
"Uhm ... Amee ..." kak Kai mulai menatap Amee kembali yang hanya menunduk untuk menutupi wajahnya yang sudah mejadi merah seperti tomat. "Lihat kakak ..." imbuh kak Kai begitu lembut.
Perlahan Amee mulai mendongak dan menatap kak Kai dengan jantungnya yang masih berdetak seperti drum. Namun kak Kai malah memiringkan wajahnya dan semakin mendekati Amee. Hingga kini wajah mereka berdua sudah menjadi semakin dekat dan hanya menyisakan beberapa lembar jari saja. Bahkan Amee juga bisa merasakan nafas kak Kai yang beraroma paper mint.
Rasa gugup menyelimuti diri Amee saat ini, namun Amee mulai memejamkan sepasang matanya dengan gerakan yang begitu reflek. Bahkan sepasang mata kak Kai yang berada di balik sebuah kacamata beningnya kini juga sudah mulai menyipit.
Ujung hidung kak Kai kini sudah mulai menyentuh wajah Amee, namun tiba-tiba saja keduanya berhenti saat sebuah ritme teratur mulai terdengar dari arah pintu. Kedua insan ini reflek segera mundur dan saling duduk membelakangi satu sama lain dan merasa begitu gugup dan tiba-tiba saja menjadi sangat kikuk.
"Uhm ... kakak akan melihat siapa yang datang. Kamu ... tunggu dulu disini, Amee." kak Kai mengusap tengkuknya dan berusaha untuk bersikap tenang, meskipun sebenarnya pria dengan kacamata yang selalu bertengger manis di atas tulang hidungnya ini saat ini sedang begitu malu dan gugup.
"Uhm ... iya, Kak." sahutan pendek oleh Amee yang juga masih terdengar begitu malu-malu.
Kak Kai mulai melenggang dan segera membuka pintu kamar hotel ini untuk melihat siapa yang datang.
Saat pintu itu terbuka, kini terlihat seorang pemuda tampan dengan gaya kasual, dengan sebuah T-shirt sedikit longgar berwarna putih polos dipadankan dengan celana jeans berwarna sedikit terang sudah berdiri di balik pintu.
"Sudah aku duga kakak disini. Hehe ..." pemuda yang tak lain adalah Zen itu mulai meringis menatap kak Kai.
"Ada apa, Zen? Apa kamu baru saja pulang?" tanya kak Kai tersenyum tipis menatap Zen dan memperlihatkan wajah yang sama sekali tidak kesal, padahal karena Zen yang tiba-tiba saja datang sudah menggagalkan sesuatu di antara Amee dan kak Kai.
"Iya, Kak. Aku baru pulang. Dan sepertinya kunci hotelku tertinggal di rumah tuan Kagami Jiro. Berikan kunci cadangannya padaku, Kak!" Zen menengadahkan tangannya untuk meminta sebuah kunci kepada kak Kai.
Kak Kai mulai mencari sesuatu di dalam saku pakaiannya dan segera memberikan sebuah kunci untuk Zen.
__ADS_1
"Baiklah, Kak. Aku ke kamarku dulu." ucap Zen mulai berpamitan.
Kak Kai tersenyum dan mulai masuk ke dalam kamar Amee lagi setelah Zen menghilang dari pelupuk matanya.
"Apa itu Zen yang datang, Kak?" tanya Amee yang sudah mulai merapikan buku sketsanya.
"Hhm. Iya. Zen yang datang. Kalau begitu segera beristirahatlah, Amee. Kakak akan kembali ke kamar kakak juga. Besok masih ada waktu satu hari untuk dinJepang. Kamu mau kemana? Biar kakak antarkan." ucap kak Kai penuh dengan kehangatan.
"Aku ingin sekali pergi ke pantai, Kak. Apa kakak mau jika kita pergi ke pantai saja?"
"Hhm. Baiklah. Besok kita akan ke pantai. Sekarang ishirahatlah dan jangan tidur terlalu larut ya." kak Kai mengusap pelan kepala Amee.
"Hhm. Iya, Kak."
Setelah itu kak Kai mulai meninggalkan kamar Amee dan segera kembali ke dalam kamarnya lagi.
...⚜⚜⚜...
Hari ini Zen terlihat begitu bersemangat dan menyalakan alarmnya lebih pagi daripada hari biasanya. Setelah itu pemuda itu segera melompat dengan lincah dan bersemangat dari pembaringannya dan segera pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
"Cause every day I lie in my life. The brightest colors fill my head. A million dreams are keeping me awake. I think of what the world could be. A vision of the one i see. A million dreams is all it's gonna take. A million dreams for the world we're gonna make."
Zen terlihat begitu bersemangat saat melakukan kesibukannya saat di dalam kamar mandi. Di bawah gemericik air shower yang sudah dia setting menjadi hangat hangat dia mulai melantunkan sebuah lagu miliknya sendiri dengan begitu merdu.
__ADS_1
"Life is like a piano, white and black. If God play it, all will be a beautiful melody. Haa~ Never lose hope, because it is the key to achieve all your dreams. Never lose hope and never say good bye." sesekali Zen mulai menggosok badannya dengan menggunakan shower.
"Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world. Never lose hope and never say good bye~"
Suara indah dan merdunya terdengar sedikit menggema di dalam kamar mandi yang berukuran cukup luas ini.
"Uhm ... mengapa aku baru saja menyadarinya ya, jika tubuhku yang sekarang menjadi sedikit lebih berbentuk, kekar dan berotot. Ini pasti karena tuan Kagami Jiro yang selalu menggunakan tubuhku untuk latihan otot setiap hari. Hhm ..." Zen menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman indah sambil memegangi dada dan perutnya sendiri yang sangat atletis. "Keren sekali! Semenjak memakai tubuh tuan Kagami Jiro aku menjadi lebih sering melakukan latihan otot. Aku akan melakukannya rutin saat di Beijing nanti. Jika tidak paman Yukimura akan sangat marah padaku." gumamnya lalu mulai mendongak dan memejamkan matanya dan wajah tampannya terkena gemericik air hangat yang jatuh dari shower.
Setelah beberapa saat, Zen mulai menyudahi ritual mandinya dan segera mencari pakaian ganti di lemarinya. Kali ini Zen akan mengenakan sebuah kaos oblong longgar berwarna putih cerah dengan dibalut sebuah hitam mengkilap leather on leather yang begitu keren. Dan memakai celana jeans berwarna gelap.
Zen juga mulai sedikit merapikan rambutnya dan segera menyemprotkan sedikit minyal wangi pada tubuhnya. Aroma khas seorang Li Zeyan seketika memenuhi seluruh ruangan kamar hotelnya ini dalam sekejap saja.
Sungguh sangat mempesona dan sangat menawan. Seperti seorang bintang yang paling bersinar dan begitu memukau.
Di depan sebuah cermin yang berukuran cukup besar, Zen mulai merapikan kembali pakaiannya san juga rambutnya. Senyum indahnya juga terlihat selalu terukir saat menatap dirinya sendiri melalui cermin itu.
"Li Zeyan! Mulai saat ini kamu harus hidup lebih baik lagi! Yeap, karena aku juga sudah berjanji kepada diriku sendiri, jika aku sudah kembali dengan tubuh ini, maka aku harus berubah. Semua akan berubah!! Karena Li Zeyan yang sekarang adalah bukan Li Zeyan yang dulu yang sangat lemah dan selalu membiarkan dirinya ditindas oleh orang lain! Aku adalah Li Zeyan yang akan membuat dunia mencintaiku dengan seluruh apa yang aku miliki!" ucapnya dengan penuh percaya diri dan berkacak pinggang menatap dirinya sendiri.
"Well. Okay! Sekarang saatnya menemui Christal dan meminta ijin tuan Kagami Jiro untuk mengajak Christal jalan-jalan. Semoga saja tuan Kagami Jiro mengijinkanku, karena esok aku akan segera kembali ke Beijing lagi." gumamnya masih dengan senyum tipis.
Zen mulai berbalik dan mengambil ponselnya lalu segera meninggalkan kamar hotelnya.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1