Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Desa Aiko Iyashi No Sato


__ADS_3

"Kak, kita ke gunung Fuji!" perintah Zen saat sudah di dalam mobilnya. Wajahnya terlihat begitu khawatir saat ini.


Kak Kai hanya diam dan menuruti perintah Zen, saat ini kak Kai hanya fokus mengemudikan Lamborghini Veneno Roadster warna putih itu dan berusaha agar mereka segera sampai pada lokasi tujuan.


Sementara di belakang sudah ada sebuah mobil BMW hitam metalic yang berisi keempat pengawalnya yang masih mengikutinya.


Sepanjang perjalanan Zen berusaha untuk menghubungi nomor Yuna, tapi ponselnya sedang tidak aktif. Rasa khawatir kini kian menumpuk dan semakin membuatnya begitu gelisah.


Sial! Aku tidak tau apakah kamu baik-baik saja saat ini, Yuna. Kamu sengaja menghindari semua orang ataukah kamu sedang dalam bahaya?! Aku sungguh tidak tau. Sial! Ini semua salahku! Seharusnya aku tidak memintamu untuk menemui Tokugawa Yukimura! Arggghh ...


Batin Zen yang terlihat begitu frustasi. Dia terus berusaha menghubungi Yuna, namun tak ada hasil. Sepanjang perjalanan pikirannya semakin tidak karuan karena mengkhawatirkan istrinya.


"Zen ... apa kau baik-baik saja?" tanya kak Kai yang mulai mengkhawatirkan Zen.


"Segera mungkin capai tujuan kita, Kak!" ujar Zen sambil menatap sisi samping jendela dengan punggung telapak tangan menutupi mulutnya. Sepasang alis tampannya kini saling berkerut berdekatan, sorot matanya dipenuhi dengan kegelisahan yang kian memuncak tak berujung.


"Hhm. Okay ..." sahut kak Kai yang sesekali melirik Zen. "Ehm ... kalau boleh tau ada hubungan apa kau dengan Nyonya Yuna?"


Mendengar pertanyaan dari kak Kai seketika membuat Zen sedikit terperanjat dan bingung harus menjawab apa saat ini. Hingga dia terdiam untuk beberapa saat.


"Uhm ... aku hanya tak ingin si kembar kehilangan seorang ibu." ucapnya akhirnya dengan jujur. "Karena aku sudah pernah merasakan kehilangan seorang ibu ..." ucap Zen begitu lirih. Dan pandangannya menatap lurus namun terlihat sedikit hampa.


Tentu saja dia tak ingin anak-anaknya juga bernasib sama seperti dirinya. Kehilangan sosok seorang ibu saat kecil. Dan lagi ... tentu saja dia belum siap untuk kehilangan istri tercintanya saat ini.


"Ah ... oh ... tentu saja." sahut kak Kai sedikit tergagap kali ini. "Kita akan segera sampai kok. Tenang saja, Zen." imbuh kak Kai lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Kak Kai menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Perlahan dia mulai mempercepat laju mobil itu.


...⚜⚜⚜...


Seorang wanita cantik yang masih mengenakan pakaian formal terlihat sedang berjalan cepat dan terlihat sedang terburu-buru.


Yeap, wanita cantik itu adalah Yuna yang baru saja melarikan diri dari kedua pengawalnya yang selalu membersamainya. Dia sengaja menyelinap dan melarikan diri saat kedua pengawal itu Yuna suruh untuk membelikan makanan dan minuman untuknya. Dia menggunakan waktu itu untuk melarikan diri.


Dia menyusuri sebuah jalanan kecil di sebuah desa Aiko Iyashi no Sato. Desa tradisional yang terletak di tepi Danau Saiko, di kaki Gunung Fuji, Jepang.

__ADS_1


"Bagus! Kini mereka tak akan mengikutiku hingga ke desa Aiko Iyashi no Sato!" gumam Yuna dengan senyum manisnya.


Namun siapa sangka, sebuah keberuntungan kecil ini akan sangat membahayakan nyawanya. Segerombolan preman yang tak sengaja melihat sosok Yuna dan menyadari dia adalah istri dari sorang Kagami Jiro, Pemimpin dari Doragonshadou. Kini tiba-tiba saja mereka mempunyai niat yang buruk terhadap Yuna.


Preman-preman itu pernah memiliki dendam terhadap Kagami Jiro karena pernah menggagalkan perampokan pada sebuah toko berlian. Dan kini perampok-perampok itu akan membalaskan dendamnya terhadap istrinya.


Jalanan yang sedikit sepi itu mungin telah sangat dimanfaatkan dan begitu menguntungkan bagi para preman itu. Mereka mulai mengikuti Yuna dan menunggu waktu yang tepat untuk mengepungnya.


Kini di hadapan Yuna sudah ada 2 orang preman yang berbadan besar dan berambut gondrong dan diikat. Mereka sudah menunggu Yuna rupanya, sementara dari arah belakangnya ada 3 orang preman yang satu server dengan mereka juga sudah mulai mengepungnya.


Yuna menghentikkan langkah kakinya dan mulai waspada. Sepasang mata indahnya selalu mengekori setiap gerakan para preman itu secara bergantian.


"Halo nyonya Jiro yang cantik ..." goda seorang preman yang berambut gondrong dan mulai berjalan mendekati Yuna.


"Jangan berani bergerak dan mendekatiku!" ancam Yuna sambil memasang kuda-kuda dan berwaspada.


"Apa yang bisa dilakukan seorang wanita sepertimu melawan lima pria kuat seperti kita?!" ucap seorang preman lagi lalu tertawa meremehkan.


"Lebih baik diam saja dan dan ikuti perintah kita jika mau nyawamu tetap selamat, Nyonya ..." celutuk seorang preman yang berdiri tak jauh di belakangnya.


Kelima preman itu kini tertawa terbahak-bahak dan semakin berjalan mendekati Yuna untuk mengepungnya.


"Sekali lagi aku katakan jangan berani mendekat!!" ucap Yuna dengan suara yang begitu menggelegar.


Kelima preman itu terus saja mendekati Yuna, hingga akhirnya mulai menyerang mereka. Dia sedikit menunduk lalu menjegal salah satu kaki preman kemudian melayangkan tinjunya untuk mengenai preman lainnya.


Yuna mengayun-ayunkankan Urban Satchel Louis Vuitton Bag miliknya untuk menyerang kelima preman itu kemudian menendang bagian vital salah satu preman itu.


"Arrghhh ... Wanita sialan!" rintih preman itu lalu meraih dan menjambak rambut Yuna.


Dengan cepat Yuna segera melayangkan bogemnya dan mengenai wajah preman itu.


BBUUAAGGHH ...


Kini Yuna mulai melepas salah satu high heelsnya untuk menyerang mereka. Gerakannya cukup gesit dan sangat keren untuk seorang wanita. Dia terus menghujani pukulan untuk kelima preman itu dengan menggunakan high heelsnya.

__ADS_1


Namun seberapa hebabatnya Yuna bertarung, saat ini dia sedang menghadapi 5 lelaki kuat sekaligus. Semua hanya soal waktu, hingga akhirnya Yuna berhasil ditangkap oleh mereka.


Mereka menyeretnya menuju sebuah rumah tua yang tak jauh dari tempat itu. Kemudian mengikatnya yang sedang terduduk di atas kursi.


"Kita tau suamimu hanya pura-pura koma! Jadi cepat panggil dia kesini!" perintah salah satu preman itu. "Cepat kau telpon dia sekarang! Suruh dia datang kemari sendirian!" imbuhnya lagi.


Yuna mendongak dan mengerutkan keningnya menatap preman yang sedang berbicara itu.


"Apa kau sudah gila?!" hardik Yuna dengan tajam. "Suamiku sedang koma dan belum bangun hingga saat ini!" imbuhnya lagi dengan kesal.


"Aku tidak percaya! Dia sangat kuat! Tidak mungkin sampai sekarang masih belum sadar! Sekarang kau hubungi dia!"


Salah satu preman itu kini menggeledah Urban Satchel Louis Vuitton Bag milik Yuna dan terlihat sedang mencari sesuatu di dalamnya. Yeap, mereka mengambil ponsel milik Yuna.


Preman itu mulai menghidupkan ponsel Yuna yang tadi sempat dia matikan. Dan tepat saat itu ada sebuah panggilan dari sebuah nomor baru.


"Nomor baru menelpon! Pasti ini suamimu yang sedang sedang bersembunyi untuk menghindari perang perpecahan gangsternya bukan?" ucap preman itu seenak jidatnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Yuna, preman itu segera mengangkat panggilan itu dan men-loud speaker panggilan itu.


"Halo ... Yuna ... dimana kamu, Sayang?" tanya seorang pria dari seberang yang terdengar begitu sangat khawatir.


Preman itu menyeringai dan menatap Yuna, sedangkan Yuna hanya terdiam kebingungan.


"Apa kau suami dari nyonya Jiro? Nyonya Yuna?" pancing preman itu dengan nada menyebalkan.


"Iya! Aku suaminya! Jangan pernah kalian berani menyentuh wanitaku atau kalian akan mampus!" tandas pria dari seberang panggilan itu.


Kelima preman itu kini tertawa renyah mendengar ucapan pria dari seberang itu.


"Datang sendiri jika mau nyawa istri tercintamu selamat! Aku akan mengirim alamat kepadamu!" ucap preman itu lalu mematikan panggilan itu.


Sementara sepasang mata Yuna kini membelalak mendengarkan percakapan itu, dan merasa sedikit bingung.


Siapa pria itu? Atau jangan-jangan bocah bernama Li Zeyan itu?

__ADS_1


Batin Yuna yang masih sedikit kebingungan.


__ADS_2