
Seorang pemuda berambut jabrik terlihat begitu terburu-buru mendatangi seorang pria berkacamata yang tak lain adalah kak Kai. Dia kembali mengatur napasnya setelah duduk di samping pria berkacamata itu.
"Bai Xi. Kau baik-baik saja?" tanya kak Kai yang melihat pemuda itu sedikit terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.
"Yahh ... aku baik-baik saja, Kak Kai." sahutnya lalu mengeluarkan sebotol minuman dari ranselnya dan mulai meneguknya. "Ada anjing di gang dekat rumah sakit dan tiba-tiba saja dia mengejarku. Hhuuft ... menyebalkan! Untung saja ada seorang gadis yang menolongku."
"Kau ditolong oleh seorang gadis? Bagaimana ceritanya?" kak Kai memasang wajah begitu kebingungan.
"Gadis itu memberikan beberapa potong daging yang baru saja dibelinya, akhirnya anjing itu berhenti mengejarku." cerita Bai Xi yang masih terlihat mengatur napasnya. "Kak, bagaimana keadaan Zen, Jancent dan Li Lian?"
"Zen terkena luka gores pada tangan dan juga perutnya terkena sayatan. Li Lian terkena serpihan pecahan tabung reaksi pada bagian wajah kirinya sehingga robek dan dijahit." ucap kak Kai lalu mengambil napas sesaat dan melepaskannya perlahan.
"Astaga! Li Lian dan Zen terluka cukup parah! Lalu bagaimana dengan Jancent? Aku melihat tadi dia terus mengaduh dan memegangi matanya."
"Benar. Jancent terluka paling parah. Serpihan pecahan dari tabung reaksi itu masuk ke dalam matanya dan melukai bola matanya. Dan sekarang dia sedang menjalani pemeriksaan penunjang dengan ultrasonografi atau CT-scan bersama dokter spesialis. Karena diperlukan untuk mendeteksi keberadaan pecahan kaca di dalam bola mata." kak Kai menyauti dengan begitu murung.
Meskipun kak Kai tidak terlalu mengenal Jancent, namun membayangkan Jancent akan menjadi cacat sungguh membuatnya terpukul. Terlebih ketika melihat sosok ibu Jancent yang begitu terpukul dan menjadi semakin lemah ketika melihat putranya mengalami hal inim
"Oh my God! Kasihan sekali Jancent. Semoga dia bisa baik-baik saja ..." ucap Bai Xi yang terlihat begitu shock namun penuh harap.
"Hhm ... ini akan sangat mengancam penglihatannya. Namun, semoga saja Xia Feii bisa mengatasinya dengan baik!" harap kak Kai menautkan kedua jemarinya dan menatap nanar arah pintu ruangan rawat di hadapannya.
Tiba-tiba Lee, Lin Fang dan juga Sang Yuan Yi melenggang begitu di hadapan mereka saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kini mereka bertiga memasuki kamar rawat Li Lian yang di dalamnya sudah ada Zhang Wei yang sedang menunggu dan menjaga Li Lian.
"Bai Xi, aku akan masuk untuk melihat Zen. Apa kau mau masuk?" tanya kak Kai yang mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Hhm. Aku akan menyusul nanti, Kak. Aku akan menghubungi kakakku dulu." sahut Bai Xi sambil merogoh ponsel dari dalam saku celananya.
__ADS_1
"Hhm. Baiklah ..." sahut kak Kai lalu meninggalkan Bai Xi begitu saja dan segera melenggang untuk memasuki ruanhan rawat Zen.
DDRRKK ...
Kak Kai mulai membuka sedikit pintu itu, dan tak sengaja mendengar Zen yang ternyata sudah sadar dan sedang menghubungi seseorang.
"Hhm. Kalian boleh bertemu bersama, tapi harus tetap berhati-hati. Untuk antisipasi saja ... khawatir jika semua bukti yang telah kita dapatkan adalah sebuah kebohongan untuk menjebak adikku." ucap Zen kepada seseorang melalui ponselnya.
Namun, Zen yang menyadari kehadiran kak Kai segera bergegas untuk mengakhiri panggilan itu.
"Ahaha. Okay, okay! Segera dapatkan bukti tentang ledakan yang terjadi di labolatorium Wan Chai Unniversity tempo lalu! Baiklah! Bye ..." ucap Zen kembali berakting di depan kak Kai lalu mengakhiri panggilan itu.
"Siapa yang kau hubungi, Zen?" selidik kak Kai lalu menarik sebuah kursi dan segera duduk di kursi itu.
"Hhm? Tentu saja Vann. Siapa lagi?" Zen menyauti dengan asal dan sedikit melirik kak Kai.
"Seperti yang kakak lihat. Aku baik-baik saja kok. Hanya luka gores pada lengan kiri dan luka gores di perut saja." jawab Zen begitu santai.
"Namun luka di perutmu itu cukup dalam lho, Zen. Kamu jangan banyak bergerak dulu ya."
"Hhm. Tenang saja. Jangan khawatir, Kak. Luka seperti ini saja bukan apa-apa!"
"Kamu ini selalu saja suka meremehkan luka ya akhir-akhir ini." ucap kak Kai sedikit mendengus. Raut wajahnya juga terlihat sedikit kesal menatap Zen. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi di ruang labolatorium?"
"Ini adalah murni karena kesalahan Jancent yang terlalu tinggi mengatur suhu destilasi sehingga meledak karena kelebihan pemanasan." sahutan Zen terdengar begitu malas, entah mengapa dia juga terlihat begitu kesal terhadap Jancent karena bertindak begitu ceroboh.
"Apa kau sudah tau keadaan Jancent sekarang?"
__ADS_1
"Tidak. Apa yang terjadi dengannya?" ucap Zen sedikit malas. Antara ingin dan tak ingin tau.
"Jancent terluka begitu parah, Zen. Serpihan pecahan dari tabung reaksi itu melukai bola matanya. Dan saat ini dia sedang menjalani pemeriksaan penunjang dengan ultrasonografi atau CT-scan bersama dokter dokter Xia Feii." ucap kak Kai dengan wajahnya yang sedikit murung.
"Apa kau serius, Kak?"
"Hhm ... dan ini sangat mengancam penglihatannya. Kasihan sekali dia ..."
Kini Zen terdiam dan terlihat sedikit menyesal. Yeap, Zen menyesali mengapa dirinya terlalu terlambat menyadari semua hal itu. Andai saja dia menyadarinya lebih cepat, mungkin saja ledakan itu tak akan terjadi. Dan tentunya Jancent tidak akan mengalami semua hal yang pastinya terasa sangat berat untuknya seperti saat ini. Bahkan dia terancam cacat!
Zen mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Pandangannya lurus menatap dinding di hadapannya. Rasa kesal, marah, menyesal, sedih semuanya berkecamuk menjadi satu.
"Aku ingin menemui Jancent ..." ucap Zen tiba-tiba.
"Saat ini dia masih menjalani pemeriksaan penunjang dengan ultrasonografi dan CT-scan bersama dokter dokter Xia Feii. Tunggu saja hingga pemeriksaan dan penanganan selesai baru kita menjenguknya."
DRRKK ...
Kini pintu terbuka kembali, terlihat seorang pemuda yang memiliki rambut jabrik mulai melenggang dengan langkah sedikit cepat mendekati brankar
"Zen!!" teriaknya sambil menghampiri Zen dengan mimik wajahnya yang terlihat seakan sudah lama tidak saling bertemu saja! "Bagaimana keadaanmu? Aku sungguh sangat khawatir padamu, Zen!"
"Aku akan selalu baik-baik saja, Bai Xi! Jangan berlebihan!" sungut Zen sambil mengupas lalu menikmati sebuah jeruk yang dibawakan oleh kak Kai yang terlihat begitu menggoda.
"Dasar! Meskipun begitu, aku akan tetap selalu mengkhawatirkanmu Zen. Karena biasanya, hanya karena sebuah luka gigitan nyamuk saja kau sudah ijin dan tidak masuk kuliah. Gyahahaha ... " sungut Bai Xi yang malah berakhir dengan sebuah candaan dan membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Jangan bicara omong kosong, Bai Xi! Aku tidak seperti itu! Kecuali diriku yang dulu! Namun, aku yang sekarang adalah bukan aku yang dulu!" sahut Zen menegaskan kembali.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...