Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Petunjuk


__ADS_3

"Apa maksudmu itu bukan Ley Bixing?!" tanya Yukimura melalui telpon. "Apa maksudmu ada pengkhianat lain di dalam Doragonshadou?"


"Hhm. Begitulah! Cari tau siapa pria itu! Dia memiliki tato naga bersayap kehijauan pada leher sebelah kanan. Seingatku aku tidak pernah melihat tato itu sebelumnya semua klanku! Mungkin dia disuruh oleh seseorang. Atau itu tato baru." ucap Zen sambil menikmati teh hangatnya pagi itu. Sedangkan penampilannya sudah sangat rapi karena dia akan bersiap untuk pergi ke kampus.


"Hhm. Serahkan saja padaku! Aku akan segera menemukan pria ini!" ucap Yukimura dengan suara khasnya yang begitu besar.


"Oke! Aku serahkan padamu! Masih banyak yang harus aku lakukan disini juga soalnya." ucap Zen sambil meletakkan kembali secangkir teh itu di atas meja.


"Hal apa? Main film? Pemotretan? Menyanyi? Gyahahaha ..." tiba-tiba saja Yukimura tertawa terbahak-bahak.


"Berani kau menertawakanku, Yukimura?! Aku akan membunuhmu saat kita bertemu nanti!" ancam Zen dengan nada begitu tegas.


"Aku bercanda, Jiro sahabatku! Sudah, jangan marah! Nanti kamu cepat tua!" sahut Yukimura sambil menghentikkan tawanya.


"Hah ..." ucap Zen sedikit mendengus karena kesal. "Si kembar bagaimana? Sedang apa mereka saat ini?"


"Mereka masih tertidur di kamarnya."


"Lalu dimana Yuna? Apa dia sudah berangkat?"


"Iya. Dia baru saja berangkat ke kantor utama bersama Yosuke."


"Lalu dimana ayahku dan adikku Christal?"


"Ayahmu masih di rumah. Mungkin akan segera berangkat untuk menyusul Yosuke dan Yuna. Sedangkan Christal sudah berangkat sekolah diantar oleh pengawal."


"Apa dia pernah membawa teman pria lagi ke rumah?"


"Tidak. Memang Christal suka melakukannya?"


"Tidak. Hanya saja saat aku masih sehat, dia sering mengenalkan teman prianya kepadaku. Dan hampir semua temannya langsung berpamitan setelah bertemu denganku."


"Gyahahaha ... pria mana yang berani mendekati Christal, Jiro?! Apalagi setelah mengetahui dia memiliki seorang kakak sepertimu. Seorang pemimpin Doragonshadou yang terkenal sangat kejam dan bengis. Gyahahaha ..." lagi-lagi Yukimura tertawa lepas tak terkendali.


"Cari mati kau, Yukimura?!" geram Zen dengan wajah yang begitu kesal.

__ADS_1


"Oke. Oke. Sory." ucap Yukimura sambil menghentikkan tawanya kembali. "Oh iya. Aku sudah melihat drama terbarumu. Kau berciuman dengan seorang gadis muda. Wah ... dasar om-om mesum kau, Jiro! Aku akan beritahu semuanya kepada Yuna!"


"Jangan main-main kau, Yukimura! Itu karena tuntutan pekerjaan! Dan demi aku bisa kembali ke Jepang lagi. Aku harus melakukan semua itu!" ucap Zen cepat-cepat karena merasa khawatir.


"Apa kau sungguh-sungguh tidak menikmati adegan itu?" selidik Yukimura dengan nada jenaka. "Kau terlihat begitu handal dan sangat menikmatinya!" pancing Yukimura yang membuat Zen bertambah kesal.


"Yukimura! Aku harus profesional! Dan jangan sekali-kali kau berani berbicara hal aneh kepada Yuna! Atau aku benar-benar akan membunuhmu!" geram Zen dengan sangat menakutkan.


"'Yosh. Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua! Tenang saja! Aku hanya sedang menggodamu saja." ucap Yukimura dengan tawa kecil.


"Haishh ... baiklah. Aku harus ke kampus sekarang. Nanti akan kuhubungi lagi."


"Ke kampus? Kamu bahkan kuliah untuk yang ketiga kalinya sekarang? Gyahahaha ..."


"Yukimura!" hardik Zen terlihat sudah begitu kesal menanggapi tingkah Yukimura. "Saat ini aku sedang menempati raga seorang bocah berumur 20 tahun. Aku juga harus kuliah dan melakukan semua kegiatan bocah bernama Li Zeyan ini."


"Iya. Baiklah ... baiklah ... aku paham. Aku hanya menggodamu saja kok."


"Oke. Lakukan saja tugasmu dengan baik dan segera beritahu aku jika menemukan sesuatu!"


"Oke!"


Tut ... tut ... tut ...


Zen mengakhiri panggilan itu dan mulai menyamber ransel sweet black-nya dan menggendonggnya hanya dengan bahu kanan. Kemudian dia mulai berjalan keluar dari kamarnya dan mulai melirik jam tangan super mewahnya yang melingkar manis pada tangan kirinya.


Tumben pria berkacamata itu belum datang menjemputku?


Batin Zen yang kini sudah berada di ruang tengah. Di sana dia melihat Vann dan Yunxi yang sudah menunggu Zen.


"Dimana kak Kai? Tumben dia belum datang?" tanya Zen sangat ingin tau. Karena tak biasanya kak Kai seperti ini.


"Tuan Kai sedang kurang enak badan. Jadi hari ini saya yang akan mengantar tuan Zen." sahut Vann dengan ramah.


"Oh begitu ya. Oke. Ayo kita berangkat!" ucap Zen sambil melenggang mendahului para pengawalnya. Dan kemudian diikuti oleh pengawalnya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


Terlihat seorang pemuda tampan yang masih tertidur dengan pulas di atas ranjangnya yang bernuansa putih. Dia terlihat mengenakan pakaian tidur dengan warna putih juga. Bahkan seisi kamarnya juga dipenuhi oleh nuansa putih.


"Kak. Bangun dan mandilah! Aku sudah memasak sup pereda mabuk untukmu." seorang gadis cantik dengan style pakaian yang begitu kalem tapi anggun mulai membuka tirai kamar dan membangunkan pria yang masih terbaring itu.


Pria yang tak lain adalah kak Kai itu perlahan mulai membuka matanya dan melirik Amee. Kemudian sesekali dia mengerjapkan matanya karena sedikit silau oleh sinar mentari yang mulai memasuki kamar appartementnya.


"Kepalaku masih terasa begitu sakit. Biarkan aku beristirahat sebentar lagi dulu. Semalam aku minum baijiu terlalu banyak." jawabnya dengan lirih dan kembali memejamkan matanya lagi.


"Baiklah. Tapi bukankah kakak harus menemani Zen?" ucap Amee dengan lembut.


Mendengar ucapan Amee, kak Kai langsung membuka matanya kembali dengan tegas.


"Vann dan Yunxi sudah mengantar dan menemaninya Zen pergi ke Beijing Wanchai University. Hari ini aku akan ijin dulu. Dan hari ini juga tidak ada jadwal untuknya." jelas kak Kai sambil memeluk gulingnya kembali.


"Oh. Baiklah. Aku akan siapkan pakaian untuk kakak. Dan aku akan menunggu kakak di ruang makan." ucap Amee sambil melenggang menuju lemari pakaian kak Kai untuk mengambil pakaian ganti untuk kak Kai.


"Amee ..." panggil kak Kai pelan sembari membuka matanya kembali dan menatap Amee yang kini berdiri di depan lemari pakaian yang tak jauh dari tempat dia berbaring.


"Hhm ... ya, Kak?" jawabnya tanpa menatap kak Kai, karena dia masih sibuk mencari pakaian.


"Apakah semalam aku berkata mengenai sesuatu yang aneh? Atau berbuat hal yang aneh?" tanya kak Kai sangat ingin tau.


"Ehm? Tidak ada, Kak. Semalam kakak mabuk dan langsung tertidur kok."


"Kau yakin, Amee?"


"Iya, Kak. Tidak ada yang terjadi." jawab Amee dengan jujur. "Baiklah. Aku akan menunggu kakak di ruang makan." imbuhnya sambil meletakkan pakaian ganti untuk kak Kai di sebelah kak Kai.


"Hhm ..." sahutan pendek terlontar dengan pelan oleh kak Kai. Keningnya yang sempat berkerut kini mulai kembali lagi dan matanya mulai terpejam lagi.


"Hhm ... benarkah aku tidak mengigau sesuatu semalam? Ah ... sudahlah! Kepalaku masih sangat pusing saat ini." gerutu kak Kai yang semakin kuat memeluk gulingnya.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2