
Seorang anak gadis kecil yang berusia 6 tahun, terlihat sudah mengenakan sebuah gaun berwarna dusty pink bak tuan putri dalam sebuah kisah di negeri dongeng.
Terlihat begitu manis dan menggemaskan. Dia memiliki sepasang mata kecoklatan, dan memiliki rambut yang lurus dan tipis. Wajahnya cantik dan tidak membosankan untuk dipandang.
Gadis kecil bernama Rui itu akan melangsungkan pesta ulang tahunnya yang ke-6. Kini gadis kecil itu sedang berada di kamarnya. Dan Amane, sang ibu dari gadis itu terlihat sedang merias rambutnya dengan sebuah hiasan rambut.
"Sayang. Mengapa saat melihat putri pertamamu, Rui. Mommy langsung teringat dengan Kagami Jiro ya?" celutuk dari ibu Amane seketika membekukan senyuman Amane dan sempat menghentikkan aktifitasnya saat menghias rambut putrinya.
"Ahahaha mungkin hanya perasaan mommy saja." sahut Amane dengan tawa kecil, meskipun suasana hatinya kembali terasa sesak mendengar nama pria itu.
"Hhm. Apakah karena waktu itu mommy masih begitu menginginkan Kagami Jiro untuk menjadi menantuku ya?" ibu Amane masih terlihat begitu berpikir keras.
"Sudahlah, Mom. Jangan berbicara soal dia lagi. Aku tidak mau mengingatnya." kini Amane mulai memasang sebuah pita berwarna dusty pink untuk menghiasi rambut indah Rui.
"Tapi putra keduamu Light sangat mirip denganmu, Sayang. Ayo, buatkan cucu satu lagi untuk mommy yang mirip seperti Kin Izumi! Pasti akan sangat lucu, punya baby dengan rambut keemasan seperti menantuku yang tampan dan cerdas." celutuk ibu Amane yang mulai mengkhayalkan seorang baby lucu seperti Kin Izumi.
"Mommy, Light dan Rui saja sudah membuatku begitu kewalahan. Dan Light juga masih berusia 3 tahun." sahut Amane seadanya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mommy akan membantumu untuk menjaga anak-anakmu nanti." bujuk rayu dari ibu Amane sambil menyenggol lengan Amane.
"Ahaha ... nanti akan aku bicarakan lagi dengan suamiku, Mom." sahut Amane dengan tawa kecil.
"Aku sangat setuju dengan ibu mertua, Honey!" tiba-tiba terdengar suara maskulin seorang pria yang baru saja datang. "Light dan Rui sudah cukup besar untuk memiliki seorang adik. Aku juga tidak keberatan kok." imbuhnya lalu mulai melenggang mendekati mereka bertiga.
Wajah Amane seketika memanas karena begitu malu.
"Nah. Menantuku ternyata juga sudah menginginkannya." ucap ibu Amane menggoda Amane.
"Papa!!" Rui yang menyadari kehadiran papanya kini segera berlari dan memeluk papanya.
__ADS_1
Kin Izumi segera jongkok dan menyambut putrinya dengan kedua tangan yang direntangkan lebar-lebar.
"Papa punya hadiah untukmu hari ini. Dan sebentar lagi akan sampai."
"Benarkah itu?" ucap Rui begitu bersemangat.
"Ya.Tentu saja, Sayang!" sahut Kin Izumi dengan begitu lembut dan mengusap kepala putri pertamanya. "Sekarang lihatlah hadiahmu di bawah bersama nenek!"
"Hhm." Rui mengangguk dan mulai berlari ke arah neneknya. "Nenek, ayo turun!" rengek Rui sambil menggandeng neneknya.
"Baiklah. Ayo turun." sahutnya lalu menggandeng Rui dan mulai meninggalkan kamar ini.
Sementara Kin Izumi mulai berdiri kembali dan melenggang mendekati Amane.
"Kali ini kita akan berbulan madu kemana, Honey?" Kin Izumi menggoda istrinya dan mulai meraih jemari Amane lalu mengecupnya.
Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh Amane di masa lalu, sedikitpun tak pernah mengurangi cinta dan kasih sayang seorang Kin Izumi untuk Amane. ( Baca Casanova In Love ya ...)
"Apa kamu serius ingin mempunyai seorang anak lagi?" ucap Amane begitu malu-malu.
"Tentu saja. Aku menginginkan seorang anak perempuan lagi. Apa kamu mau melahirkannya untukku, Honey?" ucap Kin Izumi begitu hangat.
Amane mengangguk pelan kemudian tersenyum hangat, "Aku akan melakukannya jika kamu menginginkannya, suamiku."
Tatapan mereka berdua saling bertemu dan terlihat begitu hangat. Seakan keempat mata itu saling menyapa hangat dalam balutan sebuah senyuman
"Baiklah. Pekan depan ambillah cuti! Dan kita akan ke pulau Jeju."
"Pulau Jeju?" Amane sedikit membulatkan matanya, membuat sepasang pupil bak green shapphire diamond itu terlihat hampir membentuk sebuah lingkaran.
__ADS_1
"Ya. Bukankah kau sangat ingin pergi kesana?"
"Hhm. Ya sudah, aku akan mengambil cuti pekan depan."
"Terima kasih, Honey." ucap Kin Izumi begitu hangat dan mulai sedikit menunduk untuk mendekatkan wajahnya ke arah Amane dan mulai mengecup bibir kemerahan itu.
"Mengapa ini seperti candu untukku? Aku selalu saja menginginkannya di setiap waktu dan setiap saat ..." Kin Izumi terus menggoda istrinya dan mulai mengecupnya lagi.
Amane hanya tertawa kecil melihat tingkah dari suaminya, pria yang pernah menjadi seniornya dulu. Pria yang selalu hangat kepadanya, bahkan Kin Izumi juga masih begitu hangat dan tidak pernah berubah sama sekali ketika mengetahui bahwa disaat pernikahan mereka dilangsungkan, ternyata Amane sudah hamil bersama pria lain.
Namun hal itu tidak diketahui oleh Amane. Saat itu, disaat pernikahan mereka masih berumur 2 bulan, Amane sering sekali sakit dan tiba-tiba pingsan seakan tak memiliki kekuatan. Kondisi tubuhnya begitu lemah saat itu.
Disaat itulah seorang dokter memberitahukan jika Amane sudah hamil dan usia kehamilan sudah lebih dari 18 minggu. Nalar seorang Kin Izumi langsung berjalan saat itu, namun dia tak mau memberikan beban lebih lagi untuk Amane dengan memberitahukan kebenaran kepadanya.
Dia akan menerima Amane beserta bayi itu apapun yang terjadi. Karena yang terpenting untuknya adalah kondisi Amane saat itu.
Tak hanya berdiam diri, Kin Izumi juga mulai menggerakkan beberapa anak buahnya untuk mencari tahu siapa ayah dari anak itu. Hingga akhirnya dia mengetahuinya jika Rui adalah putri dari Kagami Jiro.
Saat Rui berusia 2 tahun, Rui sempat dirawat di rumah sakit karena terserang hemofilia. Disaat itulah Amane baru menyadari semuanya jika Rui bukanlah darah daging dari Kin Izumi, suaminya.
Bahkan Amane sangat merasa malu dan begitu bersalah kepada Kin Izumi karena selama ini Amane tidak pernah jujur kepada suaminya, jika dia pernah melakukan sebuah kesalahan besar di masa lalu. Amane menyerahkan mahkotanya untuk Kagami Jiro, bahkan Amane tidak menyadari jika saat itu hamil. Dan malah langsung menikah dengan Kin Izumi.
Perasaan bersalah yang begitu besar terhadap suaminya selalu menghantui hari-harinya dan membuatnya begitu down, hingga dia berniat untuk mengakhiri hidupnya saat itu.
Namun Kin Izumi segera menemukan Amane yang sudah sedikit memotong urat nadinya saat itu dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Apapun yang terjadi di masa lalumu. Aku tidak peduli, Amane. Aku mencintaimu apa adanya. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu. Jangan pernah mencoba untuk mengakhiri hidupmu lagi ... karena aku sangat membutuhkanmu. Dan aku tidak bisa hidup tanpamu ..." ucapan kala itu dari Kin Izumi yang begitu menyesakkan dada namun juga membuat Amane begitu bahagia dan bersyukur karena memiliki seorang suami yang begitu baik seperti Kin Izumi.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1