
Zen terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah cafe kecil sambil menikmati ramen dan minuman dinginnya. Sesekali dia melirik benda pipih yang telah dia letakkan di atas meja di hadapannya.
Tak beberapa lama, seorang pria yang berpakaian rapi diikuti oleh 4 orang berpakaian serba hitam mulai menghampiri Zen. Pria berpakaian rapi itu kini segera duduk tepat di samping Zen dan wajahnya terlihat begitu lelah dan kesal.
"Kau pergi kemana saja, Zen? Kau selalu saja berbuat sesukamu sendiri!" pria berpakaian rapi yang baru saja datang itu langsung menceramahi Zen karena sangat kesal.
"Sorry. Aku hanya ingin mencari udara segar, Kak." kilah Zen dengan santainya.
"Bagaimana dengan preman-preman itu? Apa kau bertemu dengan mereka? Apa kau bertemu dengan nyonya Yuna?"
"Satu persatu dong jika bertanya ..." Zen menyauti dengan tawa kecil. Yeap, karena suasana hatinya kini sedang sangat baik mengingat Yuna telah mengundangnya untuk datang ke rumah besar Kagami besok. "Kak Kai sudah seperti wartawan saja ..." imbuh Zen dengan tawa kecil.
"Apa kamu berhasil menyelamatkan nyonya Yuna?"
"Dia selamat sebelum aku datang. Dia benar-benar sangat keren!" jawab Zen asal. "Kelima berandalan itu bisa diselesaikannya dengan begitu mudah." imbuh Zen asal.
"Benarkah itu, Zen?" tanya kak Kai seolah tak percaya.
"Hhm. Benar sekali." Zen menjawab dengan senyum lebar yang begitu menawan.
"Pantas saja Kagami Jiro menyukainya." celutuk kak Kai dengan kekehan kecil.
"Hah? Ahaha iya ... benar ... benar ..." sahut Zen sambil mengusap tengkuknya.
"Kakak sudah belikan tiket untuk penerbangan kita ke Beijing besok."
"Apa? Benarkah itu?" tanya Zen begitu terkejut. " Jam berapa itu?" imbuhnya sedikit ada rasa was-was. Kendati besok Yuna akan mengundangnya untuk datang ke rumah besar Kagami.
"Penerbangan pagi jam 8 Am." sahut kak Kai dengan santai.
"Apa?!" sahut Zen begitu terkejut.
"Ada apa? Mengapa kau begitu terkejut?" tanya kak Kai lalu meraih buku menu untuk memesan makanan.
"Rubah jadwal penerbangan kita, Kak! Kita terbang sore saja!" perintah Zen dengan cepat dan terlihat begitu serius.
"Tidak bisa! Kalau kita mengambil penerbangan sore, kau tidak akan bisa beristirahat dengan cukup. Karena keesokan harinya kau sudah harus syuting lagi, Zen!" kak Kai menyauti dengan serius lalu mulai mengangkat tangan kanannya untuk memanggil waiter.
__ADS_1
"It's okay! Tidak masalah! Aku akan istirahat saat di dalam pesawat. Okay?" bujuk Zen.
"Kau yakin?"
"Yeap. Sangat yakin! Aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik!"
"Huft ... Baiklah ..." sahut kak Kai akhirnya dan segera merogoh ponselnya untuk melakukan sesuatu.Yeap, tentu saja kak Kai segera melakulan re-schedule untul penerbangan besok sesuai dengan keinginan Zen.
Beberapa saat seorang waiter datang menghampiri mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap waiter itu dengan ramah.
"Aku pesan ramen spesial 5 porsi. Dan minuman dingin 5. 4 porsi antarkan pada meja ujung itu!" ucap kak Kai sambil menatap meja ujung yang sudah berisikan keempat pengawal Zen.
"Baik, Tuan!" ucap waiter itu dengan ramah lalu undur diri.
"Kau memang yang terbaik dan paling bisa memahamiku, Kak Kai!" ucap Zen setelah waiter itu pergi. Zen menatap kak Kai dengan wajahnya yang begitu berseri.
"Memang apa yang ingin kau lakukan besok, Zen? Mengapa sampai meminta merubah jadwal penerbangan?'
"Yuna? Istri dari Kagami Jiro?" ucap kak Kai sedikit tidak percaya.
"Hhm. Benar." sahut Zen sambil menikmati ramennya.
"Ada hal apa sampai dia mengundangmu kembali ke rumahnya?" tanya kak Kai begitu penasaran.
"Aku tidak tau! Mungkin saja ingin meminta tanda tanganku atau mau berfoto denganku?" sahut Zen asal disertai tawa kecil. "Aku kan Li Zeyan! Seorang idol besar!"
"Benar! Tapi harus tetap berhati-hati! Jangan sampai tertangkap oleh media!"
"Okay! Jangan khawatirkan itu! Aku akan mematahkan tulang mereka jika mereka membuat berita sembarangan lagi." sahut Zen dengan asal.
"Apa kau bilang barusan?!"
"Aku bilang kak Kai adalah pria tertampan dan terbaik sealam semesta!" sahut Zen asal disertai kekehannya.
"Apa-apaan kamu, Zen!" sungut kak Kai yang terlihat sedikit malu lalu meneguk minuman dinginnya yang baru saja diantarkan oleh seorang waiter.
__ADS_1
"Kak Kai punya kekasih bukan?" tanya Zen tiba-tiba. "Gadis yang kita jumpai saat di bandara ... itu kekasih kakak bukan?" imbuh Zen lalu menatap kak Kai dengan wajah berbinar.
Sementara yang diberikan pertanyaan itu tiba-tiba saja terlihat begitu sangat terkejut dan membulatkan matanya. Kemudian menyudahi minumnya.
"Kenapa?" tanya Zen lagi.
"Kau sungguh tidak mengingat Amee, Zen?" tanya kak Kai seolah tak percaya. Dia menatap lurus Zen untuk mendapatkan jawaban dari Zen.
"Hhm ... aku tidak ingat apa-apa. Memang apa yang sudah terjadi?" tanya Zen datar.
Kak Kai terdiam beberapa saat lalu membenarkan letak kacamatanya. Wajahny terlihat begitu serius.
"Iya ... kamu benar, Zen. Amee adalah kekasih kakak." sahut kak Kai dengan intonasi yang begitu rendah dan seolah seperti ditahan.
Zen tersenyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia paham, "Dia terlihat cantik dan terlihat begitu dewasa. Sangat serasi dengan kakak." Zen tersenyum tulus dan mulai merapikan jaz kak Kai. "Selamat ya, Kak Kai!"
Kak Kai terdiam mematung beberapa saat dan terlihat sangt kebingungan melihat tingkah Zen.
"Begitukah menurutmu, Zen?" tanya kak Kai akhirnya setelah beberapa saat terdiam mematung.
"Yeap. Sangat serasi. Kalian berdua sangat serasi!" Zen mulai mengalihkan pandangannya dan meraih minuman dinginnya lalu mulai meneguknya kembali. "Kapan kalian akan menikah? Jangan lupa! Aku harus menjadi tamu undangan pertama!" imbuh Zen dengan tawa kecil.
Kak Kai masih memicingkan matanya menatap lama Zen dan masih terlihat sedang memikirkan sesuatu yang tentunya membuatnya tidak mengerti dengan keadaan saat ini.
Apa kau sungguh tidak mengingat semuanya, Zen? Gadis yang kau cintai selama ini ... satu-satunya gadis yang bisa memasuki hatimu. Dia adalah Amee. Sekarang apa kau sudah melupakan dia begitu saja?
Batin kak Kai yang masih fokus menatap Idol tampan yang sedang duduk di sebelahnya dan menikmati ramennya kembali dengan sangat bersemangat.
"Kenapa kakak menatapku seperti itu?" ujar Zen saat menyadari dirinya telah diperhatikan oleh kak Kai. "Apa kakak terpana karena melihat ketampanan bocah ini? Uhm ... maksudku ketampananku ..." imbuh Zen lalu tertawa renyah dan terlihat sangat berbahagia.
"Hhm ... tidak kok." sahut kak Kai cepat-cepat dengan seulas senyum lalu kembali meneguk minuman dinginnya. "Setelah ini kita jadi pergi ke Japan Telexistence?"
"Hhm. Tentu saja jadi! Aku sangat ingin pergi kesana!" sahut Zen dengan cepat.
Karena itu adalah tempat terakhir aku berada di dalam ragaku yang sebenarnya.
Batin Zen yang tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius.
__ADS_1