
"Cut ..." teriak sutradara A Meng dengan menggunakan toaknya dan seketika semua crew menyudahi aktifitasnya.
Zen melangkah lebar dan mulai beristirahat di sebuah kursi. Ada seseorang yang mulai menyeka keringat Zen dan kak Kai juga memberikan minuman dingin untuk Zen.
"Bagaimana istirahatmu semalam? Apa kau tidur dengan nyenyak semalam?" tanya kak Kai yang sudah duduk di sebelah Zen.
"Yeap. Semalam aku langsung tidur saat sampai di appartement. Bahkan aku tidak mandi karena ngantuk sekali!" jawab Zen sambil meneguk minuman dinginnya lalu menatap kak Kai dengan senyum nakal. "Lalu bagaimana semalam dengan Amee? Apa terjadi sesuatu?"
Tatapan kak Kai masih sangat serius bahkan tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"Tidak terjadi apa-apa ..." kak Kai menyauti lalu memandang lurus ke depan dan mengernyitkan kening.
"Pria baik ..." Zen tertawa kecil dan menepuk-nepuk bahu kak Kai. "Setidaknya menikah dulu baru lakukan ..." imbuh Zen dengan tawa kecil.
Kak Kai melengos ke arah Zen masih dengan ekspresi yang sama. Memandang Zen dengan aneh dengan kening berkerut.
Kak Kai mulai membuka ponselnya untuk melihat schedule Zen hari ini yang sudah dia salin dari laptopnya.
Ternyata setelah syuting Zen akan ada pemotretan di YF entertaiment. Hhm ... apakah dia akan bertemu dengan Amee hari ini? Amee bilang hari ini akan ada pemotretan bersama salah satu model YF Entertaiment. Apakah jangan-jangan model itu adalah Zen? Ahh!! Mengapa aku bisa melewatkan hal sepenting ini?!
Batin kak Kai lalu berusaha menghubungi Amee dan menjauh dari Zen. Berulang kali kak Kai mencoba menghubungi Amee, namun ponselnya sedang tidak aktif.
Raut wajah kak Kai kini terlihat begitu khawatir, tetapi dia tidak jera untuk kembali menghubungi Amee.
Kemana dia? Mengapa ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi? Apakah sedang pemotretan? Kalau memang iya, berarti harusnya aku sedikit lega karena model itu bukan Zen!
Batin kak Kai yang masih berusaha menghubungi Amee.
Karena tetap tidak ada jawaban, akhirnya kak Kai memutuskan untuk kembali bersama Zen.
"Apa apa? Kenapa terlihat begitu kesal?" tanya Zen seolah bisa membaca pikiran kak Kai.
"Tidak. Bukan apa-apa." sahut kak Kai sambil mengambil naskah milik Zen dan mulai membacanya sekilas. "Scene selanjutnya adalah adegan romantis. Bahkan ada adegan kissing."
Sepasang mata kebiruan Zen otomatis melotot mendengar ucapan kak Kai.
"Jangan bercanda! Aku bahkan belum membaca naskah selanjutnya!" ucap Zen lau merebut naskah itu dari kak Kai dan segera membacanya.
__ADS_1
Raut wajah Zen terlihat begitu serius saat membaca naskah itu. Sepasang mata bak okavango blue diamond itu membulat dengan sempurna. Sementara kak Kai hanya mengkerutkan keningnya menatap Zen.
"Carikan stuntman untuk menggantikanku saat adegan ciuman!" perintah Zen tiba-tiba.
Kak kai mengambil nafas beberapa saat dan menghembuskannya perlahan, "Mana bisa seperti itu, Zen! Saat adegan itu tentu saja camera akan fokus kepada main character. Jika digantikan oleh stuntman maka akan sangat kentara. Dan itu tidak baik."
"Gila! Mana bisa aku berciuman!" celutuk Zen tak terima.
"Bukankah kau sudah berjanji padaku akan lebih profesional jika kakak merubah jadwal penerbanganmu kemarin? Jadi tolong lakukan saja, Zen!" ucap kak Kai sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Wah ... wah ... wah ... benarkah aku mengatakan hal seperti itu?!" kilah Zen dengan tawa kecil.
"Lakukan dengan baik, Zen! Kau pasti bisa!" ucap kak Kai memberikan semangat untuk Zen.
Haishhhh ... berciuman dengan Jia Li? Seperti seorang om-om yang sedang melakukan hal mesum kepada keponakannya sendiri! Bisa gila aku!
Batin Zen yang terlihat begitu kesal.
"Lakukan semua pekerjaan dengan baik dan bulan depan kita akan ke Jepang lagi." ucap kak Kai dengan senyum lebar menatap Zen.
"Kau maunya berapa hari?"
"Satu minggu!"
"Empat hari!"
"Haishh ..." ucap Zen yang terlihat begitu kesal.
"Lima hari!"
"Baiklah lima hari!" sahut Zen masih dengan wajah kesal.
"Deal!" sahut kak Kai tersenyum puas.
"Semua berkumpul dan lanjutkan scene berikutnya!" perintah sutradara A Meng melalui toaknya.
"Semangat!" kak Kai menepuk bahu Zen dan tersenyum manis. Sementara Zen mulai bangkit dengan wajah malas. Dia melenggang dan diikuti oleh seorang asisten yang memayunginya karena cuaca hari ini sedikit panas.
__ADS_1
Sial! Berani-beraninya mereka mempermainkan seorang Kagami Jiro! Pemimpin dari Doragonshadou! Andai saja jiwaku merasuki orang yang biasa-biasa saja, mungkin akan lebih menyenangkan dan leluasa bertindak! Tapi aku malah terjebak dalam tubuh seorang idol besar! Sial!! Maafkan aku istriku! Aku harus melakukan semua ini karena saat ini aku adalah seorang Li Zeyan, Idol nomor 1 saat ini.
Batin Zen yang sudah bersiap bersama Jia Li di lokasi shooting.
"Kau sudah membaca naskahmu, Zen?" tanya Jia Li dengan senyum manisnya.
"Hhm ... sudah. Lakukan semua dengan benar agar cepat selesai!"
"Tentu saja! Kita kan sudah pernah melakukannya sebelumnya!" Jia Li menyauti dengan kekehannya.
"Hhm ..."
"Baiklah. Camera! Action!" teriak sutradara A Meng mulai memberi aba-aba.
Sial! Sial! Apakah aku benar-benar akan melakukan hal gila ini? Bahkan semua orang sedang melihat kita saat ini?
Batin Zen yang mulai menatap sekelilingnya.
"Cut!" teriak sutradara A Meng tiba-tiba. "Zen! Fokuslah sedikit! Pandanglah Jia Li dengan memakai bahasa mata yang memukau seperti biasanya dan mulai berciuman!"
"Ah! Iya! Iya! Aku paham. Ayo mulai lagi!" ucap Zen dengan cuek.
"Baiklah. Camera! Action!"
Zen mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Sebenarnya soal hal seperti ini sih sangat mudah sekali kulakukan! Sebelum menikah aku adalah seorang pria yang sering menjalin ikatan dengan beberapa gadis sekaligus! Dan aku sering bermain-main dengan mereka. Namun setelah mengenal Yuna aku mulai meninggalkan kebiasaan bermain dengan para wanita. Dan juga setelah menikah dengannya, hanya dia dia satu-satunya wanita yang aku sentuh. Haishhh ... maaf Yuna. Aku melakukan semua ini karena pekerjaanku saat ini adalah menjadi seorang Idol. Semoga polisi tidak menangkapku karena aku telah melakukan tindakan seperti itu kepada gadis yang berumur jauh dariku.
Batin Zen yang mulai memberikan tatapan menghanyutkan saat menatap lawan mainnya. Jia Li juga sepertinya sudah sangat menikmati scene ini.
Jia Li berpegangan pada kedua lengan Zen yang kini sudah sedikit kekar dan berotot. Jia Li mulai berjinjit dan mendongak untuk menyambut sesuatu dari Zen. Sementara Zen mulai melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Jia Li dan sedikit menunduk.
Perlahan keduanya saling berdekatan, dan Zen mulai sedikit memiringkan wajahnya hingga akhirnya kiss scene itu terjadi. Terjadi begitu natural dan lancar seperti yang biasa dilakukan oleh Zen yang asli.
Oh astaga ... Ini pertama kalinya aku berciuman dengan gadis lain setelah menikah.
Batin Zen yang kemudian menyudahi scene itu perlahan. Namun tatapannya masih begitu hangat menatap Jia Li seperti naskah dan jalan cerita dalam film itu.
__ADS_1