
Sebuah Ferrary merah menyala mulai terparkir di depan salah satu appartement elit di Beijing. Setelah beberapa saat, seorang gadis yang begitu anggun dan cantik dengan dress panjang berwarna tawny dan dibalut dengan coat sweet caramel mulai melenggang dengan anggun mendekati mobil itu dan segera memasuki mobil itu melalui pintu bagian depan samping kemudi.
"Selamat malam, maaf jika kakak sedikit terlambat. Karena jalanan sedikit macet." ucap pengemudi mobil berkacamata itu sebelum menyalakan kembali mesin mobil itu.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku juga baru saja turun kok." gadis berambut panjang kecoklatan yang sedikit bergelombang itu berkata dengan begitu ramah.
"Hhm. Baiklah. Kita berangkat sekarang ya ..." ucap pengemudi berkacamata itu lalu menyalakan mobil itu kembali dan mulai mengemudikannya.
Dengan kecepatan laju yang begitu teratur, Ferrary merah itu mulai membelah jalanan yang sedikit ramai itu. Akhir pekan memang biasanya jalanan akan sedikit lebih ramai jika dibandingkan dengan hari biasa.
"Bagaimana pekerjaan hari ini? Apakah semua berjalan dengan lancar?" ucap pengemudi berkacamata membuka obrolan kembali.
"Hhm. Iya, Kak. Bagaimana dengan, Kakak?"
"Semua berjalan dengan lancar, hanya saja akhir-akhir ini Zen sedikit berbeda. Akhir-akhir ini dia terlihat begitu murung dan tidak sering membuat hal-hal konyol seperti biasanya." ucap pria berkacamata itu yang juga terlihat sedikit murung.
Gadis cantik dan anggun itu hanya terdiam beberapa saat dan tidak berani menjawab sepatah kata apapun, khawatir jika dia akan salah bicara dan akhirnya malah menghancurkan malam ini. Malam yang sudah dinantikan oleh si pria berkacamata untuk mengajak gadis itu berjalan-jalan di akhir pekan.
"Amee ... apa kau mendengar, Kakak?" ucap pria berkacamata yang tak lain adalah kak Kai yang malah melihat Amee diam saja dan melamun.
"Eh ... iya, Kak. Aku mendengarnya kok." jawab Amee dengan cepat. "Mungkin saja ... Zen sedang ada masalah, Kak."
"Kakak juga merasa begitu. Tapi dia tidak mau menceritakan semuanya kepada kakak. Setiap kali kakak mencoba menanyakan kepadanya, dia selalu bilang tidak ada." ucap kak Kai yang masih terlihat begitu murung.
"Mungkin dia tidak ingin membuat kakak mengkhawatirkannya. Zen selalu menyimpan masalahnya sendiri selama ini." ucap Amee dengan sangat berhati-hati.
Kak Kai hanya terdiam mendengar jawaban dari Amee yang mungkin sedikit membuatnya merasa bersedih, karena Amee benar-benar sangat memahami Zen.
Setelah beberapa saat, akhirnya kak Kai mulai memarkirkan Ferrary merah menyala itu dan mulai melepas sabuk pengamannya. Keduanya mulai turun dari mobi itu.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita menonton konser di 13 Club dulu?" ucap kak Kai menananyakan kepada Amee.
"Hhm ..."Amee tersenyum dan mengangguk.
Setelah mendapatkan persetujuan dari gadis cantik itu, kini kak Kai mulai melenggang dan diikuti oleh Amee. Karena jalanan taman yang sedikit ramai, seorang pengungunjung pria yang sedang berjalan terburu-buru tak sengaja menabrak tubuh Amee dengan cukup keras.
BRRUUKK ...
"Maaf ..." ujar pengunjung pria itu meminta maaf.
"Tidak apa-apa ..."Amee masih menyauti dengan ramah bahkan tersenyum.
Pengunjung pria itu tak berkata apa-apa lagi dan segera melenggang meninggalkan mereka berdua.
Kak Kai segera berinisiatif dan mengulurkan tangan kanannya, dan ini sungguh membuat Amee bingung dan terdiam beberapa saat. Namun akhirnya Amee menerima uluran tangan itu dengan hati-hati.
Selama ini kak Kai tidak pernah melakukan hal seperti itu terhadapnya. Meskipun pribadi kak Kai begitu ramah dan lembut, namun dia tidak pernah memperlihatkan sisi manis dan lembut untuk seorang gadis, bahkan kepada Amee pun tidak pernah.
"I-Iya, Kak ..." Amee menyauti dengan begitu pelan dan sedikit malu, karena ini adalah pertama kalinya seorang pria menggandengnya di tempat umum.
Bahkan saat dia menyukai Zen, mereka tidak pernah melakukan hal seperti ini. Baginya, hanya dengan bertemu dan melihatnya saja sudah lebih dari cukup.
Mereka mulai membeli tiket dan menyaksikan sebuah konser di 13 Club. Biasanya di sini akan ada konser metal dan gitar solo. Satu malam berada di 13 Club ini akan begitu menghibur, dengan berpesta semalaman bersama teman-teman dan menikmati alunan musiknya.
Kebanyakan pengujungnya adalah anak-anak muda, mereka menonton dan menikmati sebotol bir dan minuman lain sambil melompat sesuka hati diiringi dengan musik keras punk rock, hip hop, dan lagu-lagu pop. Mereka menikmati penampilan musik underground sambil menari diiringi irama dan lampu laser di klub yang menyinari memutari ruangan dengan berkelap-kelip
Namun sepertinya ini membuat Amee merasa sedikit tidak nyaman, dan tentu saja saja kak Kai segera menyadarinya dan mengajak Amee untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi dan mencari tempat yang lebih tenang?" ucap kak Kai di dekat telinga gadis cantik itu karena suara musik yang begitu keras dan memekakkan telinga.
Amee hanya mengangguk saja, dan akhirnya kak Kai mulai menuntun Amee untuk keluar dari tempat konser itu.
Kini mereka berdua berjalan-jalan santai di sepanjang gang Danau Houhai sambil menikmati pemandangan indah dan nuansa damai. Saat di malam hari akan terlihat begitu memukau dengan pantulan cahaya warna-warni dari bar di sekitar Danau Houhai.
Sambil menghirup angin malam atau sekedar melihat orang-orang berlalu-lalang di sekitar objek wisata yang begitu terkenal ini, akan menjadikan hati dan pikiran sedikit menjadi lebih tenang.
Amee dan kak Kai menjelajahi setiap hutong (gang) dan kawasan kota Beijing ini yang otentik dan tak lupa mereka juga mengambil beberapa foto-foto tradisional Tiongkok yang berasal dari dinasti Yuan.
"Ehm ... mau makan sesuatu? Sweet potatoes ... atau adakah yang ingin kau makan saat ini? Biar kakak belikan sebentar." tanya kak Kai menawari.
"Aku terserah kakak saja."
"Baiklah, tunggu sebentar disini dan jangan pergi kemana-mana ... kakak akan segera kembali."
"Baik, Kak."
Kak Kai mulai melenggang dan mendatangi sebuah kedai makanan untuk membeli sesuatu, sementara Amee duduk di sebuah bangku taman. Dia menatap sekelilingnya, tempat ini cukup ramai oleh pengunjung. Mereka berlalu lalang, dan kebanyakan pengunjungnya adalah pasangan kekasih.
Ada beberapa kedai yang menjual beberapa makanan siap saji, sesekali juga terlihat beberapa kembang api yang meluncur menghiasi langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelip dengan indah.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kak Kai sudah datang kembali dengan membawa dua pack sweet potatoes yang masih begitu hangat dan membawa dua gelas capucino hangat.
Kak Kai segera duduk di sebelah Amee dan memberikan masing-masing untuk Amee.
"Terima kasih, Kak." ucap Amee dengan tulus.
__ADS_1
Kak Kai hanya tersenyum mendengar ucapan Amee. Kini keduanya mulai menikmati cemilan hangat itu sambil menatap Danau Houhai yang terbentang di hadapan mereka dengan begitu indah dan memukau.