Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Hati Yang Gelap


__ADS_3

SRRAAKK ...


PRANG ...


BRAKK ...


Seorang pemuda terlihat begitu frustasi dan telah menyapu meja di hadapannya dengan kedua tangannya hingga membuat benda-benda di atas meja mulai jatuh berserakan di atas lantai.


Dadanya terlihat naik turun dan nafasnya mulai terlihat tak beraturan. Sepasang matanya mulai memerah dan menatap tajam layar televisi yang masih menyala dan sedang menayangkan siaran ulang dari jumpa pers yang telah dilakukan oleh Zen.


BRAKK ...


Lagi-lagi pemuda yang tak lain adalah Jiang Wushuang itu mulai menggebrak kembali meja di hadapannya. Amarahnya belum reda dan malah semakin memuncak.


"Li Zeyan ..." geramnya yang menatap layar televisi itu dengan raut wajahnya yang begitu kelam dan gelap. "Beraninya kamu mengambil keputusan ini!! Aku tak akan membiarkanmu hidup tenang mulai dari sekarang!! Agensi ayahku adalah agensi raksasa dan nomor 1 di negeri ini! Jangan main-main denganku! Kau tak akan pernah bisa meraih semua mimpimu itu, sekalipun kamu merangkak!! Aku akan memastikan semua itu!!" imbuh Jiang Wushuang mengepalkan kedua tangannya lalu mulai menendang kembali meja di hadapannya.


"Arrghh!! Dasar manusia sampah tidak tau diuntung dan tidak mau berterima kasih!! Akan aku pastikan kamu menderita karena telah begitu berani dan percaya diri mengambil keputusan ini! Dasar sampah tak berguna!! Arrgghh!!" Jiang Wushuang terus saja mencak-mencak dan semakin memporak-porandakan kamar pribadinya.


"Mengapa ayah diam saja melihat sampah itu melakukan semua ini?!" gumam Jiang Wushuang yang kini sudah mendaratkan kedua telapak tangannya di atas meja, sementara sepasang netranya masih menatap lurus ke depan namun kosong. "Sampah yang tak memiliki kedua orang itu benar-benar aku hancurkan!!"


BRAKK ...


Lagi-lagi pemuda yang masih berusia 23 tahun dan memiliki temperamen yang buruk itu menghantamkan kepalan tangannya menghantam meja kayu di hadapannya itu dengan sangat keras hingga berdarah.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


PLAKK ...


Jiang Lei terlihat begitu murka hingga menampar putra sulungnya yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan. Sementara Jiang Wushuang membelalakan sepasang matanya dan memegangi pipinya yang sudah menjadi merah karena tamparan sang ayah.


Rasanya Jiang Wushuang masih sangat tak percaya jika ayahnya akan semurka ini ketika dirinya meminta sang ayah untuk membalas perbuatan Zen atau setidaknya memberinya pelajaran untuk Zen.


"Ayah ... mengapa ayah malah membela sampah yatim piatu itu?! Aku ini anak kandungmu, Ayah!! Aku darah dagingmu!! Sampah yatim piatu itu sudah berbuat hal seperti itu terhadap putramu, Ayah!! Sampah yatim piatu itu membuat namaku tercemar!! Bahkan dia tak bisa membalas budi dan semua kepaikan ayah yang selama ini sudah membesarkan namanya!!" Jiang Wushuang terlihat masih sangat shock karena sang ayah tega menamparnya hanya gara-gara Zen.


Sepasang mata Jiang Wushuang sudah menjadi begitu merah dan sudah berkaca-kaca. Hatinya menjadi sangat terpukul dan sakit saat menghadapi semua kenyataan yang terjadi saat ini.


"Namanya adalah Li Zeyan!" tandas Jiang Lei dengan sangat tegas. "Dan kamu Jiang Wushuang ... seharusnya kamu bisa belajar dari Zen. Dia begitu bermurah hati karena tak menuntutmu dan menjebloskanmu ke dalam penjara atas apa yang sudah kamu lakukan kepadanya!" imbuh Jiang Lei dengan sangat tegas dan berharap putra sulungnya bisa berubah dan sadar.


Ucapan Jiang Lei yang mulai menurunkan nada bicaranya dan terdengar sudah semakin hangat malah mendapatkan tanggapan negatif dari Jiang Wushuang, karena hatinya memang sudah sangat sakit dan terpukul karena sang ayah malah lebih membela Zen.


PLAKK ...


Jiang Wushuang menepis kasar tangan sang ayah dan mulai menatap tajam sang ayah.


"Aku tidak mau tau, jika ayah masih menyayangiku, maka lakukan sesuatu!! Jika tidak, jangan harap ayah masih bisa melihatku lagi!!" ucapan itu rupanya adalah ucapan terakhir yang dikatakan oleh Jiang Wushuang sebelum pemuda itu melarikan diri dari rumahnya.


Pemuda itu mulai berbalik dan mulai melenggang meninggalkan ruangan kerja pribadi Jiang Lei.

__ADS_1


"Wushuang!! Kamu mau kemana?! Jiang Wushuang!!" teriakan yang memanggil nama pemuda itu tak dihiraukan oleh Jiang Wushuang sama sekali. Pemuda itu terus melenggang dan benar-benar sudah meninggalkan tempat itu.


...⚜⚜⚜...


"Kak kita mampir ke panti asuhan sebentar." pinta Zen sebelum Ferrary merah menyala itu melaju dengan tujuan ke apartemennya. "Selagi aku masih memiliki cukup waktu, aku ingin sedikit mengunjungi anak-anak panti asuhan itu dan sedikit berbagi untuk mereka.


"Hhm. Baiklah. Namun bukankah Christal sudah menunggumu di apartemenmu, Zen?" sahut Li Kai yang masih fokus mengemudikan Ferrary merah menyala itu.


"Oh astaga!! Aku melupakan Christal, Kak." sahut Zen dengan cepat lalu meraih ponselnya dan berusaha untuk mengirimkan sebuah pesan untuk Christal. "Kalau begitu kita kembali saja ke apartemenku dulu, Kak. Aku akan pergi bersama dengan Christal saja nanti. Kasihan juga Amee selalu kakak tinggal hanya karena kakak yang selalu menemaniku." imbuh Zen lagi.


"Hhm. Baiklah. Tapi bolehkah kakak minta tolong padamu dan Christal, Zen?" ucap Li Kai yang terdengar sedikit ragu-ragu.


"Tentu saja, Kak. Jika aku dan Christal bisa membantu, maka kami akan melakukannya kok." sahut Zen tanpa pikir panjang dan tanpa ragu sedikitpun. "Memang bantu apa, Kak?" imbuh Zen yang masih sibuk membalas pesan dari Christal.


"Setelah pulang dari panti asuhan kalian bisa datang ke rumah kakak kan? Nanti disana kakak akan jelaskan semua." sahut Li Kai yang sesekali melirik Zen.


"Oh ... okay. Baiklah ..." sahut Zen pendek.


Ferrary itu mulai melaju dengan kecepatan yang sedikit lebih kencang dan mulai menuju ke apartemen Zen. Dan rupanya Christal juga sudah menunggu di lantai dasar, karena saat mobil Zen mulai menepi di depan apartemennya, tak lama kemudian sudah terlihat sosok Christal yang sudah melenggang mendekati mobil merah menyala itu.


Li Kai segera turun dari mobil itu dan berpindah dengan menggunakan mobil lain yang sudah disiapkan oleh pengawal Jin Heng. Sementara Zen mulai berpindah di kursi kemudi dan bersiap untuk mengemudikan mobilnya.


Para pengawal Zen dan juga pengawal Christal tentunya juga selalu mengikuti mereka dengan mobil lain di belakangnya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2