Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Last Memory Before a Separation


__ADS_3

"Li Zeyan ... terima kasih karena sudah menemaniku hari ini. Aku sangat bahagia sekali. Aku sungguh tak pernah menyangka, jika aku bisa pergi bersamamu ... bahkan aku tak pernah mengira sebelumnya jika aku bisa bertemu denganmu ... menatapmu secara langsung ... berbicara denganmu ... bahkan untuk bisa menempati sebagian hatimu. Bahkan aku masih merasa ini hanyalah sebuah mimpi indah untukku." ucap Christal dengan senyum haru dan menatap keindahan malam kota Tokyo melalui Tokyo Skytree.


Dipenuhi dengan gemerlapan lampu kekuningan dan berwarna-warni yang begitu indah, menjadikan kota Tokyo menjadi begitu menakjubkan.


Yeap, setelah pulang dari pantai Habushiura sore tadi, kini mereka mulai mendatangi Tokyo Skytree sesuai dengan keinginan Christal, untuk mendatanginya bersama Zen.


"Christal, takdir seseorang tidak ada yang mengetahuinya. Aku juga tidak pernah menyangka sebelumnya jika aku akan begitu menyukai Jepang, mungkin ini adalah salah satu jalan takdir mempertemukan kita." ucap Zen mulai melenggang mendekati Christal.


Aku yang tak sengaja menempati raga tuan Kagami Jiro selama 4 bulan, membuatku perlahan menghargai hidup. Dan aku juga mulai terbiasa selalu bersama denganmu, dan mulai bergantung padamu. Bahkan aku merasa cukup bersedih ketika aku harus meninggalkan Jepang, dan meninggalkanmu. Dan mungkin pertukaran jiwa saat itu adalah cara takdir mempertemukan kita.


Batin Zen yang juga mulai menatap beberapa landmark menawan di hadapannya. Kini mereka berdiri bersampingan, menatap ke arah yang sama. Pemandangan yang begitu menakjubkan dan begitu hanganlt untuk keduanya.


"Besok aku akan meninggalkan Jepang. Berjanjilah kepadaku untuk menjalani hidupmu dengan baik. Kamu juga harus belajar dengan giat untuk memasuki sebuah universitas." ucap Zen yang sebenarnya begitu terasa berat.


"Aku akan mengingat semua itu, Li Zeyan. Aku akan melakukan yang terbaik! Kamu juga harus berjanji padaku akan baik-baik saat di Beijing!" ucap Christal mulai menoleh sedikit ke arah Zen dan mendongak. "Begitu banyak yang ingin mencelakaimu, bahkan jika mengingat Lu Yuan dan Zhang Wei yang berusaha untuk menyakitimu ... hingga melenyapkanmu saat itu ... aku merasa begitu takut luar biasa. Bahkan saat itu kamu terkena pisau dan racun yang sangat mematikan . Aku takut jika akan ada orang yang selalu berusaha untuk mencelakaimu lagi, Li Zeyan ..." ucap Christal yang tiba-tiba saja sudah mulai bersedih bahkan setetes air mata hangat tiba-tiba saja sudah mulai jatuh dan memsahi pipinya yang lembut.


"Christal ..." ucap Zen dengan hangat dan mulai memberanikan meraih jemari Christal. "Aku berjanji, aku akan baik-baik saja." imbuh Zen meyakinkan Christal dan menatap lekat sepasang manik-manik indah di hadapannya yang memiliki pantulan dari beberapa cahaya lampu yang begitu indah.


Christal tersenyum dan mengangguk pelan.


"Tapi kamu juga harus lebih berhati-hati sekarang. Tak hanya sekali atau dua kali para orang jahat juga berusaha untuk menyakitimu. Jangan mudah untuk mempercayai orang asing! Dan kamu tidak boleh pergi tanpa pengawal ..." Zen mengusap lembut kepala Christal. "Terlebih saat mereka berusaha untuk mencelakaimu saat mereka menculikmu di salah satu desa di kota Fujinomiya. Aku sangat khawatir saat itu ..."


Christal tersenyum penuh haru dan mulai menganghuk pelan, "Hhm. Aku akan lebih berhati-hati dan tidak akan pergi tanpa pengawal lagi. Kemanapun aku pergi aku akan selalu bersama dengan pengawalku."

__ADS_1


"Ya ... tapi aku harap kamu tidak akan berpaling dariku dan malah menyukai Key ..." tiba-tiba Zen terlihat sedikit murung dan mengkerutkan sepasang alis tampannya menatap gadis di hadapannya.


Christal yang mendengar ucapan dari Zen tertawa kecil lalu melempar dirinya ke pelukan Zen.


"Bagaimana mungkin aku bisa berpaling dan melupakanmu, Li Zeyan? Bagiku kamu adalah satu-satunya bintang untukku. Yang paling bersinar menyinari hidupku ..." ucap Christal meskipun sebenarnya cukup malu disaat dia mengatakan hal itu.


"Terima kasih, Christal." Zen mulai melingkarkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Christal.


"Seharusnya aku yang merasa khawatir, karena kamu selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Begitu banyak model dan aktris bak bidadari yang cantik jelita yang akan selalu menemani hari-harimu ..." celutuk Christal.


"Tapi bagiku kamu yang paling cantik ... dan kamu juga berhati baik dan tulus. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu. Andai kamu tau, Christal ... aku tidak mudah untuk jatuh cinta dengan seorang gadis. Dan kamu adalah gadis pertama ... ikatan pertamaku. Kamu tentu sangat tau bukan? Jika dulu aku tidak boleh menjalin hubungan bersama seorang gadis."


"Hhm. Aku tau ... makanya aku merasa sangat beruntung." ucap Christal semakin membenamkan kepalanya pada dada bidang Zen.


"Tidak, Christal. Akulah yang lebih beruntung karena bisa mendapatkan hatimu dan juga mendapatkan restu dari tuan Kagami Jiro. Apalagi selama ini begitu banyak pria yang berusaha untuk mendekatimu, namun semua tidak bisa mencapainya. Aku sungguh merasa beruntung sekali. Terima kasih ya ..." ucap Zen dengan tulus.


"Jaket leather on leather dariku?" gumam Zen mengkerutkan keningnya karena kebingungan.


Karena selama ini Zen tak pernah merasa sudah memberikan jaket apapun untuk Christal. Ataukah Zen yang sudah melupakannya begitu saja?


"Hhm. Saat konser di Saitama super hall, aku mendapatkan jaket itu saat kau melemparnya. Aku sungguh sangat beruntung!!" Christal tersenyum kembali dan tak pernah merasa bosan berada di dalam pelukan Zen.


"Konser di Saitama super hall? " gumam Zen pelan dan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


Itu berarti saat itu tuan Kagami Jiro-lah yang sedang melangsungkan konser saat itu. Dan ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa. Dari ribuan fans yang yang datang saat itu, mengapa harus Christal yang mendapatkan jaketku? Ahaha ... ini sungguh lucu sekali.


Batin Zen yang merasa begitu gemas karena sepertinya takdir memang menginginkan untuk mereka berdua bersama.


"Christal ..."


"Hhm ..."


"Jika memang kita akan ditakdirkan bersama nanti, apa kamu mau hidup bersamaku dan tinggal di Beijing? Meninggalakan seluruh anggota keluarga besarmu begitu saja ..."


"Meskipun cukup berat, namun aku akan selalu itut denganmu."


"Lihat aku ... aku ingin melihat wajahmu ... jangan terus bersembunyi pada pelukanku saja , Christal..." ucap Zen menggoda Christal.


Perlahan Christal mulai melepas pelukannya dan mulai mendongak menatap Zen. Zen sudah tersenyum dan mulai menatap lekat wajah Christal, seakan sedang berusaha untuk selalu mengingat setiap detail dari wajah Christal.


Cahaya lampu warna-warni sesekali juga terlihat menyinari wajah mungil dari gadis itu dan menjadikannya begitu cantik.


Bersambung ...


...⚜⚜⚜...


Hayo ada yang mau request nggak nih mau adegan apa untuk Christal dan Zen, sebelum mereka berpisah cukup lama.

__ADS_1


Tinggalkan di kolom komentar dan salah satu akan author selipin untuk adegan mereka. Ahaha ...


Kabur ah, sebelum kena getok kakak Christal yang sangar dan kejam.


__ADS_2