
Kagami Jiro dan Christal mulai menghabiskan waktunya bersama untuk memainkan permainan dari game itu bersama selama perjalanan menuju Tokyo Disney Resort, karena kebetulan jalanan kota juga sedikit macet saat ini.
Mereka berdua terlihat begitu menikmati permainan dari game console itu. Sesekali mereka bersorak bersama karena kemenangan mereka yang sudah berhasil mengalahkan beberapa musuh besar bersama.
"Yess!!" Kagami Jiro dan Christal melakukan tos dengan begitu bersemangat dan tertawa penuh kemenangan.
Yuna yang sedari tadi menemani Kenzi dan Kenzou di ruangan khusus di dalam mobil Van ini untuk bermain, kini dia mulai menghampiri Christal dan Kagami Jiro yang sedang asyik bermain game console bersama.
Bahkan Yuna juga sempat melihat saat mereka berdua bersorak penuh kemenangan dan terlihat begitu bersemangat. Raut wajah ayu nan tegas itu kini terlihat begitu kebingungan saat ini.
Karena ini adalah pertama kalinya di dalam hidupnya, dia melihat suaminya sedang bermain game seperti ini. Terlebih Kagami Jiro terlihat sudah begitu terlatih dan sangat menguasai dengan baik saat bermain game. Bahkan Kagami Jiro terlihat seperti seorang master game saja karena memang selalu memenangkan segala jenis permainan.
Wow! Seorang pemimpin Doragonshadou, yakuza nomor satu sekarang juga menjadi seorang master game? Sungguh sulit untuk dipercaya bagi siapapun yang tak pernah mengetahui pertukaran jiwa yang terjadi antara Kagami Jiro dan Li Zeyan!
"Sayang ..." Yuna mulai duduk di sebelah Kagami Jiro masih dengan kening yang berkerut.
Pria dewasa itu sedikit bergeser dan menghentikkan permainannya. Kini dia duduk ditengah, diantara Yuna dan Christal.
"Sejak kapan kau begitu menyukai bermain game seperti ini, Sayang?" tanya Yuna yang masih terlihat begitu kebingungan menatap layar yang berukuran cukup besar di hadapannya itu lalu bergantian menatap suaminya.
"Uhm ... sebenarnya setelah terbangun dari koma, aku sering menghabiskan waktuku untuk bermain game, Yuna. Karena aku merasa sedikit bosan saat masa pemulihan dan terus saja berada di rumah." ucap Zen dengan alasannya yang terdengar cukup masuk akal menurutnya.
Namun, alasan itu masih tidak bisa sepenuhnya diterima oleh Yuna. Bahkan masih sulit untuk dipercayai. Karena di dalam sepanjang hidupnya, Kagami Jiro tidak akan melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu.
Kalaupun sedang bosan, maka Kagami Jiro akan melakukan hal lainnya yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, koran, atau bermain dengan laptopnya. Bermain di dalam dunia digital mungkin adalah pilihan yang paling sering dia pilih disaat Kagami Jiro sedang bosan.
__ADS_1
"Hhm. Benarkah seperti itu, Sayang?" ucap Yuna lagi sambil mengambil sebungkus potato chips yang sudah tergeletak di hadapannya lalu membuka dan menyantapnya.
"Hhm ... iya. Dan aku sering bermain bersama Christal selama ini." ucap Kagami Jiro lagi. "Christal kau lanjutkan main sendiri dulu ya."
"Yeap." sahut Christal sambil mengatur ulang permainan game console itu untuk permainan single.
"Oh ya, dimana Kenzi dan Kenzou? Apa mereka sedang tidur?" tanya Kagami Jiro yang beralih menatap Yuna yang sedang menikmati potato chips itu.
"Tidak kok. Mereka sedang asyik bermain di ruangan sebelah. Mereka sedang suka menggambar akhir-akhir ini. Entah segala macam gambar apa itu, aku tidak tau karena semua yang Kenzi dan Kenzou lakukan hanya menghasilkan coretan saja." Yuna tertawa keci dan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa gemas sendiri jika mengingat kedua putra kembarnya.
Kagamo Jiro juga mulai ikut tertawa kecil bersama Yuna, "Tidak masalah. Yang terpenting adalah, mereka memiliki motorik dan imajinasi yang bagus dan keren. Suatu saat mereka pasti juga akan menjadi seorang genius seperi ayah dan mamanya."
Yuna semakin tersenyum lebar mendengar ucapan dari Kagami Jiro.
"Kau benar sekali, Sayang. Mereka adalah penerusmu kelak. Pasti mereka juga akan hebat seperti dirimu." ucap Yuna memuji suaminya dengan tulus
Zen lebih sering terdiam dan melamun ketika di dalam mobil itu. Pandangannya terus menatap gedung-gedung pencakar langit yang dilaluinya. Tatapannya begitu terlihat kosong dan begitu murung. Mungkin saja dia masih teringat dengan ucapan Yuna yang begitu membuatnya sakit dan terpukul.
Apakah selamanya aku dan bocah ini tak akan bisa kembali lagi? Jika memang seperti itu ... itu artinya aku harus melepaskan Yuna untuk bocah itu? Arghh ... memikirkannya saja sudah membuatku begitu frustasi! Bagaimana jika memang itu menjadi sebuah kenyataan? Arrghh bisa gila aku! Selama ini ... sungguh tak mudah untuk mendapatkan Yuna, namun setelah aku menikahinya dan hadir para jagoanku ... mengapa ini semua tiba-tiba saja terjadi? Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?
Batin Zen sambil mengusap rambut silvernya ke belakang dan sedikit menunduk dan memejamkan matanya.
"Tuan Zen. Apa tuan baik-baik saja?" tanya Yunxi yang duduk di sebelahnya. "Jika tuan Zen sedang tidak enak badan, maka kita bisa kembali ke hotel saja jika tuan mau."
Yeap, Yunxi duduk di belakang bersama Zen. Sementara Vann menyetir di depan dan duduk bersebelahan dengan Nokto.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Yunxi! Lanjutkan saja! Kita tetap ke Tokyo Disney Resort bersama mereka." sahut Zen dengan pelan namun tegas.
"Baik, Tuan Zen." sahut Yunxi dengan patuh.
Zen mulai duduk tegap kembali lalu bersandar pada kursinya. Sepasang mata bak okavango blue diamond itu semakin terpejam saat menatap sisi jendela di sampingnya. Dan Zen tertidur begitu saja.
.
.
.
.
.
Seorang wanita dewasa dengan balutan dress selutut berwarna putih terlihat melenggang bersama seorang pria dewasa yang terlihat begitu tegas dan berwibawa. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan pendek dipadankan dengan celana santai selutut berwarna putih juga.
Langit yang sudah berubah menjadi kemerahan itu terlihat begitu menawan. Matahari juga mulai membenamkan dirinya di seberang pantai, menjadikan cakrawala senja saat ini terlihat begitu mempesona. Sinar matahari yang tersisa masih menyinari lautan itu dan memberikan pantulan kemerahan yang begitu mempesona pada lautan nan luas itu.
Angin senja di pantai berhembus dengan cukup kencang dan membuat rambut mereka berdua menari-nari di udara. Pakaian putih mereka juga terlihat menari-menari di udara terkena tiupan angin laut kala senja itu.
Pria dewasa itu mulai mengangkat tangan kanannya dan mendaratkan lengannya di bahu wanita yang tak lain adalah istrinya itu, untuk menghalangi angin laut yang berhembus dengan cukup kencang dan dingin dengan punggungnya.
Keduanya sempat bertatapan beberapa saat lalu saling melempar senyum dengan begitu hangat, hingga pria yang tak lain adalah Kagami Jiro itu mulai mendekap wanita yang tak lain adalah Yuna dengan begitu hangat dan erat.
__ADS_1
Detak jantung Kagami Jiro mulai tenggelam oleh gelombang demi gelombang, namun kata-kata yang diucapkannya terdengar begitu keras dan jelas.
"Yuna ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya aku adalah Li Zeyan yang sedang menempati raga dari suamimu, tuan Kagami Jiro. Kami bertukar tubuh setelah kecelakaan saat itu. Sebuah kecelakaan yang menimpa kami secara bersamaan, dan kami juga koma bersamaan saat itu. Aku yang terjatuh dari gedung lantai 5. Sedangkan tuan Kagami Jiro yang terluka karena penyerangan saat itu. Kita berdua masih bisa selamat dan masih tetap bertahan untuk hidup. Namun kita malah bertukar jiwa saat itu ... takdir memberikan anugrah untuk kita berdua tetap hidup, namun dengan jiwa yang berbeda. Kembalilah bersama Li Zeyan, Yuna. Karena di dalam raga Li Zeyan-lah jiwa tuan Kagami Jiro bersemayam." ucap Kagami Jiro dengan lirih dan menatap nanar Yuna.