Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pergi ke Beijing Botanical Garden


__ADS_3

"Bisa jelaskan semuanya kepadaku?" tanya kak Kai dengan nada dan ekspresi yang begitu serius saat mereka di dalam mobil.


"Hhm. Mereka selalu saja menggangguku, saat di kampus bahkan saat di luar kampus juga." sahut Zen dengan santai.


"Mengapa tidak pernah memberitahu kakak? Dan ... para pengawal bahkan tidak ada yang mengatakannya padaku." ucap kak Kai sedikit melirik Zen.


"Jangan salahkan mereka! Aku yang meminta mereka untuk tidak menceritakan semuanya kepadamu." jawab Zen dengan datar dan santai.


"Tapi kenapa? Kakak ini managermu! Dan sudah sepatutnya kakak mengetahui semua yang sedang kau alami, Zen! Kau tau betapa berbahayanya cairan asam klorida itu? Bagaimana jika Zhang Wei benar-benar menyiramnya untukmu?!" ucap kak Kai dengan wajah yang sudah memanas.


"Sory. Aku hanya tidak mau kakak terlalu khawatir." kilah Zen asal.


"Lain kali katakan semuanya pada kakak! Kakak akan melindungimu dengan baik kali ini!"


"Hhm. Tolong urus gugatan untuk mereka atas pencemaran nama baik! Aku tidak bisa diam saja melihat tingkah bocah-bocah berandalan itu!"


"Tenang saja. Kakak akan urus semuanya!" sahut kak Kai yang masih mengemudikan Ferrary merahnya.


"Hhm ..." sahut Zen sambil menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi di sampingnya itu. "Kak. Kita ke taman kota yuk. Aku bosan!"


"Taman?"


"Iya. Aku ingin melihat alam ..."


"Baiklah."


Kini kak Kai mulai menambah kecepatan laju mobil mewah itu. Mereka pergi ke sebuah taman yang ada di Beijing. Taman Botani Beijing (Beijing Botanical Garden), merupakan taman botani yang berada di pinggiran barat laut Beijing dengan luas area sekitar 400 hektar.


Terletak di antara Fragrant Hills Park (Xiangshan Park) dan Jade Spring Hill pada distrik Haidian. Taman botani ini dipenuhi dengan berbagai macam aneka tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Sangat indah dan begitu hangat. Apalagi sekarang adalah musim panas.


Para pengunjung bisa menemukan kebun mawar, taman pohon, tanaman langka, tanaman anggur, kebun ramuan obat tradisional China, dan rumah kaca untuk tanaman tropis dan subtropis.


Banyak sekali bunga tulip yang bermekaran saat ini. Begitu indah dan berwarna-warni.


__ADS_1


Kak Kai dan Zen melenggang bersama diikuti oleh keempat pengawal setianya. Dan tentu saja Zen juga memakai masker dan topinya untuk kembali berbaur di tempat umum.


"Tidak bisakah aku dengan bebas berjalan-jalan tanpa topi dan masker?" keluh Zen lalu menghempaskan tubuhnya di sebuah bangku panjang yang berada di taman itu.


Kak Kai menanggapi dengan senyum gemas sembari membenarkan letak kacamatanya kemudian mulai duduk di sebelah Zen.


"Kalau kamu melepas topi dan maskermu, siap-siap saja untuk diserbu mereka yang sedang berada disini." celutuk kak Kai dengan tawa kecil.


"Haisshh. Memang tak adakah yang tidak mengenal Li Zeyan di dunia ini?" celutuk Zen dengan kesal lalu membuka masker dan topinya. "Sebentar saja. Aku ingin menghirup udara segar ..." imbuhnya lalu mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Lagi-lagi kak Kai hanya tertawa kecil melihat tingkah Zen. Karena merasa risih, kali ini Zen mulai menatap kak Kai dengan sangat serius lalu perlahan mengambil kacamata kak Kai.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Zen? Kembalikan kacamata kakak! Kakak tidak bisa melihat dengan jelas!" ucap kak Kai yang berusaha merebut kacamatanya dari Zen. Namun tentu saja Zen malah semakin menjauhkannya dari kak Kai.


"Kak. Kalau aku perhatikan kakak cukup tampan. Apalagi saat sedang melepas kacamata. Coba saja pakai softlense! Pasti akan meningkat drastis tingkat ketampanan kakak!" celutuk Zen sambil memegang dagu kak Kai dan memperhatikan wajah kak Kai dengan detail.


"Kau ini sedang bicara apa, Zen? Cepat kembalikan kacamata kakak ..." perintah kak Kai lagi.


"Tidak mau ah. Aku akan membelikan softlense untukmu saja." sahut Zen dengan tawa kecil.


"Ahahaha ... baiklah." sahut Zen lalu mengembalikan kacamata milik kak Kai. Dan kak Kai segera memakainya kembali.


Tiba-tiba Zen melihat dua orang anak laki-laki yang terlihat sangat kebingungan. Mereka berdiri di bawah sebuah pohon yang cukup besar dan melihat ke atas. Pandangan Zen kini mengikuti pandangan kedua anak itu, dan kini Zen menemukam sesuatu.


Ternyata kedua anak laki itu sedang bermain layang-layang dan layang-layang mereka kini tersangkut di atas pohon.


"Kak. Tunggu sebentar disini. Aku akan ke seberang sebentar." ucap Zen lalu segera memakai masker dan topinya kembali.


"Hhm. Hati-hati!" sahut kak Kai seadanya.


Kemudian Zen segera bangkit dari duduknya dan mulai melenggang mendekati kedua anak itu. Kedua anak itu masih berusaha mengambil layang-layang yang sedang tersangkut itu dengan menarik-narik benang yang sedang mereka pegang.


"Bocah! Jangan ditarik atau layangannya akan rusak!" ucap Zen tiba-tiba dengan sangat ramah.


"Jadi gimana dong cara mengambilnya kembali?" tanya salah satu anak itu.

__ADS_1


Zen tersenyum lebar lalu mengelus kepala anak itu, "Tunggu sebentar. Om akan ambilkan untuk kalian!"


"Om? Sepertinya kita lebih pantas memanggilmu kakak deh." protes anak itu.


"Oh iya!" sahut Zen sedikit menepuk jidatnya sendiri. "Panggil kakak saja. Hehe ..."


"Okay, Kakak."


Zen mulai mendekati pohon itu dan mulai memanjatnya dengan hati-hati. Terlihat begitu gesit dan sangat terampil. Dia mulai menapaki ranting-ranting itu kemudian mulai memanjat pada ranting bercabangnya dimana layang-layang itu tersangkut.


Perlahan Zen melangkahkan kakinya pada ranting itu, merambat perlahan untuk meraih layang-layang itu karena ranting yang sedang dia pijak tidak terlalu besar. Khawatir tidak akan mampu menopang tubuh Zen.


Perlahan tangannya bisa meraih layang-layang itu, dan tepat saat itu terdengar bunyi sesuatu.


KKRAAKK ....


Ranting itu patah, dan Zen segera mengambil langkah cepat untuk segera melompat.


HAPPP ...


"Wow ... keren sekali!" ucap kedua anak itu bersamaan.


Zen menyerahkan layang-layang itu kepada kedua anak itu dengan senyum lebar.


"Terima kasih, Kakak!" seru kedua bocah itu bersamaan.


"Sama-sama. Main dan terbangkan lagi di tanah lapang, yang jauh dari pepohonan!"


"Okay, Kak!" seru mereka berdua dan segera berlari meninggalkan Zen.


"Ah ... jadi rindu masa kecil." gumam Zen yang masih melihat kedua bocah itu yang semakin berlari meninggalkannya.


"Hhm ... pertunjukan apa lagi yang sedang kakak lihat sekarang ini?" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zen. Dengan santai Zen berbalik dan sudah melihat kak Kai di hadapannya.


"Hanya sedikit menolong anak-anak itu saja kok." sahut Zen dengan senyum lebar. "Tenang saja, Kak. Aku akan selalu menjaga tubuh ini. Bahkan dari goresan dan gigitan nyamuk!" imbuhnya dengan asal.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2