
Zen mulai mendatangi ruangan bermain itu lagi. Meskipun seorang tamu bisa leluasa saat bertamu di rumah itu, namun sudah banyak pengawal yang selalu mengawasi di setiap lorong. Dan juga banyak kamera CCTV pada rumah besar ini.
Ternyata si kembar sedang bermain bersama kak Kai. Kak Kai membantu membuat mainan mobil dengan menggunakan lego. Pria berkacamata yang sangat berkharisma dan dewasa itu terlihat begitu serius saat menyusun mainan itu. Sementara Kenzi dan Kenzou terlihat sedang mengawasi dan menunggu kak Kai dengan antusias.
Zen menghentikkan langkah kakinya saat memasuki ruangan itu, kedua tangannya masih dengan rapi dimasukkan pada saku celananya. Senyumnya mengembang menyaksikan semua itu.
"Kak Kai!" panggil Zen tiba-tiba. "Ajak Amee menikah dan buat yang beginian ..." celutuk Zen asal dengan kekehan kecilnya.
Bahkan keempat pengawal Zen terlihat sedang menahan tawa saat ini. Sementara kak Kai yang daritadi tersenyum seketika senyum itu seakan membeku begitu saja setelah mendengar ucapan Zen yang sedikit konyol itu.
"Seenaknya bilang buat! Kau fikir itu mudah, Zen?" kak Kai menyauti dengan nada sedikit aneh dan seperti tidak suka.
"Memang apa susahnya? Itu mudah sekali, Kak!" Zen menyauti dengan nada jenaka dan mulai berjalan mendekati mereka. "Apa aku harus menjelaskan mengenai pembuahan itu?" lagi-lagi Zen menjawab dengan asal dan seenak jidatnya sendiri.
Keempat pengawal lagi-lagi terlihat sedang menahan tawa, sementara kak Kai masih terdiam dan berusaha untuk tidak terpancing oleh omongan Zen yang mulai ngelantur.
"Zen, bukan itu maksud kakak. Menikah adalah sekali dalam seumur hidup. Dan tidak boleh sembarangan." sahut kak Kai dengan bijak dan masih merakit mainan lego itu.
"Bukankah kakak dan Amee sudah saling memilih dan cocok? Dan kalian juga terlihat sangat serasi." kini Zen ikut duduk bersilang dan mulai bermain bersama. Dia meraih beberapa lego dan mulai membuat sesuatu.
"Amee masih sangat muda. Karirnya juga masih panjang." sahut kak Kai dengan tenang dan wajahnya kembali teduh.
"Hhm ... benar juga." sahut Zen seadanya. "Tapi ngomong-ngomong ... aku sangat ingin tau ... apakah Amee pernah dekat denganku sebelumnya?"
Kak Kai menghentikkan aktifitasnya beberapa saat lalu mulai menjawab pertanyaan dari Zen, "Iya. Amee adalah sahabat kecilmu, Zen. Hanya dia yang selalu ada untukmu sebelum kakak hadir di kehidupanmu." kini kak Kai menatap Zen dengan begitu teduh.
"Dia begitu baik dan tulus. Kakak tau itu semua karena kamu yang menceritakannya kepadaku saat itu." imbuh kak Kai lagi dengan pelan.
"Iya. Dia sangat baik ..." ucap Zen tanpa sadar. Jiwanya sekarang mungkin adalah Kagami Jiro, namun darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah milik Zen seutuhnya. Jadi keduanya sudah sangat terikat dan saling bergantung, dan mungkin saja Jiro juga merasakan sedikit apa yang telah dirasakan oleh Zen.
"Ehm. Iya ..." kak Kai tersenyum hangat dan melanjutkan rakitannya kembali.
__ADS_1
"Nah ... kakak sudah buatkan senjata api. Kenzi suka kan dengan mainan senjata api?" dengan senyum lebar Zen mulai menyerahkan hasil rakitannya yang membentuk sebuah senjata api untuk Kenzi.
"Hore ... terima kasih, Kakak ganteng!" celutuk Kenzi dengan lucu.
"Sama-sama." Zen mengusap kepala Kenzi dengan gemas.
"Ayah selalu membuatkan Kenzi mainan seperti ini lho ..." celutuk Kenzi yang seketika membuat senyum pada wajah Zen sedikit memudar.
"Nah. Yang mobil untuk Kenzou ya ..." kini kak Kai menyerahkan hasil rakitannya yang membentuk sebuah mobil truk untuk Kenzou.
"Asyik ..." sahut Kenzou dengan riang.
"Kau begitu mengetahui banyak tentang keluarga ini. Bahkan kesukaan dari Kenzi dan Kenzou kau juga sangat mengetahuinya, Zen ..." ucap kak Kai sambil membuat bentuk lainnya lagi.
"Aku hanya asal saja kok. Anak-anak pasti sangat menyukai permen, coklat dan mainan bukan?" sahut Zen lalu kembali meraih lego lainnya untuk membuat bentuk lainnya lagi.
Yuna kembali datang dan mulai mengawasi dari ambang pintu. Kedua tangannya disilangkannya di bawah dada. Tatapannya sangat tajam menatap Zen dan kak Kai yang sedang duduk bersilang di atas karpet yang begitu lucu itu.
Batin Yuna mulai menerka-nerka dan berusaha mencari jawaban dari semua pertanyaannya itu.
Setelah beberapa saat akhirnya Kak Kai segera mengajak Zen untuk pamit, karena mereka masih harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Kagami Jiro.
"Nyonya. Kita pamit dulu. Tapi aku juga meminta ijin juga untuk menjenguk tuan Kagami Jiro." ucap Zen dengan ramah.
"Kau mau ke rumah sakit?" tanya Yuna yang terdengar begitu dingin.
"Benar. Pesawatku akan segera berangkat 3 jam lagi. Jadi aku akan mengunjungi tuan Kagami Jiro dulu."
"Kebetulan aku sedang ingin ke rumah sakit. Kau bisa berangkat bersamaku!" ucap Yuna dengan tegas. "Manager Kai, apa boleh artismu berangkat bersamaku?" kini Yuna menatap kak Kai untuk meminta ijin darinya.
Kak Kai hanya melirik Zen dan bingung harus berkata apa. Kalau boleh jujur sih tentu saja jawabannya tidak boleh! Karena Zen adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab kak Kai saat ini. Jika terjadi sesuatu terhadap Zen, tentu saja dia juga akan repot.
__ADS_1
"Tenang saja! Dia akan aman bersamaku! Pengawal Kagami juga akan selalu menjagaku!" ucap Yuna lagi.
"Iya. Aku akan berangkat bersamamu!" jawab Zen dengan cepat. "Benar begitu kan, Kak Kai?" kini Zen mengalihkan pandangannya dengan senyum lebar menatap manager berkacamata itu.
"Oh ... baiklah. Aku akan mengikuti dari belakang." sahut kak Kai dengan berat dan terlihat sangat terpaksa.
"Baiklah! Jangan mengulur waktu lagi! Ayo berangkat!" Yuna segera berbalik dan melenggang lalu diikuti oleh Zen dan kak Kai.
.
.
.
.
.
"Kau bisa menyetir?" tanya Yuna masih dengan nada cuek dan dingin seperti biasanya.
Zen tersenyum samar mendengar ucapan Yuna dan mulai menjawab pertanyaan yang baginya begitu lucu itu. "Tentu saja aku bisa, Nyonya Jiro!"
"Okay! Kamu yang menyetir!" Yuna segera menyerahkan sebuah kunci kepada Zen lalu mulai memasuki sebuah mobil mewah Mclaren FI LM-Spec Supercar berwarna silver.
Yuna sudah duduk di sebelah kursi kemudi, dan Zen segera memasuki mobil itu. Zen mulai memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri dan reflek dia berniat untuk memakaikan sabuk pengaman Yuna karena biasanya memang seperti itu. Biasanya Kagami Jiro akan membantu istrinya memakaikan sabuk pengaman itu.
Namun tiba-tiba saja Zen menghentikkan niatnya saat tangannya sudah hampir menyentuh sabuk pengaman milik Yuna. Dia baru saja menyadari kecerobohannya saat ini.
Yuna hanya menatap Zen dengan bingung dan mengernyitkan keningnya. Bukan marah atau kesal seperti biasanya, namun ekspresi Yuna kini lebih seperti sebuah rasa penasaran.
__ADS_1