Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Keputusan Kak Kai


__ADS_3

Kak Kai mulai menatap Amee, dan dia masih berusaha untuk tersenyum meskipun suasana hatinya saat ini sedang sangat berantakan.


"Amee ... kamu harus lebih tegar dalam menjalani hidupmu kelak, kamu harus hidup dengan baik, kamu harus selalu kuat! Kamu juga akan sukses dengan Xmee! Dan kamu juga harus selalu bahagia, meskipun tidak ada lagi kakak. Tetaplah tersenyum dan menatap langit. Jalanmu masih panjang, laluilah dengan lebih baik lagi. Meskipun kakak sudah tidak disini, bukan berarti kakak tidak akan mendoakanmu lagi. Doa kakak akan selalu menyertaimu dimanapun kamu berada." ucapan yang terdengar begitu hangat dan lembut itu kini malah semakin membuat Amee menumpahkan air matanya, hingga membasahi pipinya yang putih dan mulus itu.


"Kakak ..." ucap Amee yang terdengar begitu parau dan membungkam mulutnya dengan punggung telapak kanannya.


Kak Kai mulai turun dari brankarnya dan mulai mendatangi Amee.


"Berjanjilah kepada kakak untuk selalu hidup dengan baik, Amee. Kau gadis yang sangat baik, semoga selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Dan semoga suatu saat akan ada seorang pria yang bisa selalu menjagamu dengan baik. Kakak pamit ya ..." ucap kak Kai dengan berat.


Amee semakin menangis sesegukan karena rasanya begitu sakit dan terpukul saat menyadari inilah detik-detik terakhirnya bersama kak Kai. Perlahan kak Kai meraih dan memeluk gadis cantik itu.


"Amee. Kamu harus tetap melanjutkan hidupmu dengan baik, meskipun tanpa kakak." kak Kai mengusap pelan rambut Amee dan berusaha untuk sedikit menenangkannya.


"Tak bisakah aku ikut bersama kakak saja?" ucap Amee memberanikan diri.


Kak Kai mulai melepas pelukannya dan kini sedikit menunduk menatap Amee yang sudah beruraian dengan air mata. Perlahan kak Kai mulai menyeka air mata Amee dan tersenyum tipis.


Cara lembut malah akan menyulitkanmu, Amee. Sepertinya aku harus memakai cara yang berbeda agar kamu bisa melepaskanku dan segera melupakanku. Maafkan kakak, karena kakak ingin kau tetap melanjutkan hidupmu meski tidak bersama denganku.


Batin kak Kai lalu merubah mimik wajahnya dengan menghiasinya dengan senyuman yang terlihat sedikit menyebalkan.


"Amee, tolong jangan berlebihan seperti ini. Asal kamu tau ... selama ini kakak hanya memanfaatkanmu saja. Kakak sengaja mendekatimu hanya untuk menjatuhkan dan menyerang mental Zen. Hhm, untuk membuat Zen terpuruk dengan menyerang mentalnya!" ucap kak Kai sambil berjalan mendekati meja disamping brankar untuk merapikan sedikit barang-barangnya.


"Apa maksud kakak?" Amee mulai berhenti menangis dan mengkerutkan keningnya menatap kak Kai begitu bingung.


"Selama ini kakak tidak pernah serius kepadamu! Semua kakak lakukan hanya karena untuk menghancurkan Zen saat itu! Jadi sekarang ... lebih baik kau melupakan kakak, Amee. Orang sepertiku tidak pantas kau tangisi."

__ADS_1


NYYUUTT ...


Rasa sakit dan sesak kini melanda Amee dan membuatnya begitu terpukul karena ucapan dari kak Kai. Rasanya nyeri sekali.


Gadis cantik itu kini menunduk dan terlihat begitu tak berdaya. Mungkin saja dunianya seakan runtuh seketika. Selama ini dia sudah berusaha mati-matian untuk melupakan Zen dan membuka hatinya untuk kak Kai. Dan disaat dia sudah benar-benar berhasil melakukan semua itu, kak Kai malah mengatakan jika kak Kai hanya menggunakan Amee sebagai sarana untuk balas dendam. Gadis mana yang tidak akan terpukul jika mendapat perlakuan seperti itu?


Rasa kecewa, kesal, dan marah kini berkecamuk menjadi satu di dalam dada gadis cantik itu hingga membuat lututnya begitu lemas seakan tak bertulang dan tak memiliki tenaga lagi.


Kak Kai menyamber sebuah coat hitam yang tergantung dan segera memakainya membalut tubuhnya setelah pakaian rawat itu. Setelah itu dia mulai meraih sebuah tas kecil dan berhenti menatap Amee dari samping.


"Kakak akan pergi ..." ucap kak Kai dengan tegas. "Selamat tinggal ..." imbuhnya lalu mulai melenggang meninggalkan kamar rawat itu.


Seketika tubuh Amee ambruk dan terduduk begitu lemas dan tak bertenaga. Tangisnya mulai pecah kembali, hatinya begitu sakit dan terluka saat ini. Kedua tangannya meremas dress yang saat ini dia pakai.


Tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Yang dia tau dirinya seakan sudah begitu terhempaskan dan hanya bisa menangisi keadaan ini.


Beberapa saat Amee masih saja menangis sesegukan di ruangan itu, hingga akhirnya pintu kembali terbuka dan terdengar derap langkah seseorang mulai mendekati Amee dari belakang.


"Amee ... apa yang terjadi? Dimana kak Kai?" terdengar suara pemuda yang begitu familiar memasuki indra pendengaran gadis cantik yang masih menangis sesegukan dalam duduknya.


Amee masih menangis dan tidak menjawab pertanyaan dari pemuda itu, hingga akhirnya pemuda itu mulai jongkok di hadapan Amee.


"Katakan padaku. Apa yang sudah terjadi, Amee? Dan dimana kak Kai? Mengapa kak Kai tidak ada disini? Apa dia pergi lagi?" pertanyaan bertubi dilontarkan oleh pemuda tampan bermata bak okavango blue diamond itu dengan dahi berkerut.


Amee mengangguk pelan dan masih menangis sesegukan.


"Mengapa bisa pergi lagi? Pergi kemana kali ini? Apa kamu tau sesuatu?" tanya Zen seakan tak percaya mengetahui kak Kai memutuskan untuk pergi lagi begitu saja.

__ADS_1


"Kak Kai ... dia akan meningalkan Beijing, Zen." ucap Amee begitu parau.


"Meninggalkan Beijing?" ucap Zen mengkerutkan keningnya dan terlihat begitu terkejut.


Amee menggangguk pelan dan masih menunduk.


"Tapi kenapa, Amee? Bukankah kak Kai sudah berjanji akan selalu bersamaku untuk menjadi manager sekaligus kakakku?"


"Kakek Li Feng meminta kak Kai untuk mengundurkan diri sebagai managermu dan memintanya untuk pergi meninggalkan Beijing." imbuh Amee dengan lirih.


"Kakek Li Feng?" seakan tak percaya mendengar ucapan dari Amee, Zen mengulangi pertanyaannya kembali.


Lagi-lagi Amee hanya mengangguk lemah dan masih beruraian air mata.


"Kamu tenang saja, Amee. Aku akan mencari dan menemukan kak Kai. Aku akan membawa kak Kai kembali dan kita akan bersama kembali."


"Zen ... kak Kai ... kak Kai hanya mempermainkanku ... dia tidak benar-benar serius dan menyukaiku ... dia menggunakan aku untuk menyakitimu."


"Apa dia mengatakan itu padamu?"


Amee mengangguk pelan dan masih menunduk.


"Tidak, Amee. Mungkin saja memang seperti di awal, namun dia benar-benar menyayangimu. Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja. Sekarang pulang dan istirahatlah! Aku akan segera mencarinya dan juga meluruskan semuanya dengan kakek Li Feng." Zen meraih kedua bahu Amee dan mulai mengajaknya untuk berdiri kembali.


"Hhm. Kamu selalu hati-hatilah ..."


"Yeap. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan bail-baik saja. Aku sekarang kuat, tidak seperti dulu lagi!" Zen tersenyum dan berusaha untuk menghibur Amee. "Sekarang pulanglah, Jin Heng akan mengantarmu."

__ADS_1


"Hhm ..." sahut Amee disertai anggukan pelan.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2