
Kakek Li Feng mulai menatap pemuda bermata kebiruan itu dengan tatapan yang masih begitu samar, "Zen ..."
Pemuda bernama Zen itu kini mengangguk pelan dan mulai menyeka air matanya yang rupanya sudah terjatuh dan membasahi pipinya lagi.
"Iya, Kakek. Ini adalah aku ... Zen." ucap Zen terdengar begitu bergetar dan masih begitu terharu karena kakek Li Feng yang sudah sadar kembali.
Dan tentu saja Zen akan merasa begitu mengkhawatirkan sang kakek. Karena bagi Zen, kakek Li Feng adalah segalanya untuknya. Sebagai seorang kakek yang merangkap sekaligus sebagai seorang ayah untuk Zen.
Zen tak bisa menahan air mata hangatnya hingga akhirnya pipinya kembali basah oleh air mata hangat itu, dan Zen juga segera memeluk tubuh kakek Li Feng yang masih terbaring begitu lemah di atas brankar.
"Aku takut sekali saat mendengar kakek mengalami kecelakaan itu. Aku takut sekali kehilangan kakek. Aku takut sekali, Kakek ... aku tidak mau kakek pergi! Aku tidak mau sendirian! Kakek harus segera pulih dan mari kembali ke rumah besar bersama! Mulai sekaranh aku akan meninggalkan apartemenku dan tinggal bersama dengan kakek!" ucap Zen dalam isak tangisnya dan masih memeluk tubuh kakek Li Feng yang masih terbaring dengan lemah dan tidak bertenaga.
Sebuah usapan yang begitu lembut mulai membelai pelan kepala Zen dengan hangat. Jemari yang selalu menggenggam Zen kecil hingga Zen tumbuh menjadi seorang pemuda tampan, tangan yang selalu melakukan apapun untuk membahagiakan Zen, tangan yang selalu menggendong dan menimang saat Zen kecil, dan tangan yang selalu mengusap air mata Zen kecil disaat Zen bersedih dan menangis ... seakan Zen tak mau terlepas dari usapa samg kakek.
"Kakek baik-baik saja, Zen. Kakek tak akan meninggalkanmu sendirian. Sebelum kamu menemukan kebahagianmu bersama orang yang menyayangimu, maka kakek tak akan pergi dan tak kakek tak akan meninggalkanmu, Zen." ucap kakek Li Feng begitu lirih dan membuat Zen semakin merasa sesak.
"Jangan berkata seperti itu, Kakek. Aku sangat takut ... aku tak sanggup membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi ... aku tak sanggup, Kakek. Mendengar kakek mengalami sebuah kecelakaan ini saja sudah membuatku begitu bersedih dan dan frustasi. Ingin rasanya dalam sekejap saja bisa menghilang dan berada di sisi kakek. Pokoknya kakek harus selalu sehat!!" ucap Zen dengan kekeh dan belum melepaskan pelukannya.
"Hhm baiklah. Tapi berhentilah menangis seperti ini, Cucuku Zen. Kamu adalah seorang pria, dan kamu harus selalu kuat apapun yang sedang kamu hadapi." ucap kakek Li Feng kembali masih dengan lirih.
__ADS_1
Zen mulai mengusap air matanya dan segera duduk kembali. Meskipun kini tangisnya sudah berhenti, namun sepasang matanya masih terlihat sedikit merah dan masih berair.
"Aku akan memenuhi keinginan kakek. Aku akan menjadi pria yang lebih kuat lagi, Kakek." ucap Zen yang sesekali masih megusap sisa air matanya dan menarik nafas.
Tok ... tok ... tok ...
CEKLEKK ...
Tiba-tiba pintu mulai terbuka setelah terdengar beberapa kali terdengar ritme teratur dan seorang pria dengan pakaian yang begitu rapi mulai memasuki ruangan rawat VIP ini.
"Tuan Li Feng. Bagaimana keadaan tuan?" sapa pria bergengsi itu ketika sudah berdiri di samping brankar.
"Syukurlah. Aku selaku project manager di dalam perusahaan China State Construction Engineering sungguh meminta maaf atas kelalaian dalam savety dalam kasus ini, Tuan Li Feng. Perusahaan kami akan membayar seluruh biaya rumah sakit dan pengobatan ini. Dan perusahaan kami juga akan memberikan dispensasi untuk tuan Li Feng." ucap Miles Wei dengan nada yang begitu rendah dan terlihat merasa bersalah dan begitu menyesal.
"Tidak masalah, Tun Miles Wei. Semua hal yang terjadi saat ini sudah digariskan. Dan tentu saja takdir ini akan tetap terjadi. Tidak perlu merasa bersalah. Namun ... bukankah aku kehilangan cukup banyak darah saat itu? Golongan darahku cukup langka, apakah rumah sakit memiliki persediaan darah yang sama dengan golongan darahku saat itu?" ucap kekek Li Feng ingin tau. "Ataukah ... Zen yang sudah mendonorkan darahnya padaku?" imbuhnya mulai beralih menatap Zen.
Namun Zen malah menggeleng pelan, "Aku baru saja tiba disini dini hari, Kakek. Sementara saat aku datang semua tindakan sudah diselesaikan dengan baik oleh pihak rumah sakit" ucap Zen menatap lekat sang kakek.
Miles Wei sempat menatap ke arah Zen, namun hanya melihat sisi belakang Zen saja dan belum menatap wajah Zen.
__ADS_1
"Karyawanku yang bernama Wang Jun yang sudah mendonorkan darahnya untuk tuan Li Feng. Kebetulan sekali persediaan infus darah di rumah sakit sedang kehabisan. Dan sangat kebetulan sekali Wang Jun memiliki golongan darah yang sama dengan tuan Li Feng." jelas Miles Wei apa adanya.
"Wang Jun?" kakek Li Feng bergeming pelan dengan kening yang sedikit berkerut. "Siapa Wang Jun? Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apa dia karyawan baru?"
"Benar sekali, Tuan Li Feng. Baru 3 minggu Wang Jun bergabung dengan kami." sahut Miles Wei dengan senyuman tipis.
"Bisakah aku bertemu dengannya? Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya." ucap kakek Li Feng berharap bisa bertemu dengan penolongnya.
"Saat ini Wang Jun sudah kembali pulang. Lain kali aku akan memintanya untuk datang dan menemui tuan Li Feng."
Tiba-tiba saja sebuah alunan musik yang begitu tak asing mulai terdengar dari ponsel Zen. Rupanya sebuah panggilan yang berasal dari Li Kai. Dengam cepat Zen segera pamit untuk mengangkat panggilan itu.
"Kakek, aku akan mengangkat panggilan ini dulu." ucap Zen yang mulai bangkit dari duduknya dan mulai berbalik hingga kini Zen saling bertatapan dengan Miles Wei.
Sebenarnya Miles Wei cukup terkejut saat menatap Zen. Seolah wajah pemuda tampan itu pernah dilihatnya sebelumnya. Makhlum saja, Miles Wei adalah seorang pengusaha sukses yang hidupnya hanya berkutat dalam dunia bisnis. Dan tentu saja Miles Wei tidak mengetahui jika Zen adalah mantan dari seorang idol.
"Permisi, Tuan." ucap Zen dengan ramah dan sedikit membungkukkan badannya sebelum Zen meninggalkan ruangan rawat sang kakek.
Pemuda itu ... rasanya aku pernah melihat dia sebeumnya? Tidak mungkin pemuda itu adalah seorang bintang yang berada pada poster super besar di dalam kamar adikku bukan? Namun ... mengapa aku merasa dia mirip dengan seseorang lagi? Hhm ... padahal aku baru saja bertemu dengan pemuda yang merupakan cucu dari tuan Li Feng.
__ADS_1
Batin Miles Wei yang masih menatap punggung Zen yang semakin pergi menjauh, hingga akhirnya Zen mulai meninggalkan ruangan rawat VIP ini.