
"Amee, maaf jika kakak sudah selalu menyulitkanmu selama ini." ucap kak Kai yang masih terlihat begitu pucat dengan suaranya yang masih terdengar begitu lemah.
Amee menggeleng pelan beberapa kali masih dengan sepasang matanya yang masih begitu berair, "Kakak tidak pernah merepotkanku sama sekali. Aku tulus ingin menjaga kakak."
Tatapan mereka kini saling bertemu selama beberapa saat, tatapan nanar namun saling menyapa dengan begitu hangat. Dan perlahan kak Kai mulai meraih jemari Amee.
"Amee ... biar bagaimanapun kakak sangat berterima kasih padamu."
"Hhm ..." Amee mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
"Sekarang dimana Zen dan kakek Li Feng? Apakah mereka baik-baik saja?" wajah pucat itu kini tiba-tiba terlihat mulai begitu khawatir lagi karena kak Kai yang mulai mengingat Zen dan kakek Li Feng.
"Mereka baik-baik saja, Kak. Kakaklah yang terluka begitu parah dan sudah kehilangan banyak darah malam itu. Sekarang kakak harus fokus untuk pemulihan kesehatan kakak dulu dan harus segera sehat kembali." ucap Amee berusaha untuk memberikan semangat untuk kak Kai.
"Hhm ... syukurlah jika mereka baik-baik saja." gumam kak Kai begitu lirih dan terlihat mulai tenang kembali. "Lalu bagaimana dengan ketiga orang yang sudah menculik Zen dan juga kakek Li Feng? Apa kali ini mereka juga sudah ditangkap?" imbuhnya masih ingin tau.
"Hhm. Mereka sudah diamankan oleh aparat kepolisian dan sudah ditahan, Kak. Kakak tidak perlu khawatir lagi." ucapan lembut dan hangat itu seketika bisa membuat kak Kai merasa lebih tenang kembali.
Namun tiba-tiba kak Kai terdiam dan termenung beberapa saat, dia tak menyauti ucapan Amee lagi. Karena mungkin dia juga merasa begitu sedih dan hatinya sedang bergejolak saat ini. Karena sebenarnya paman Luo Yan adalah masih memiliki ikatan dengan kak Kai, dan paman Luo Yan adalah merupakan keluarga jauhnya.
"Kak, jangan terlalu banyak memikirkan hal lainnya lagi. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan kakak. Kakak jangan sampai drop lagi ya. Kakak sudah begitu sering masuk rumah sakit akhir-akhir ini." pinta Amee dengan begitu memohon dan terdengar begitu lembut.
Kak Kai mulai menatap Amee dan tersenyum begitu hangat, "Iya, Amee. Kakak juga tidak mau merepotkan kamu lebih lagi."
__ADS_1
Amee mengambil napas beberapa saat dan kembali menghembuskan perlahan, "Sudah aku katakan kepada kakak, bahwa kak Kai tidak pernah merepotkan aku sama sekali. Aku hanya tidak mau melihat kakak sakit lagi. Rasanya ... aku juga merasakan sakit itu ..." ucap Amee yang mulai terlihat begitu murung.
"Dan ... aku juga sudah berjanji, asal kakak sudah bangun dan sadar kembali ... aku juga sudah akan ikhlas dan menerima dengan sepenuh hati semua keputusan yang telah kakak ambil." ucap Amee begitu bergetar dan menunduk dengan sepasang matanya yang kembali berkaca-kaca, karena mengingat selama ini kak Kai hanya mempermainkan dirinya dan hanya menggunakan dirinya sebagai alat untuk menghancurkan Zen.
Kak Kai termenung beberapa saat dan hanya bisa menatap gadis anggun itu dalam diamnya. Sebenarnya kak Kai juga merasa begitu bersalah terhadap Amee, namun tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Dan juga kak Kai masih harus memenuhi permintaan dari kakek Li Feng untuk segera meninggalkan Beijing.
"Amee, maafkan kakak. Tapi kakak harus tetap meninggalkan Bejing secepat mungkin." ucap kak Kai meskipun dengan berat hati.
NYYUUTT ...
Meskipun gadis cantik itu sudah begitu mengetahui hal ini akan tetap terjadi, namun rasa sakit dan sesak ini kembali bergelanyut dihati Amee saat ini dan masih terasa begitu menyesakkan dada.
Amee yang masih menunduk, hanya mengangguk pelan dan menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membasahi pipinya lagi.
"Aku tau, Kak. Tapi kumohon berjanjilah padaku untuk hidup dengan baik disana ..."
Tak tertahankan sudah, kini air mata hangat itu mulai membasahi pipi gadis cantik itu lagi. Dan dia juga meremas dress yang saat ini sedang membalut tubuhnya.
Kini kak Kai berusaha untuk duduk karena tiba-tiba luka di bagian punggungnya menjadi terasa sedikit sakit karena terlalu lama berbaring. Dengan cepat Amee segera menyeka air matanya dan meraih lengan kak Kai untuk membantunya duduk.
"Bagian mana yang terasa sakit, Kak? Apa harus aku panggilkan dokter, Kak?" ucap Amee yang mulai terlihat begitu khawatir karena melihat ekspresi kak Kai yang terlihat seperti sedang menahan rasa sakit.
"Tidak, Amee. Terlalu lama berbaring membuat punggung kakak yang sedang terluka menjadi terasa begitu sakit." jawab kak Kai sedikit membenarkan duduknya.
__ADS_1
Amee segera meletakkan sebuah bantal di belakang kak Kai agar kak Kai bisa sedikit bersandar.
"Pasti sakit sekali ya ..." ucap Amee yang membayangkan luka itu dan membuatnya terasa begitu ngilu.
"Mungkin karena kakak tidak terbiasa dengan luka seperti ini. Jadi ya seperti ini ... sungguh payah sekali ya ..." gumam kak Kai disertai tawa kecil karena merasa dirinya begitu lemah.
"Tidak, Kak. Jiwa kakak begitu kuat, hingga bisa melakukan semua hal ini, yang bahkan sangat membahayakan nyawa kakak."
Tok ... tok ... tok ...
DDRRTT ...
Tiba-tiba pintu terbuka setelah ada suara ketukan beberapa kali. Terlihat seorang pria paruh baya dengan tatapan nanar mulai memasuki ruangan rawat ini dengan langkah kakinya yang terlihat begitu berat.
Sementara di belakangnya sudah ada seorang pemuda tampan dengan rambut silvernya yang masih mengenakan pakaian rawat rumah sakit yang berjalan mengikuti pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu menatap nanar kak Kai yang kini sudah duduk di atas brankarnya. Keduanya saling melakukan kontak mata selama beberapa saat.
Tatapan haru karena mengetahui kak Kai sudah mulai sadar kembali, tatapan bahagia karena sudah mengetahui sebuah kenyataan yang sudah begitu lama terpendam akhirnya kini terkuak, perasaan sedih dan marah kepada dirinya karena selama ini kakek Li Feng merasa telah menjadi seorang kakek yang buruk untuk salah satu cucunya.
Langkah kaki kakek Li Feng kini mulai berhenti saat dia sudah berada di dekat brankar.
"Luo Kai ..." ucap kakek Li Feng yang terdengar begitu lirih dan memilukan, sepasang matanya bahkan sudah semakin berair dan bergetar menatap pemuda yang masih terduduk di atas brankar itu.
__ADS_1
"Maaf, Tuan besar Li. Namun aku masih belum bisa memenuhi permintaan dari tuan besar Li." ucap kak Kai dengan lirih. "Tapi, secepatnya aku akan segera meninggalkan Beijing setelah kondisiku pulih." imbuh kak Kai dengan pelan dan terdengar begitu memilukan dan menusuk hati kakek Li Feng.
Kakek Li Feng tak sanggup lagi menahan air matanya, hingga kini air mata itu mulai membasahi wajahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan halus itu. Dengan cepat dia juga segera memeluk kak Kai .