Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Makan Malam Di Verandah


__ADS_3

Suasana makan malam di restoran Verandah Repulse Bay Resort terlihat begitu menawan. Menikmati makan malam di sebuah ruangan yang begitu elit dan glamour dengan disuguhkan pemandangan pantai indah pada sisi sampingnya.


Restoran Verandah repulse bay resort juga memberikan kesan restoran yang begitu canggih dan halus. Restoran Verandah juga mempertahankan pesona rileks yang begitu asli di Repulse Bay Hotel.


Resoran ini menyajikan beberapa masakan tradisional dengan sentuhan modern. Restoran Verandah juga menyajikan banyak makanan yang begitu lezat, anggur yang bermutu tinggi, pelayanan dari para waiter dan waitress yang cerdas dan pelayanannya begitu penuh dengan perhatian dan ramah.


Kali ini keluarga Li juga memesan traditional fondue at the bay atau biasa disebut fondue tradisional di teluk. Fondue adalah salah satu maskaan yang populer kembali saat musim dingin di restoran Verandah di Repulse Bay.


Menikmati keju tradisional yang menampilkan Gruyere dan Raclette, Tilsiter dan keju zeller, yang beberapa di antaranya beraroma truffle hitam dan sampanye.


Bahkan ruangan ini terlihat cukup unik, ruangan ini dilengkapi dengan ruang baca Verandah, dengan api kayu gelondongan yang nyata yang menghalau agar tidak terlalu menggigil ketika musim dingin. Tempat ini juga memiliki latar yang unik untuk pengalaman makan malam yang memberikan kesan yang begitu nyaman.



Keluarga Li terlihat begitu menikmati makan malam kali ini. Bahkan mereka juga memesan begitu banyak makanan. Dan tentu saja kakek Li Feng juga memesan begitu banyak makanan sea food karena mengetahui Zen dan kak Kai begitu meminati masakan sea food.


Bahkan kakek Li Feng juga memesan beberapa hidangan terbaik di seluruh dunia, termasuk foie gras, king crabs, dan tiram untuk menyegarkan akhir pekan di tempat yang santai ini.



"Kakek, maaf. Tapi aku tidak bisa memakan ini ..." celutuk Zen sambil menatap beberapa hidangan di hadapannya dengan begitu ngeri.


Padahal semua menu makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka terlihat begitu menggoda saliva. Penyajiannya juga begitu unik dan menarik.


Tentu saja ucapan Zen membuat semua yang sedang berada di meja makan itu begitu terkejut, pasalnya sea food adalah salah satu makanan faforit dari Zen selama ini.


"Zen, apa yang kau katakan? Bukankah selama ini kamu begitu menyukai segala masakan sea food?" tanya kakek Li Feng menantap cucu keduanya dengan kening yang berkerut.


"Benar, Zen. Selama ini kamu selalu menyukainya. Lalu kenapa malam ini tidak mau memakannya?" ujar kal Kai yang tak kalah bingung.


Sedangkan Amee hanya terdiam dan menunjukkan ekspresi yang juga sedang kebingungan.

__ADS_1


"Ehm. Iya, setelah terbangun dari koma itu ... semua yang aku sukai berbeda. Bukankah aku sudah pernah mengarakannya kepada kakak?" Zen menyauti dengan membulatkan sepasang mata indahnya menatap kak Kai.


"Oh, kakak kira kau hanya sedang bercanda, Zen. Pantas saja kau lebih sering memakan lainnya akhir-akhir ini." ucap kak Kai dengan memperlihatkan wajahnya yang paham dan tanggap.


"Baiklah, kau makan yang lainnya saja kalau begitu. Atau mau pesan yang lainnya lagi?" tanya kakek Li Feng.


"Sudah. Ini saja, Kakek. Aku masih bisa makan daging wagyu kok." sahut Zen dengan senyum lebar lalu mengambil pisau dan garpu dan mulai memotong daging wagyu menjadi beberapa potongan kecil kemudian mulai menikmati makan malamnya.


"Amee, bagaimana dengan XMee? Apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya kakek Li Feng sambil menikmati king crabs-nya.


"Iya, Kakek. Aku baru saja merintisnya dan sebenarnya masih sangat kecil. Tapi semua berjalan dengan cukup lancar. Pembuatan design, pemotretan, pembuatan katalog, bahkan beberapa hari ini sudah ada yang memesan. Dan ini semua karena kebaikan hati Zen dan kak Kai yang sudah selalu membantuku." ucap Amee dengan begitu tulus dan tersenyum begitu berbinar.


"Syukurlah jika seperti itu. Kakek juga senang jika kamu bisa mulai merintis usaha baru, dan terlepas dari dunia entertaiment yang cukup kejam, Amee." ucap kakek Li Feng yang kini mulai meminum soda dinginnya. "Cukup Zen saja yang masih bertahan di dunia entertaiment. Yah ... meskipun kakek sering mengkhawatirkan Zen karena dia begitu baik dan rapuh." imbuh kakek Li Feng sedikit termenung.


"Hhm. Iya, Kakek Li Feng." sahut Amee dengan begitu patuh dan pelan.


"Kakek, mulai sekarang aku akan menjaga Zen dengan baik. Jadi kakek jangan khawatir lagi! Bahkan aku akan mempertaruhkan seluruh hidupku untuk melindungi Zen. Aku berjanji, Kakek Li Feng!" ucap kak Kai dengan begitu mantap deng terdengar begitu tegas namun penuh dengan kehangatan dan kelembutan.


"Biar bagaimanapun kamu harus tetap untuk selalu berhati-hati, Zen." ucap kak Kai sambil menikmati steak kapak yang sudah dipesannya, steak yang begitu lezat, yang sudah diasapi dan dipanggang pada suhu paling sedang.


"Kakakmu benar sekali, Zen. Kamu harus tetap selalu berwaspada dan tidak boleh lengah seperti saat itu." tutur kakek Li Feng lagi karena begitu mengkhawatirkan Zen.


"Aku paham, Kakek. Aku akan selalu berhati-hati kok. Tenang saja." sahut Zen dengan begitu santai.


Mereka kembali menikmati makan malamnya disertai dengan perbincangan ringan, namun begitu terasa hangat untuk mereka.


Setelah beberapa saat, terdengar lantunan ritme yang sangat tidak asing yang berasal dari ponsel Zen. Setelah meminta ijin, akhirnya Zen mulai mengankat panggilan itu.


"Ya, hallo." sapa Zen dengan datar.


"Zen, kita jadi bertemu?" tanya seorang gadis dari seberang.

__ADS_1


"Oh, tentu saja. Kamu dimana sekarang, Xia Feii?" tanya Zen datar.


"Aku di balkon lantai 27, sisi sebelah taman." ucap gadis bernama Xia Feii dari seberang.


"Baiklah. Aku akan segera kesana. Tunggu sebentar, Xia Feii!"


"Hhm. Okay! Aku tidak akan kemana-mana kok."


"Hhm. Okay!" Zen mulai mengakhiri panggilan itu dan segera menyimpan kembali ponselnya di dalam saku pakaiannya.


Lalu dia kembali menghampiri keluarga Li dan mulai meminta ijin untuk pergi sebentar.


"Kakek, aku akan menemui temanku sebentar di lantai atas." pamit Zen yang masih menjaga etika dan sopan santunnya sebagai seorang Li Zeyan, cucu dari kakek Li Feng.


"Teman? Siapa?" kakek Li Feng sangat ingin tau, dan tentu saja karena mengkhawatirkan Zen.


"Xia Feii. Ada yang harus aku bicarakan dengannya." jawab Zen dengan jujur.


"Xia Feii ada di resort ini juga, Zen?" tanya kak Kai yang tak kalah penasaran.


"Iya, Kakak. Hanya sebentar saja kok."


"Ajaklah Vann bersamamu, Zen!" perintah kakek Li Feng.


"Tidak usah, Kakek. Para pengawal masih menikmati makan malamnya. Aku hanya pergi ke lantai atas sebenyar saja kok. Okay! Bye semua!" ucap Zen sambil meringis dan mulai meninggakan mereka semua.


...⚜⚜⚜...


Penampakan pantai Repulse Bay dan resortnya, karena kemarin banyak yang minta visualnya.


__ADS_1



__ADS_2