
Kini Zen dan Mr. Xu Han mendatangi sebuah kantor polisi terdekat. Dan beberapa saat Profesor Wu dan wakil pimpinan Wan Chai University terlihat juga telah sampai di kantor polisi.
Mereka semua kini mulai memasuki sebuah ruangan khusus yang tidak terlalu luas. Mereka duduk memanjang dan masih sedikit bingung dengan situasi saat ini. Dan tentu saja profeaor Wu dan wakilnya sangat bingung mengapa tiba-tiba saja Zen bisa membawa dan membuat Mr. Xu Han menyerahkan diri begitu saja.
Padahal selama ini Mr. Xu Han terlihat begitu ramah dan sedikit introvert. Bahkan dia sangat jarang terlihat berbincang dan bergabung dengan dosen-dosen lainnya saat mengajar di Wan Chai University. Di acara-acara tertentu dia juga sering ijin dan tidak mengikutinya.
Profesor Wu menatap Zen dan mengkerutkan keningnya seakan dari raut wajahnya sangat menggambarkan sebuah pertanyaan dan ketidakmengertian yang begitu besar.
Zen tersenyum tipis lalu mulai berbicara dengan tenang, "Mr. Xu Han ... adalah tersangka utama dari kematian Cho mahasiswi seni Wan Chai University dua tahun lalu."
"Apa maksudmu mengatakan hal itu, Zen?" tanya profesor Wu tak mengerti.
"Yeap. Mahasiswi bernama Cho yang menghilang dua tahun yang lalu adalah korban dari pem*rkosaan dan berakhir pada pembunuhan. Dan Mr. Xu Han-lah yang telah melakukan semua hal itu. Benar begitu, Mr. Xu Han?" ucap Zen dengan tersenyum manis menatap pria yang duduk di sebelahnya itu.
Pria bernama Xu Han itu terdiam beberapa saat dan hanya menunduk tanpa berkata-kata. Bibirnya bergetar seakan terlihat begitu ragu saat mau menyampaikan sesuatu. Dan pada akhirnya dia seperti menelan kembali utuh rangkaian kata itu. Dan tentu saja dia terlihat begitu gelisah saat ini.
"Tuan Xu Han! Apa semua itu benar?" tanya seorang petugas kepolisian yang duduk tepat di hadapan pria bernama Xu Han itu hanya berbataskan sebuah meja yang berbentuk L.
Lagi-lagi pria itu hanya terdiam seribu bahasa dan terlihat begitu gelisah. Sepasang matanya selalu bergetar dan tak berani menatap mereka semua.
"Tuan Xu Han! Tolong jawab!" ucap petugas kepolisian itu kini sedikit melengking dan lebih tegas.
"Ma-maafkan aku. Aku ... aku ... aku sedang frustasi saat itu. Aku ... aku begitu terpukul setelah kematian istriku. Ak-aku ... aku ... begitu kehilangan istriku. Dan aku ... aku mabuk saat itu ... aku kehilangan akal sehatku... dan aku melakukan hal gila itu. Maafkan aku ... maafkan aku ..." ucap Mr. Xu Han dengan terbata dan sangat berantakan.
__ADS_1
"Mr. Xu Han ... aku sungguh tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini." ucap profesor Wu yang terlihat begitu kecewa. Bahkan dia terlihat seakan tak percaya dengan sebuah kebenaran ini.
"Maaf, Profesor Wu ... aku sudah kehilangan akal sehatku saat itu. Maafkan aku ... aku sungguh sangat menyesal." Mr. Xu Han terlihat begitu menyesal dan menunduk.
"Cckk ..." Zen berdecit dan tersenyum meremehkan lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gaya duduk santai. Tentu saja dia merasa sangat kesal. Padahal sebelum ini Mr. Xu Han masih berusaha untuk menyangkal bahkan hampir saja menyerangnya.
"Jadi kini kau mengakui semua ini? Baiklah untuk saat ini kamu akan kami tahan dulu. Kami akan menghubungi keluarga korban. Kamu akan dilepaskan jika keluarga dari korban bisa memaafkanmu." ucap petugas kepolisian itu dengan tegas. "Namun jika mereka tidak bersedia memaafkanmu, kamu harus mendapatkan hukuman sesuai dengan undang-undang."
"Pak polisi ..." potong Zen tiba-tiba. "Aku juga menemukan ini sebagai bukti saat kemarin kita tak sengaja memasuki shadow forest." Zen mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru laut yang berisi sesuatu di dalamnya.
Zen menyerahkan sapu tangan itu kepada petugas polisi di hadapannya dengan gaya santainya seperti sosok Kagami Jiro tentu saja.
Polisi itu membuka dengan hati-hati sapu tangan itu dan melihat isi di dalamnya. Ada sebuah kalung berliontin hati dan juga name tag bertuliskan "Xu Han".
"Terima kasih. Kami juga akan memeriksanya." ucap petugas polisi lalu menyimpan kembali barang itu.
"Sama-sama." jawab Zen seadanya. "Baiklah saya harus segera pergi ke Bandara. Sampai jumpa kembali ... sampai jumpa kembali, Profesor Wu!" imbuh Zen lalu bergegas meninggalkan kantor polisi itu.
...⚜⚜⚜...
Setelah beberapa saat di kantor polisi untuk memberikan pernyataan. Akhirnya Zen berniat untuk menyusul kak Kai ke desa Nahui Guizhou.
Karena kebetulan akhir pekan ini tidak begitu banyak jadwal untuk Zen. Zen juga dikawal oleh keempat pengawal setianya yang tentu saja selalu membersamainya kemanapun dia pergi.
__ADS_1
Mereka berlima segera mendatangi Beijing Daxing Airport dan akan menaiki maskapai China Southern Airlines kelas VIP untuk menuju ke KWE Guiyang Airport. Perjalanan udara yang ditempuh hampir 3 jam ini membuat Zen tertidur di sepanjang perjalanan.
Kini mereka akan mendatangi sebuah desa kecil Nahui yang berada di provinsi Guizhou. Meskipun termasuk desa kecil, namun sekarang desa itu sudah sangat maju dan ramai oleh penduduk lokal maupun para wisatawan yang datang untuk berlibur.
Provinsi Guizhou memilili beberapa tempat wisata yang sangat indah seperti Gua Shuanghae, Jembatan Beipanjian, Baili Azalea Forest Park, dan masih banyak lagi. Desa Nahui juga masih terlihat begitu asri dan sejuk. Bangunan-bangunan di desa ini hanya ada bangunan tradisional jaman dulu, namun tentu saja bangunannya masih sangat kokoh.
Provinsi Guizhou adalah satu provinsi dengan pertumbuhan tercepat di Tiongkok. Dan tentu saja akan terus-menerus melakukan perubahan dan sekarang menjadi salah satu tujuan wisata paling menjanjikan di negara ini. Wow! Keren bukan desa ini!
Zen terlihat tertidur dalam perjalanan saat di dalam taxi. Mungkin dia lelah setelah melakukan penerbangan hampir 3 jam ditambah perjalanan darat yang cukup membuat semua badan terasa sakit.
Mungkin saja Kagami Jiro akan lebih menikmati saat adu otot dan kekuatan jika dibanding dengan hal-hal seperti ini. Ahahah ... sabar ya Zen Jiro.
Setelah beberapa saat akhirnya taxi berwarana kuning lembut itu mulai berhenti di depan sebuah gang kecil pada suatu komplek rumah.
"Tuan Zen. Kita sudah sampai. Bangunlah ..." Vann berusaha membangunkan Zen dengan begitu pelan dan hati-hati. Dan dia juga sedikit mengguncang bahu Zen yang begitu lebar.
Perlahan Zen mulai membuka matanya. Terlihat sepasang okavango blue diamond yang perlahan mulai terlihat hampir menjadi lingkaran sempurna. Lalu Zen mulai duduk dengan tegak dan melirik Vann.
"Dimana rumahnya?" tanya Zen to the point.
"Di ujung gang ini, Tuan. Ibu dari tuan Kai baru saja keluar dari rumah sakit siang ini." jawan Vann dengan merendahkan intonasinya.
"Baiklah. Ayo kita kesana!"
__ADS_1