
Zen mulai melenggang dengan langkah lebar dan begitu keren menuju rumah besar keluarga Kagami.
"Hai, Igor. Hai, Brian!" sapa Zen dengan senyum lebar menatap kedua pengawal keluarga Kagami yang sedang berjaga di luar.
Sementara yang disapa hanya tersenyum samar dan membungkukkan badannya.
Zen mulai melenggang kembali diikuti oleh kak Kai dan keempat pengawalnya. Lalu dia memencet bel rumah itu. Beberapa saat pintu itu sudah terbuka.
"Hallo, Paman Wu. Oya ... ini untuk paman." Zen menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepada paman Wu.
"Terima kasih. Tapi tidak usah repot-repot, Tuan." paman Wu menolak pemberian Zen dengan sopan.
"Tidak apa-apa, Paman. Bukankah paman suka mengkoleksi jam? Makanya aku membelikan untuk paman." kini Zen memaksa paman Wu untuk menerima pemberian darinya.
"Eh??"
Darimana anak ini bisa tau kalau aku suka mengkoleksi jam tangan?
Batin paman Wu kebingungan.
"Dimana nyonya Yuna?" tanya Zen lagi.
"Tuan bisa menunggu di ruang tengah dulu. Nyonya akan segera datang."
"Oke. Lalu dimana si kembar?"
"Tuan muda Kenzi dan Kenzou sedang bermain di ruang bermain."
"Baiklah ..." sahut Zen lalu melenggang kembali memasuki rumah itu layaknya sang pemilik rumah yang sudah sangat hafal tata letak di dalam rumah itu.
"Kalau begitu kami permisi, Paman." ucap kak Kai membungkukkan badan lalu mulai melenggang mengikuti Zen.
"Zen. Jaga sikapmu! Keluarga ini bukan keluarga biasa!" bisik kak Kai sangat pelan. "Dunia gangster itu sangat menakutkan!" imbuh kak Kai sambil mengusap tengkuknya.
Zen sedikit melirik kak Kai dan tertawa kecil, "Kakak tenang saja! Doragonshadou bukanlah gangster kriminal. Tapi mereka melindungi dan menegakkan keadilan. Yah ... walaupun caranya memang sedikit kejam dan brutal."
"Tetap saja kakak ngeri ..."
Zen kembali tertawa kecil mendengar ucapan kak Kai. Mereka kembali melenggang hingga langkah mereka membawa mereka pada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh mainan anak-anak.
Zen mulai memasuki ruangan bernuansa biru laut yang terlihat sangat manis itu. Senyumnya mengembang setelah melihat Kenzi dan Kenzou yang sedang bermain ditemani oleh kedua baby sitternya.
"Hallo, Sayang ...." sapa Zen kepada bocah kembar itu dan sedikit jongkok.
Seketika Kenzi dan Kenzou segera berlarian ke arah Zen dan memeluknya begitu saja. Tawa bahagia terlihat pada mereka bertiga. Terasa begitu hangat, dan mengeluarkan aura seperti seorang ayah dan anak yang begitu harmonis.
"Kalian apa kabar?" tanya Zen sambil mengusap lembut kepala kedua anak kembar itu.
__ADS_1
"Baik, Kakak ganteng." celoteh Kenzi dengan begitu lucu. Suaranya masih belum jelas dan intonasinya sangat lucu.
"Kakak bawakan coklat dan permen kesukaan kalian hari ini ..." ucap Zen dengan senyum lebar dan memberikan sebuah bingkisan untuk mereka.
Dengan cepat Kenzi dan Kenzou segera merogoh isi di dalam bingkisan itu dan mengeluarkan coklat dan permen.
"Wah. Bukain ..." celoteh Kenzou sambil menyodorkan permen itu kepada Zen.
Dengan senyum lebar Zen segera menerima permen itu dan membukakan bungkusnya.
"Terima kasih, Kakak ganteng." celutuk Kenzou dengan lucu.
Sementara Kenzi lebih suka membukanya sendiri.
"Bagaimana? Enak?"
"Enak, Kak!" sahut mereka berdua kompak.
"Li Zeyan!" tiba-tiba terdengar seruan dari seorang wanita. Semua yang berada di dalam ruangan segera menoleh ke arah suara. Ternyata Yuna sudah berdiri di ambang pintu.
"Kalian main lagi ya. Kakak akan berbicara dengan mama kalian dulu." ucap Zen begitu lembut. Kedua anak kembar itu hanya mengangguk dan segera bermain kembali.
Zen bangkit dan mulai berjalan menghampiri Yuna.
"Ini ..." Yuna mengulurkan tangannya dengan dingin.
"Terima kasih." ucap Zen dengan tulus lalu segera menyimpan pena keemasan itu.
"Ikut aku!" perintahnya lalu mulai melenggang begitu saja.
"Kak. Aku akan berbicara sebentar dengan nyonya Yuna." ucap Zen berpamitan kepada kak Kai.
"Hhm. Okay ..."
Zen mulai melenggang dan mengikuti Yuna yang membawanya pada sebuah ruangan. Dan ternyata di sana sudah ada Yukimura yang sudah menunggu.
Yuna segera duduk di sofa tunggal, diikuti oleh Zen yang segera duduk juga di seberang Yukimura. Beberapa saat Zen dan Yukimura saling bertatapan lama dan seperti melakukan pembicaraan melalui mata.
"Yukimura. Ini adalah bocah yang aku ceritakan kemarin." ucap Yuna dengan tegas.
Yukimura mulai mengamati Zen kembali dari ujung kepala sampai ujung kaki dan tersenyum misterius.
"Siapa namamu, Bocah?" tanya Yukimura kepada Zen.
Ternyata Zen dan Yukimura telah merencanakan sesuatu dan berpura-pura untuk tidak saling mengenal.
"Namaku Li Zeyan. Atau biasa dipanggil Zen, Paman. Aku adalah idol nomor 1 saat ini." sahut Zen dengan penuh percaya diri. Dia bersandar pada kursi keemasan yang mewah itu, sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.
__ADS_1
Maafkan aku, Yuna. Tapi aku masih harus melanjutkan semua drama ini dulu. Karena aku akan segera kembali ke Beijing lagi hari ini. Dan aku tidak mau membuatmu shock dan bersedih. Tapi aku sudah sedikit tenang karena ada Yukimura disini ... untuk menjaga kalian menggantikan aku sementara waktu ini. Aku juga masih ingin mencari tau cara untuk kembali ke ragaku yang sebenarnya. Dan lagi, aku juga masih harus menemukan sesuatu di Beijing. Mencari tau penyebar video itu, karena aku sudah berjanji akan menemukannya bagaimanapun caranya.
Batin Zen yang kini tiba-tiba terlihat sedikit murung karena sebentar lagi dia akan meninggalkan keluarganya lagi.
"Hhm ... Li Zeyan ya. Bisa kau jelaskan padaku? Mengapa kau mengetahui rahasia Kagami Jiro?" tanya Yukimura dengan ekpresi begitu serius.
"Tidak tau. Aku hanya melihat semua itu di dalam mimpiku saja. Karena aku sering mengalami mimpi yang selalu menjadi kenyataan, jadi aku memutuskan untuk memberitau nyonya Yuna, Paman." jawab Zen dengan nada bicara tenang.
"Mimpi yang menjadi nyata? Apa kau sedang berbicara tentang hal konyol dan tidak masuk akal lagi?! Katakan semua dengan jujur, Bocah! Jangan bermain-main dan bertele-tele!" hardik Yuna yang terlihat begitu marah.
"Yuna, tenanglah! Biarkan Li Zeyan menjelaskan semuanya dulu ..." sela Yukimura dengan sangat berwibawa.
Yuna menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya dan melengos membuang nafas kasarnya ke udara.
Malangnya nasibku, mendapat perlakuan seperti ini dari istriku sendiri sebelum aku pergi. Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya dengan cepat! Dan aku akan segera kembali lagi sebagai suamimu, Yuna. Tunggu hingga waktu itu tiba. Dan kita akan bersama kembali.
Batin Zen yang terlihat sedikit murung.
"Sejak kapan kau sering mengalami mimpi yang menjadi kenyataan?" tanya Yukimura yang menatap Zen dengan sangat serius.
"Sejak aku terbangun dari koma." jawab Zen asal tentu saja. Karena itu semua tentu saja hanya sebuah kebohongan yang dia gunakan sebagai alasan.
"Ternyata begitu ya." ucap Yukimura sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia paham. "Terima masih ya. Karena berkatmu nyonya Yuna jadi bisa menemukanku!" imbuh Yukimura dengan senyum lebar.
"Sama-sama, Paman." sahut Zen dengan senyum tipis. "Apakah tuan Kagami Gumi masih belum pulang juga?"
"Ayah akan pulang lusa!" Yuna menyauti dengan begitu dingin dan tegas.
"Oh ..." lagi-lagi Zen kini terlihat sedikit murung karena tidak bisa bertemu dengan ayahnya.
"Lalu dimana Christal?" tanya Zen lagi yang kini menanyakan keberadaan adik tercintanya.
Yuna mengernyitkan keningnya menatap Zen, "Kau juga tau tentang Christal? Apa Christal juga hadir di dalam mimpimu?!"
Zen menanggapi pertanyaan itu dengan senyum hangat, "Iya. Aku juga bermimpi tentangnya ..."
"Christal sedang keluar bersama temannya."
"Ternyata begitu ya ... Bolehkah aku bermain sebentar dengan Kenzi dan Kenzou? Karena sebentar lagi aku harus segera kembali ke Beijing."
"Kau boleh tentu saja." sahut Yukimura.
Seketika Yuna melotot menatap Yukimura, "Yukimura-sama!"
Yukimura hanya menatap Yuna dengan tenang lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis.
"Terima kasih ... aku akan bermain bersama mereka sebentar." Zen tersenyum hangat lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...