu mengatakan semuanya kepadamu." ucap Kagami Jiro dengan jujur.


Pria dewasa itu mulai menyeka air mata Yuna dan terlihat begitu sakit saat melihat wanita yang sangat dicintainya menangis seperti itu.


__ADS_2