
"Ehm, Kak Yosuke ... aku mau mau permisi dulu kalau begitu. Ini juga sudah terlalu larut. Sebaiknya kak Yosuke beristirahat kembali." ucap Zen sedikit meringis.
Sebenarnya Zen hanya mau menghindari obrolan Yosuke mengenai rencana untuk memperkenalkan dirinya kepada Christal. Rencana yang sangat konyol dan tak masuk akal menurutnya.
"Baiklah. Berhati-hatilah, Li Zeyan."
"Tentu saja, Kakak. Besok aku akan mampir lagi ke rumah kakak sebelum aku pulang ke Beijing." sahut Zen lalu bangkit berdiri.
"Hhm? Tapi ... memang kamu tau dimana aku tinggal?"
Nah loh ... sekarang mau jawab apa kamu Zen? Secara Yosuke belum memberitahu alamat rumahnya kepadamu.
"Eh? Tentu saja kakak bisa share location kepadaku bukan?" kelakar Zen yang membuat Yosuke sedikit tertawa kecil.
"Benar ... benar ... kau bahkan sudah memberikan kartu nama padaku. Kakak akan menghubungimu besok!"
"Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat beristirahat, Kak Yosuke ..." ucap perpisahan Zen bersikap manis dan sedikit membungkukkan badannya lalu bergegas untuk meninggalkan ruangan rawat Yosuke.
Sikap manisnya tentu saja hanyalah sebuah akting untuk mengambil hati adiknya Yosuke, agar Zen mudah berbaur dengan Doragonshadou dan bisa sedikit ikut campur tangan.
Setelah keluar dari ruangan itu, tentu saja Zen tiba-tiba sangat ingin mengunjungi Kagami Jiro. Raga dari jiwanya yang sesungguhnya. Dia segera menghampiri seorang pengawal yang berdiri tak jauh darinya.
"Paman, Dimana Tuan Kagami Jiro dirawat? Aku juga ingin mengunjungi dan melihat keadaannya? Bolehkah aku melihatnya?" tanya Zen dengan sopan kepada pengawal itu.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama! Karena sebenarnya ini bukan jam kunjungan!" ucap pengawal itu begitu tegas dan judes.
"Baiklah. Aku hanya butuh waktu 15 menit saja. Setelah itu aku akan segera pulang!" sahut Zen berusaha bersikap sabar dan manis.
__ADS_1
"Hhm. Masukkah. Tuan Kagami Jiro ada di ruangan rawat VIP 3-3." ucap pengawal itu dengan dingin. "Bocah! Jangan berbuat aneh-aneh, karena seluruh ruangan telah dipasang dengan kamera CCTV." imbuh pengawal itu lagi.
"Tenang saja, Paman. Aku adalah salah satu penggemar berat Tuan Kagami Jiro! Paman tidak perlu khawatir, aku tidak akan mencelakainya." celutuk Zen meyakinkan lalu melenggang begitu saja menuju ruangan dimana Kagami Jiro dirawat.
Langkah kaki Zen tiba-tiba terhenti saat dia sampai di depan pintu ruangan Kagami Jiro dirawat. Sepasang mata kebiruannya yang seperti kristal terlihat sedikit bergetar menatap pintu itu.
Apakah di dalam ruangan ini benar-benar ada ragaku? Bagaimana bisa seperti itu? Jiwaku sedang terjebak di dalam tubuh bocah bernama Zen ini. Lalu bagaimana dengan nasib ragaku saat ini? Apa jiwaku bisa kembali pada ragaku yang sebenarnya? Atau apakah jiwa dari bocah ini sedang berada disana? Atau bagaimana?
Batin Zen mulai gusar dengan segala argumennya dan pertanyaannya sendiri. Belum sempat dia menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaannya sendiri, dia memutuskan untuk mulai memasuki ruangan itu. Perlahan dia mulai meraih handle pintu dan membukanya dengan hati-hati.
DDRRTT ...
Kini pintu yang di cat dengan warna putih itu terbuka. Perlahan Zen mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah brankar yang di atasnya sudah terbaring seorang pria dewasa yang tentu saja sangat dikenalinya.
Seorang pria dewasa dengan tubuh kekar dan besar dan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tato bergambar naga. Begitu banyak selang dan perban yang melilit badan pria itu. Bahkan dia juga memakai alat bantu pernafasan.
Entah kenapa tiba-tiba saja sepasang mata kebiruannya menjadi sedikit berair saat ini. Zen tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana? Rasanya dia sangat terpukul ketika melihat raganya sedang terbaring lemah di atas brankar itu. Perlahan Zen mulai menarik kursi dan duduk di samping brankar.
"Jiro bangunlah!" ucap Zen dengan lirih.
Bagaimana agar jiwaku bisa kembali pada ragaku yang sebenarnya? Bagaimana aku bisa kembali pada ragaku yang sedang terbaring ini?! Lalu kehidupan apa yang sedang dia alami saat ini?
Batin Zen yang masih menatap dalam raga itu dengan nanar. Tergambar dengan sangat jelas kesedihan di dalam raut wajah tampannya.
"Jiro! Zen! Siapapun kamu ... tolong bangun dan katakan sesuatu padaku ... jangan mati dulu! Masih banyak yang harus kita lakukan! Masih banyak misteri yang harus kita pecahkan!" gumam Zen dengan penuh penekanan dan dia sedikit mengguncang tubuh Kagami Jiro.
Namun tubuh Kagami Jiro yang sedang terbaring itu tak memberikan respon sama sekali. Dia tetap terdiam seperti orang yang sedang tertidur dengan cukup pulas.
__ADS_1
"Haish ... pria ini tidak mau bangun juga rupanya!" gumam Zen yang sedikit kesal karena berkali-kali dia mencoba untuk membangunkannya namun tiada hasil.
"Apapun yang terjadi kau tidak boleh mati! Doragonshadou masih sangat membutuhkanmu! Dunia masih sangat membutuhkanmu! Jangan pergi begitu saja!" geram Zen pelan.
Zen melirik Patek Philippe Sky Moon Tourbillon-nya yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya. Saat itu Li Zeyan yang asli membeli jam tangan super mewah dan fantastis itu untuk dirinya sendiri dan untuk kak Kai. Zen memilih seri blue, sedangkan kak Kai seri white.
"Sepertinya sudah 14 menit." gumamnya pelan."Aku akan mengunjungimu lagi sebelum aku kembali ke Beijing! Dan ingat pesanku! Jangan tidur terlalu lama! Cepat bangun dan hadapi dunia!" imbuhnya lalu membenarkan dan merapikan hodie sweet blacknya. Zen juga mulai memakai masker dan topinya kembali.
Perlahan Zen mulai meninggalkan kamar rawat itu dan meninggalkan rumah sakit besar itu.
...⚜⚜⚜...
Tok ... Tok ... Tok ...
Berulang kali kak Kai berusaha untuk mengetuk pintu kamar Zen, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam. Hingga akhirnya kak Kai menyuruh pengawalnya untuk meminta kunci cadangan kepada front office karena khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Zen.
Setelah beberapa saat menunggu di depan kamar Zen, akhirnya dari kejauhan seorang pengawal bernama Vann datang dengan langkah cepat menghampiri kak Kai.
"Ini, Tuan Kai." kata pengawal bernama Vann sambil menyerahkan sebuah kunci keemasan kepada kak Kai.
"Hhm ..." kak Kai segera menerima itu dan dengan cepat membuka pintu kamar Zen menggunakan kunci itu.
Setelah pintu itu terbuka, kak Kai dengan cepat segera memasuki kamar Zen dengan terburu-buru.
"Zen ..." panggilnya sambil mencari Zen di seluruh kamar mewah itu. Bahkan di pembaringan juga kak Kai tidak bisa menemukan sosok Zen.
Hingga tiba-tiba saja kak Kai sangat terkejut ketika melihat apa yang sudah terjadi saat ini. Dia begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Langkahnya dipercepat dan raut wajahnya terlihat begitu khawatir.
__ADS_1