Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Menyelamatkan Yuna


__ADS_3

"Siapa Zen? Mengapa kamu bilang kalau kamu suaminya?" tanya kak Kai sambil mulai memarkir mobilnya. Karena kini mereka sudah sampai di pulau Honshu.


"Aku hanya ingin sedikit membantu saja, Kak. Karena suami dari Yuna saat ini sedang koma. Sedangkan preman-preman itu kini ingin menyakiti Yuna." jawab Zen dengan mimik wajah yang begitu serius. "Kak ..."


"Hhm ..."


"Saat ini aku sedang lapar. Bolehkah aku minta makan sesuatu?"


"Bukankah kau baru saja makan?!" ujar kak Kai sedikit tak percaya.


"Ah Iya ... tapi akhir-akhir ini aku memang sering lapar, Kak!" kilah Zen. Yeap, sebenarnya dia sedang ingin melakukan sesuatu agar bisa melarikan diri dari mereka.


"Kakak akan meminta Vann untuk membelikanmu sesuatu." sahut kak Kai dengan sangat santai sambil merogoh ponselnya di dalam saku jaznya.


"Ja-Jangan!" ucap Zen cepat-cepat.


Kak Kai memicingkan mata menatap Zen kebingungan, "Jadi?"


"Kakak saja yang membelikan untukku. Ehm ... karena kakak pasti akan mengetahui makanan yang tepat untuk tubuhku. Makanan rendah kalori dan tidak akan membuat berat badanku bertambah." kilah Zen mencari alasan.


"Ah benar juga! Kau tidak boleh makan sembarangan. Tunggu di sini! Kakak akan belikan sesuatu."


"Okay!"


Kak Kai segera melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil. Sementara Zen segera bersiap juga melepas sabuk pengamannya lalu memakai maskernya kemudian turun dari mobil. Dia menghubungi salah satu pengawal yang parkir tak jauh dari tempatnya.


"Hallo, Vann ... Kak Kai sedang membeli makanan sebentar. Dan aku akan ke kamar mandi sebentar." ucap Zen melalui ponselnya. Padahal jarak antara Zen dan para pengawal hanya berkisar 10 meter dan mereka bisa saling melihat.


"Baik, Tuan Zen." sahut Vann dari seberang.


Zen segera mematikan panggilannya dan menuju sebuah kamar mandi umum yang tak jauh dari tempat itu.


Setelah Zen merasa aman, dia segera mencari jalan lain untuk meninggalkan mereka semua dan segera mencari Yuna. Dia mulai mendatangi sebuah alamat yang diberikan oleh preman-preman itu.


Tunggu aku, Yuna. Bertahanlah!


Batin Zen yang mulai menambah kecepatan langkah kakinya untuk menuju suatu tempat yang tak jauh dari situ.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


Beberapa preman itu terlihat sedang keluar meninggalkan Yuna, dan kini tinggal seorang preman yang sedang menjaganya. Dan preman itu kini sedang tertidur.


Yuna mulai menebarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melepaskan ikatan tali pada tangannya. Dia melihat sebuah pisau lipat kecil yang tergeletak di lantai tak jauh darinya.


Perlahan Yuna mulai menggeser dirinya dan kursinya untuk mencapai pisau lipat itu. Namun belum sempat dia mengambil pisau lipat itu, preman itu malah terbangun karena mendengar suara hentakan dari kursi Yuna.


"Nyonya ... apa yang mau kamu lakukan?" tanya preman itu yang mulai bangkit dan melihat sekitar Yuna namun dia tidak melihat pisau lipat yang tergeletak di atas lantai itu karena Yuna segera memijak dan menutupinya


"Aku akan memberimu pelajaran! Dan hari ini kamu akan merasakannya!" hardik Yuna dengan sorot matanya yang sangat tajam.


"Mau cari mati ya?!" preman itu menyauti dengan sedikit emosi lalu mulai menggulung lengan bajunya dan berjalan mendekati Yuna.


Tepat saat berada kurang dari satu meter di hadapan Yuna, dengan cepat Yuna mengangkat kaki kanannya ke depan untuk menendang bagian vital preman itu.


DUUAAKK ...


"Arrgghh ..." rintih preman itu menahan rasa sakit sambil memegangi yang tadi ditendang oleh Yuna.


Kini Yuna berusaha menjepit pisau lipat itu menggunakan jari kakinya namun belum berhasil dia melakukannya preman itu sudah mendatanginya kembali dengan wajah yang terlihat begitu kesal.


BUUGGHH ...


BRRAAKK ...


Namun kini Yuna juga ikut terjatuh dan masih dalam keadaan terikat dengan kursi. Dia yang terjatuh dalam keadaan miring, segera berusaha menggeser badannya dan mendekati pisau lipat itu.


"Ugghh ... sedikit lagi ..." Yuna masih berusaha meraih pisau lipat itu dan akhirnya dia mencapainya. Namun dia segera menyembunyikannya dan memasukkan pisau lipat itu di dalam lengan pakaiannya.


"Hei, Nyonya! Jangan menambah pekerjaanku saja! Tujuannya adalah membuat suamimu hancur! Jadi tunggu saja dan jangan banyak bertingkah!" kini preman itu menarik dan membenarkan kursi dan Yuna kembali dan terlihat begitu kesal.


"Sampai kapanpun kalian menunggu suamiku tidak akan datang, Bodoh!" Yuna mendengus kesal.


"Sudahlah! Lebih baik diam saja dan jangan melawan. Aku akan ke kamar mandi sebentar! Jadi jangan lagi buat kerusuhan!"


Setelah mengatakan hal itu, preman itu segera meninggalkan Yuna sendirian.

__ADS_1


Sudut-sudut bibirnya mulai ditarik dan dia mulai tersenyum misterius. Setelah preman itu meninggalkannya, Yuna segera melakukan aksinya kembali. Perlahan dia mulai mengeluarkan pisau lipat yang tadi dia selipkan pada lengan bajunya.


Perlahan dia mulai membuka ikatan tali itu menggunakan pisau lipat itu.


"Arrgghh ..." rintihnya pelan karena pisau itu sedikit menyayat tangannya. Namun dia terus berusaha untuk segera memutus tali itu.


Setelah berhasil melepas ikatan pada tangannya, kini Yuna segera melepas ikatan pada bagian pahanya dengan menggunakan pisau itu.


Perlahan dia mulai mengendap-endap untuk segera meninggalkan tempat itu.


...⚜⚜⚜...


Zen masih menyusuri sebuah jalanan kecil di pedesaan itu. Tidak terlalu banyak penduduknya di sini. Bahkan jarak antara rumah satu ke rumah yang lainnya memiliki radius yang cukup jauh.


Tak sengaja Zen menemukan sebuah jam tangan yang sangat tidak asing baginya. Yeap, itu adalah jam tangan milik Yuna, Istrinya.


Zen memungut jam tangan berwarna keemasan itu dan menggenggamnya dengan kuat jam. Sepasang mata birunya menyorot tajam menatap genggaman tangannya. Kemudian dia segera menyusuri jalan itu kembali dengan langkah cepat, berharap akan segera menemukan Yuna.


"Yuna ... tunggu aku ... bertahanlah sedikit lagi ..." gumamnya dengan langkah kaki yang sedikit dia percepat.


Zen terus menyusuri jalan setapak itu dan sesekali melihat layar ponselnya untuk melihat map yang sudah dikirimkan oleh perampok itu.


Akhirnya Zen menemukan lokasi itu, sebuah rumah tua yang terlihat sudah lama tidak dihuni. Dengan langkah cepat dan tatapan tajam, Zen segera mendatangi rumah itu dan menendang pintu itu dengan kakinya.


BBRRAAKK ...


Seketika pintu tua itu ambruk oleh tendangan Zen. Di dalam ada 5 orang pria yang sedang berdebat. Yeap, kelima preman itu sedang saling menyalahkan karena Yuna yang berhasil melarikan diri.


"Siapa kau, Bocah?" todong salah satu preman itu yang tidak mengenali Zen, karena Zen saat ini sedang memakai masker untuk menutupi wajah bagian bawahnya.


"Dimana Yuna?!" tanya Zen menatap secara bergantian kelima preman itu dengan tajam. Suaranya begitu menggelegar dan dipenuhi oleh amarah.


"Siapa kau dan dimana Kagami Jiro?" tanya preman yang memiliki rambut gondrong dan dikucir.


Zen tak mengindahkan pertanyaan itu, "Dimana Yuna? Apa kalian tuli?!" pertanyaan Zen kini terdengar lebih tajam dan begitu sangar.


"Wah ... wah ... wah ... ternyata istri dari seorang Kagami Jiro bermain di belakang dan berani berkhianat. Bahkan dengan pria yang lebih muda darinya. Gyahahaha ..."

__ADS_1


BBUUAAKK ...


Tanpa ba bi bu kini sebuah bogem melayang mengenai wajah preman itu.


__ADS_2