
Zen mulai menaiki sebuah lift dan turun di lantai 27. Pemuda yang gagah dan tampan itu kini melenggang menuju sebuah balkon umum yang terletak sisi sebelah taman.
Meskipun taman ini tidak memiliki ukuran yang cukup besar, namun taman ini begitu indah dan sangat minimalis. Berbagai macam bunga menghiasi taman ini.
Terlihat seorang gadis berambut pendek dengan balutan pakaian hangatnya sedang duduk di sebuah bangku panjang menatap ke arah pantai.
"Xia Feii ..." sapa Zen lalu menghempaskan tubuhnya di samping gadis cantik itu. "Maaf jika membuatmu lama mengunggu. Mereka bersikeras memintaku untuk datang bersama para pengawal." sungut Zen.
"Itu karena mereka sangat mengkhawatirkanmu, Zen. Kau adalah seperti batu permata yang harus selalu dilindungi." sahut Xia Feii menggoda Zen dengan tawa kecil.
"Cihh ... sebenarnya aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik. Bahkan aku bisa mengalahkan ratusan orang dalam sekejap." celutuk Zen lalu duduk santai dan bersandar pada bangku itu.
"Lalu mengapa saat itu Kira bisa melukaimu dengan pisau parysatys yang memiliki racun yang begitu mematikan?" ucap Xia Fei sedikit mengkerutkan kedua alisnya dan menahan senyum.
"Itu karena dia menyerangku saat aku tidak siaga, bahkan aku sudah hampir mabuk malam itu." sahut Zen seadanya.
"Hhm. Baiklah, Super star Zen! Sekarang katakan padaku! Ada apa kau mengajakku untuk bertemu?" tanya Xia Feii to the point.
"Begini. Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu padamu, Xia Feii. Dan sebelumnya aku ingin menanyakan beberapa hal padamu, Xia Feii."
"Hhm. Katakan saja, Zen." sahut gadis berambut sebahu itu.
"Kapan kamu berencana untuk menikah? Dan bagaimana jika tiba-tiba ada seorang pria yang melamarmu?" Zen menatap Xia Feii yang kini gadis cantik dan berwajah cerdas itu terlihat sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Zen.
"Kapan aku akan menikah? Hmm ... tentu saja ketika aku sudah bertemu dengan belahan jiwaku. Dan bagaimana jika seorang pria tiba-tiba datang dan melamarku? Tentu saja aku akan melihat dulu pria itu seperti apa." jawab Xia Feii sambil menikmati segelas capucino hangatnya.
__ADS_1
"Memang bagaimana standar pria impianmu? Apakah tampan? Kuat? Kaya? Baik? Atau bagaimana?" tanya Zen sangat ingin tau.
Gadis berwajah ayu dan nerdy itu kini terdiam beberapa saat dan masih menatap panorama indah yang terbentang di hadapannya.
"Aku tidak peduli dengan semua itu, Zen. Yang terpenting dia adalah pria baik yang bertanggung jawab dan benar-benar mencintaiku. Dan dia yang tak akan pernah meninggalkanku dengan mudahnya hanya karena ada seorang gadis lain yang lebih baik dariku. Aku tidak mau mempunyai kisah percintaan seperti yang dialami kedua orangtuaku. Membayangkannya saja sudah begitu sakit jika harus dikhianati hingga akhirnya berpisah. Bahkan ... aku sebagai anak saja begitu tidak tega melihat ayahku saat itu. Saat ibuku meninggalkan ayahku hanya karena ada pria yang lebih muda dan kaya dari ayah." ucap Xia Feii yang terlihat begitu murung, dan mungkin dia sedang teringat dengan kedua orang tuanya saar ini.
"Hhm. Namun ayahmu begitu kuat dan hebat, Xia Feii. Dia membesarkanmu seorang diri dan bisa membentuk pribadi yang begitu mengagumkan seperti dirimu!"
"Ya. Ayahku sudah bekerja keras untuk menghidupiku dan memberikan pendidikan yang terbaik untukku meskipun dia harus bekerja membanting tulang setiap hari dengan berjualan obat-obatan herbal yang dia racik sendiri." ucapan dari gadis cantik itu semakin terlihat bergetar dan sepasang manik-manik indah itu kini tak terasa menjadi sedikir berair.
Namun Xia Feii segera mencairkannya kembali agar tidak kembali bersedih karena teringat sosok ayahnya yang sudah tiada.
"Jadi intinya aku tidak akan sembarangan memilih pasangan hidup, Zen." ucap Xia Feii lagi dengan menghiasi wajah ayunya dengan seulas senyum manis.
"Hhm. Kau benar, Xia Feii. Jadi ... tampan ataupun hal lainnya kau tak peduli, Xia Feii? Benar begitu?" tanya Zen yang terlihat begitu antusias dan bersemangat.
Zen tersenyum lebar dan terlihat begitu puas mendengar jawaban dari gadis itu, dan tentu saja jiwa seorang Kagami Jiro begitu memahami seperti apa pria yang akan dijodohkan dengan Xia Feii.
Yukimura, meskipun dia berwajah begitu sangar, bertubuh kekar dan besar, namun dia adalah pria yang sangat baik dan sebenarnya masih polos ( belum pernah pacaran, dan dia tidak seperti masa muda seorang Kagami Jiro yang mendapat gelar seorang Casanova sejati).
"Xia Feii. Maukah kamu aku kenalkan dengan seseorang temanku? Seseorang yang baik dan akan selalu menghargai seorang wanita?"
"Temanmu yang mana Zen? Apakah teman kuliahmu di Wan Chai University? Kau tau kan Zen, umurku sudah 27 tahun. Jangan mengenalkanku dengan pemuda seusiamu ya!" celutuk Xia Feii sambil mendorong lengan Zen dengan jari telunjuknya diiringi senyuman.
"Tentu saja tidak, Xia Feii. Aku akan mengenalkanmu dengan seorang pria yang sudah matang dan baik hati." sahut Zen dengan senyum lebar. "Pekan depan ambillah cuti dan ikutlah bersamaku ke Jepang! Aku akan mengenalkan seseorang padamu."
__ADS_1
"Jepang?" Xia Feii membulatkan sepasang matanya menatap Zen dan sebenarnya dia begitu terkejut.
"Ya, Jepang." Zen tersenyum lebar menatap gadis cantik itu.
"Uhm ... yah. Baiklah." sahut Xia Feii menyetujui usul dari Zen.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria dewasa yang berambut sedikit gondrong namun jabrik dan memakai setelan casualnya terlihat sedang duduk di sebuah meja makan di sebuah restaurant dan terlihat sedang menanti seseorang.
Beberapa saat, seorang pria berkacamata dan dipenuhi dengan banyak tato mulai datang dan menghampirinya lalu segera duduk di seberangnya.
"Hallo, Tuan Yukimura. Lama tidak bertemu." sapa pria berkacamata itu dengan sebuah senyuman. "Bagaiamana kabar, Tuan?"
"Aku baik! Kita tidak usah basa-basi lagi! Sekarang katakan padaku dengan jujur, mengapa kau meninggalkan Doragonshadou dan malah mendirikan wolf shadow?" tanya Yukimura to the point.
"Mengapa aku harus memberitahukan alasannya padamu?" jawab pria berkacamata itu yang tak lain adalah Ley Bixing.
Yukimura meraih ponselnya kemudian memperlihatkan salah satu foto di galerinya. Sebuah foto kotak keemasan dan sebuah cincin kuno dengan batu giok berwarna zambrud.
"Kita di pihak yang sama! Katakan semua padaku!" ucap Yukimura yang terlihat begitu serius.
Ley Bixing menatap Yukimura dengan begitu tajam dan penuh kewaspadaan.
"Jika kau masih berada dalam kubu Kagami Jiro, dan tak pernah mengkhianatinya maka katakan semua itu padaku!"
__ADS_1
"Lalu dimana tuan Kagami Jiro, mengapa kau hanya datang sendirian kali ini?" selidik Ley Bixing yang terlihat begitu berwaspada. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu begitu saja?" imbuh Ley Bixing memicingkan sepasang matanya menatap Yukimura.
Tiba-tiba saja seorang pria bertubuh besar dan kekar dan dengan balutan jaz super mewahnya melenggang dan menghampiri mereka berdua.