Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kunjungan Christal


__ADS_3

"Tidak, Tuan Kagami Jiro! Aku tidak mau berbohong lagi. Aku memang menyukai Christal. Bahkan aku sangat berat untuk meninggalkan Jepang ... bahkan saat aku koma, aku terbangun hanya karena mendengar nyanyian dari Christal. Aku membuka mataku karena mendengar Christal menyanyikan salah satu laguku dengan sepenuh hatinya ..." ucap Zen begitu tegas namun suksea membuat sepasang mata kebiruannya berkaca-kaca karena mengingat saat-saat itu. Saat ketika jiwanya mulai terbangun pada raga seorang Kagami Jiro.


Kak Kai yang mendengarkannya mengkerutkan keningnya karena tak mengerti dengan apa yang sudah diucapkan oleh Zen. Namun satu hal yang dia tau, Zen berkata dengan jujur dan sangat tulus saat ini.


"Baiklah. Aku percaya padamu, Bocah Li Zeyan. Kalian boleh berteman dekat." sahut Kagami Jiro terlihat begitu puas mendengar ucapan Zen.


Setelah beberapa saat akhirnya terdengar suara ketukan dari arah pintu, lalu pintu itu terbuka. Dua orang wanita mulai memasuki ruangan rawat ini dengan salah satu dari mereka membawa beberapa bingkisan kecil lalu mulai meletakkan bingkisan itu di atas nakas dan mulai membukanya.


"Sudah ramai saja ya, padahal baru saja aku tinggal pergi sebentar." ucap salah satu dari wnita itu yang tak lain adalah Yuna. "Untung saja aku membeli banyak ya ..." Yuna tertawa kecil lalu mulai menyiapkan satu porsi takoyaki untuk Kagami Jiro. "Ini sayang ..."


"Tega sekali kamu padaku, Yuna. Masa aku makan sendiri? Lihatlah tangan kanannku saja bahkan masih memakai gips." sungut Kagami Jiro.


"Ahaha ... maaf ... aku lupa, Sayang." sahut Yuna lalu mulai mengambil sumpit dan menyuapi Kagami Jiro.


"Christal, tolong berikan takoyaki itu untuk Yukimura dan Li Kai, dan red velved cake itu untuk Li Zeyan. Karena suamiku saat ini sungguh sangat manja sekali!" ucap Yuna menggoda Kagami Jiro.


Seisi ruangan itu kini tertawa renyah ketika melihat seorang pemimpin utama Doraginshasou yang sangat kuat, kini menjadi begitu manja terhadap istrinya.


...⚜⚜⚜...


Di sebuah kamar di Richmond Hotel, terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di atas kursi rodanya dan menatap keindahan sore kota Yokohama melalui balkon kamarnya.


Pemuda yang tak lain adalah Li Zeyan itu terlihat begitu menikmati saat-saat terakhir dia berada di Negeri Sakura. Musim dingin yang biasanya selalu saja dia lewatkan dengan sangat kesepian, namun pada tahun ini terasa begitu hangat.

__ADS_1


Mengingat keluarga Kagami yang selalu saja menemaninya selama 4 bulan ini, kini membuatnya begitu merindukan sosok kedua orang tuanya yang sudah tiada.


"Ayah ... ibu ... andai saja kalian masih ada disini. Mungkin hari-hariku juga akan terasa begitu hangat. Aku sangat merindukan kalian ..." ucapnya begitu lirih sambil mengusap lembut sebuah figura kecil yang selalu Zen bawa kemanapun dia pergi. Terutama saat pergi ke luar kota atau ke luar negri seperti ini.


Sebuah figura kecil yang bergambarkan seorang gadis yang sedang bersama dengan seorang pemuda tampan dan juga memiliki sepasang mata kebiruan yang begitu indah seperti Zen. Mereka mengenakan sebuah pakaian pengantin dan berfoto bersama di depan sebuah altar putih yang begitu megah dan kokoh.


"Aku rindu sekali dengan kalian ..." tak terasa air mata hangat itu sudah membasahi pipinya yang tak pernah luput dari perawatan rutin yang selalu Zen lakukan selama ini.


Namun 4 bulan ini terlihat sedikit kusam karena mungkin Kagami Jiro yang malas untuk merawat kulit Zen. Bisa dibayangkan? Seorang pemimpin Yakuza terbesar melakukan perawatan terhadap kulitnya? Selain malas, mungkin alasan lain dari Kagami Jiro adalah tidak sempat!


Karena selama Kagami Jiro menempati tubuh Zen, Kagami Jiro lebih menyukai menghabiskan waktunya untuk latihan otot, kebugaran, angkat beban, dan memainkan alat-alat gym lainnya.


Tok ... tok ... tok ...


"Tuan, Zen. Nona Christal sudah datang." ucap Vann dengan nada yang begitu rendah.


Christal yang sedari tadi berada di balik tubuh Vann, kini mulai menampakkan dirinya dan mulai menyapa Zen dengan begitu ceria. Senyuman yang terlihat tanpa ada sebuah beban itu menghiasi wajah mungilnya. Sungguh perpaduan yang apik dan selalu saja membuat Zen merasa beban-beban di dalam hidupnya lenyap seketika.


Bahkan salah satu yang membuat Zen tetap semangat selama menjalani kehidupannya selama 4 bulan ini adalah Christal. Seorang gadis yang sangat polos, lucu, periang, baik, dan selalu saja terlihat ceria setiap hari.


Dan tentunya sangat membuat keseharian Zen begitu berwarna, karena mereka berdua memiliki banyak kesamaan. Seperti makanan, film, hobi menonton, dan hobi bermain game.


"Hallo, Li Zeyan!!" Christal yang masih berada di belakang Zen kini menyembulkan kepalanya dengan senyum lebar dan melambaikan tangan kirinya.

__ADS_1


Zen hanya menatap Christal dengan senyum lebar dan begitu senang ketika melihat kehadiran Christal di hotelnya.


Yeap, Zen sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Jadi kak Kai membawanya kembali hotel. Selama 3 hari sekali Zen akan kembali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap kakinya.


Karena Christal sudah berjanji akan menemani Zen untuk bermain console game bersama selepas Christal pulang dari sekolahnya, akhirnya setiap pulang sekolah, Christal akan mengunjungi Zen di hotel dimana Zen menginap. Bahkan Christal juga masih mengenakan seragam sekolahnya dengan lengkap dan memakai sebuah jaket.


Vann membungkukkan badannya dan segera meninggalkan kamar itu, karena Vann hanya datang untuk mengantar Christal saja.


"Bagaimana di sekolahan hari ini?" ucap Zen yang masih selalu menghiasi wajah tampannya dengan seulas senyuman hangat.


"Seperti biasanya! Membosankan!" celutuk Christal sambil melihat-lihat sekitar kamar Zen.


"Mengapa membosankan? Masa SMU adalah masa yang indah. Bahkan masa sekolah akan selalu dirindukan oleh hampir setiap orang kelak." ucap Zen apa adanya.


"Hhm. Menurutku itu sangat membosankan, Li Zeyan. Apalagi kelas 3 SMU, begitu banyak tugas sekolah dan persiapan untuk memasuki universitas." celutuk Christal sedikit cemberut lalu Christal mulai melihat-lihat kembali kamar Zen karena sedikit penasaran hingga akhirnya Christal menemukan sebuah figura di atas sebuah meja.


Sebuah figura yang tadi sempat dipegang oleh Zen. Christal mulai mengambil figura itu melihatnya selama beberapa saat.


"Apa mereka adalah orang tuamu, Li Zeyan? Pria ini sangat mirip denganmu." ucap Christal yang masih mengamati dan mengusap kaca dari figura itu.


"Hhm. Mereka adalah kedua orang tuaku ..." ucap Li Zeyan yang entah mengapa terdengar sedikit menyesakkan.


Christal terdiam selama beberapa saat dan berusaha untuk mengingat sesuatu, hingga akhirnya Christal berhasil mengingatnya. "Bukankah ... mereka sudah meninggal?"

__ADS_1


__ADS_2