Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Diambang Hidup dan Mati


__ADS_3

"Zhang Wei akan mendapat hukuman 6 tahun penjara atau bisa bebas dari hukuman dengan membayar denda 1.000.000 yuan. Hanya tinggal menunggu pihak berwajib melayangkan surat kepadanya." ucap kak Kai sembari mematikan laptopnya dan mulai berkemas.


Zen tersenyum penuh kemenangan dan menyandarkan dirinya pada sofa. Sementara kedua kakinya diluruskan dan dinaikkan di atas meja. Sebenarnya tingkahnya ini sempat membuat kak Kai geleng-geleng kepala dan sangat keheranan.


"Kerja bagus, Kak!" sahut Zen sambil tersenyum dan memejamkan matanya. "Ngomong-ngomong apakah pelaku penyebaran video itu sudah ditemukan?" imbuhnya tiba-tiba.


"Belum. Sangat sulit melacaknya, karena IP yang ditemukan adalah IP sebuah warnet. Sedangkan yang memakai warnet bukan hanya satu orang, dua orang." kata kak Kai lalu mengambil secangkir matcha hangat dan meneguknya.


"Ehm. Di daerah mana warnet itu? Biarkan aku saja yang mencari tau sendiri. Atau berikan saja video itu padaku! Aku akan mencari tau semuanya sendiri!" ucap Zen yang kini membuka matanya dan menatap kak Kai dengan tenang.


"Kau yakin ingin melihat video itu lagi?" tanya kak Kai dengan sangat berhati-hati.


Sebenarnya kak Kai masih sangat khawatir jika Zen akan down lagi setelah melihat video rekaman masa lalunya itu lagi.


"Hhm. Tentu saja. Berikan saja padaku!" jawab Zen tanpa beban.


"Baiklah. Tunggu sebentar!" kini kak Kai mulai menghidupkan laptopnya kembali dan mulai menyalin video itu dari dalam laptopnya ke dalam sebuah flasdisk.


"Ini." ucap kak Kai sambil menyerahkan flasdisck itu untuk Zen. "Kau sungguh tidak akan melakukan hal nekat lagi kan setelah melihat video ini?" tanya kak Kai yang terlihat begitu khawatir.


"Tenang saja! Aku tidak akan melakukan hal bodoh! Hidup itu sangat berharga! Masih beruntung aku diberi kesempatan hidup sekali lagi. Ini benar-benar sebuah anugrah!" sahut Zen dengan senyum tipis dan mulai menimang-nimang flasdisk itu.


"Hhm. Kau sangat benar kali ini, Zen! Jadi kamu harus benar-benar menghargai hidupmu." ucap kak Kai dengan bijak. "Oh iya. Hampir saja lupa!" ucap kak Kai tiba-tiba. "Malam ini ada pesta ulang tahun An Jiu. Kita harus berangkat."


"Siapa An Jiu?"


"Kau sungguh tak mengenalinya?" tanya kak Kai hampir tak percaya. "Dia seorang model besar saat ini. Tidak ada yang tidak mengenalinya ... kecuali kau." celutuk kak Kai menggoda Zen.


"Haishhh ..." gumam Zen memejamkan matanya dan mengangkat salah satu alisnya.


Tentu saja aku tidak akan mengenalinya! Yang aku ketahui ya urusan klanku, negara dan penjahat saja. Mana sempat aku melihat dunia entertaiment.

__ADS_1


Batin Zen sedikit kesal.


"Baiklah. Cepat mandi dan bersiaplah! Satu jam lagi kita akan berangkat." ucap kak Kai sambil melirik Patek Philippe Sky Moon Tourbillon-nya yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya.


"Hhm. Baiklah! Aku juga sangat bosan jika di rumah terus, Kak." celutuk Zen lalu bangkit dan segera menuju ke kamarnya.


...⚜⚜⚜...


Ruang Perawatan VIP 3-3 St. Luke's International Hospital Tokyo.


Terlihat seorang pria dewasa yang tubuhnya dipenuhi dengan tato sedang terbaring lemah dan sebagian tubuhnya masih lengkap menggunakan beberapa selang dan alat bantu pernafasan.


Di sebelahnya telah duduk seorang gadis muda yang sangat cantik dengan wajah yang begitu mungil dengan rambut sebahu. Dia terlihat sedang memainkan ponselnya di sebelah brankar.


TIIIIT ...


Namun tiba-tiba gadis itu terlihat begitu terkejut dan panik setelah mendengar bunyi yang berasal dari ventilator. Sepasang mata indahnya dengan cepat mulai melihat layar di sebelah brankar untuk melihat sinyal-sinyal elektrokardiogaram itu. Garis-garis zig zag itu perlahan berubah menjadi garis lurus.


Hingga beberapa saat seorang pria bermata sipit dengan memakai kemeja abu-abu dengan memakai almamater putih kebanggaannya mulai memasuki ruangan itu dengan langkah tergesa. Lalu diikuti oleh dua orang pria dengan memakai almamater putih juga dan satu orang perawat.


Salah satu dokter mulai mendekati dan berdiri di depan monitor yang terhubung dengan elektroda yang dipasang pada badan pasien itu.


"Sinyal EKG pasien masih terus tidak teratur." ucap dokter itu.


"Siapkan defibrillator!" perintah dokter utama yang bermata sangat sipit itu.


"Baik!" sahut salah satu dokter lainnya sambil menyiapkan sebuah alat pacu jantung yang berbentuk menyerupai sebuah setrikaan itu.


"Defibrillator bersiap!" teriak dokter utama mengistruksi. "Daya difibrillator, 200 Joule!" teriaknya lagi sambil mendaratkan sepasang benda yang berbentuk menyerupai setrikaan itu pada tubuh pasien, tepatnya di bawah dadanya.


Tubuh pasien yang tak lain adalah Kagami Jiro itu meresponnya dan menghentak ke atas seketika dan bergetar seiring mendaratnya alat pacu jantung itu di bagian bawah dadanya.

__ADS_1


Angka demi angka tekanan terus mereka naikkan dan tindakan itu terus mereka lakukan berulang kali untuk meraih kembali kehidupan Kagami Jiro.


Semua terlihat begitu tegang saat ini. Meskipun mereka sedang memakai masker yang menutupi sebagian wajah bawah, namun terlihat dengan sangat jelas pada raut wajah mereka. Keringat sebiji jangung mulai keluar melalui pelipis sang dokter utama.


"Masih tidak bisa! Naikkan tekanan lagi!" ucap dokter pemantau monitor EKG itu yang terlihat begitu khawatir.


"Baiklah. Atur defibrillator hingga 300 Joule!" seru dokter utama lalu mendaratkan alat pacu jantung itu lagi pada tubuh Kagami Jiro.


Tubuh besar itu kini menghentak lagi ke atas dan kembali bergetar pelan.


Tit ... tit ... tit ...


Bunyi yang berasal dari ventilator itu kini mulai terdengar lagi dan sedikit membuat mereka merasa lega.


"Sinyal EKG sudah mulai stabil kembali. Kita berhasil!" sahut dokter yang bertugas mengawasi monitor itu dengan raut sedikit lega.


Semua yang berada di ruangan ini kini menghembuskan nafas lega. Keringat yang mengucur karena begitu tegang dan khawatir kini terbayar sudah. Kagami Jiro masih bisa diselamatkan.


Christal, adik dari Kagami Jiro kini mulai mendekati brankar sang kakak. Dia memejamkan mata sekejap dan mulai mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Senyum yang tiba-tiba mengcover wajah yang sedari tadi dihiasi kepanikan itu kini mulai terlihat di wajah gadis itu.


"Terima kasih, Dokter!" ucap Christal dengan haru.


"Ini adalah tugas kami, Nona. Tidak perlu berterima kasih." ucap dokter utama dengan sangat ramah. Yeap, selama ini dokter Yu lah yang bertanggung jawab penuh atas perawatan Kagami Jiro.


Christal hanya tersenyum dan mulai menatap tubuh kakaknya kembali.


"Baiklah kami akan kembali. Kalau terjadi sesuatu lagi segera panggil saja. Jika saya sedang tidak bertugas, ada asisten saya yang selalu stay menggantikan saya."


"Hhm. Baik, Dokter Yu."


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2