Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Ledakan


__ADS_3

Kini Jancent mulai mematikan api dan bertepatan dengan itu, tiba-tiba saja sesuatu terjadi dengan begitu cepat. Sebuah ledakan yang begitu dasyat dan sangat fantastis.


DDUUAARR ...


Seketika ruangan pratikum dipenuhi oleh asap kehitaman yang begitu pekat dan tebal. Teriakan histeris juga mulai terdengar dari beberapa mahasiswi yang sudah berhasil keluar dari ruang labolatorium.


"Masih ada orang di dalam!" ucap seorang mahasiswi yang terlihat begitu panik.


"Siapa yang masih ada di dalam?" tanya mahasiswa lainnya lagi.


"Sepertinya Zen, Li Lian dan Jancent masih ada di dalam ... hiks ... bagaimana nasib mereka ..." ucap seorang mahasiswi yang sepertinya dia adalah teman satu kelompok Zen saat pratikum.


"Li Lian! Dimana Li Lian?!" seorang mahasiswa terlihat mulai kalang kabut ketika menyadari jika gadis yang disukainya tidak ada di luar ruangan. Mahasiswa itu adalah Zhang Wei.


"Li Lian masih di dalam bersama Jancent dan Zen." seorang mahasiswa menyauti dan terlihat juga begitu khawatir.


Tanpa banyak berkata-kata, kini Zhang Wei segera memasuki ruangan labolatorium dengan langkah cepat dan begitu tergesa.


"Dimana Zen dan Jancent?!" kini Bai Xi juga mulai mencari jalan untuk melihat kondisi ruangan yang masih dipenuhi dengan asap tebal itu dari pintu.


"Mereka masih di dalam." seorang mahasiswi terdengar menyauti.


"Padahal dia yang memperingatkan kita untuk segera keluar! Tapi mengapa dia sendiri malah tidak keluar?!" sungut Bai Xi yang terlihat sangat kesal lalu nekat memasuki ruangan labolatorium kembali di tengah asap yang masih begitu pekat.


"Ada apa ini?! Apa yang sudah terjadi disini?" tiba-tiba profesor Ed datang dan sudah melihat semua kekacauan ini. Padahal dia hanya pergi selama 5 menit untuk pergi ke ruangannya sebentar dan mengambil beberapa barang yang tertinggal.


"Sepertinya ada seorang mahasiswa yang memberikan suhu destilasi terlalu tinggi, Profesor! Sehingga akhirnya meledak karena kelebihan pemanasan." sahut Sang Yuan Yi yang kebetulan berada di depan profesor Ed.


"Mengapa bisa terjadi? Bukankah sebelumnya kita sudah membahasnya berkali-kali?!" ucap profesor Ed yang terlihat begitu garang dan marah karena merasa mahasiswa yang dia pegang tidak memperhatikan kelas dengan baik.


"Mungkin karena dia bodoh, Prof." sahut Lee dengan asal.


"Ya sudah! Sekarang cepat tolong mereka dan segera bawa ke rumah sakit!" perintah profesor Ed begitu menggelegar.

__ADS_1


"Baik, Profesor!" sahut mereka dan mulai memasuki ruangan labolatorium kembali kecuali Lee, Sang Yuan Yi dan Lin Fang.


...⚜⚜⚜...


Di sebuah ruang VIP United Family Hospital Beijing, terbaring seorang pemuda berambut silver dengan beberapa bagian tubuhnya yang dipenuhi dengan perban. Seperti lengan kanannya dan perutnya, terlihat perban yang sudah melilitnya dengan begitu rapi.


Sementara itu di ruangan sebelahnya, juga ada dua pasien yang terluka cukup parah. Luka yang dialami oleh salah satu korban dari ledakan yang disebabkan serpihan dari kaca tabung reaksi yang meledak, wajah gadis itu tertancap oleh serpihan kaca dari tabung reaksi. Dan menyebabkan wajah bagian kirinya mengalami luka robek hingga akhirnya dijahit. Jadi, darah yang mengucur seteleh ledakan itu terjadi bukanlah karena zat kimia, melainkan karena serpihan kaca dari tabung reaksi.


Sementara korban lainnya adalah Jancent. Dia terluka paling parah karena serpihan kaca dari tabung reaksi mengenai mata kirinya dan melukai bola matanya.


"Luka itu akan menimbulkan luka penetrasi (penetrating injury). Dan jika serpihan kaca masih tertinggal di dalam bola mata atau intraocular foreign body, maka pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi atau CT-scan diperlukan untuk mendeteksi keberadaan pecahan kaca di dalam bola mata. Kami akan segera melakukan pemeriksaan setelah dokter spesialisnya datang." ucap seorang pria berkacamata dengan jas almamater putihnya.


"Baik, Dokter! Lakukan yang terbaik untuk putraku! Jangan sampai mata putraku menjadi cacat ..." ucapan seorang wanita paruh baya terdengar begitu memilukan, membuat semua orang yang sedang berada di sekitarnya hampir mengeluarkan air matanya, termasuk kak Kai. Atau mungkin saja kak Kai sedang teringat dengan ibunya yang sudah tiada.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk mereka bertiga! Berapapun biayanya, kami tidak peduli ..." ucap pria berkacamata itu dengan tatapan penuh harap menatap dokter itu.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan." dokter itu menyauti dengan begitu ramah. "Namun, kasus trauma tajam bola mata merupakan kasus kedaruratan mata, dan akan sangat mengancam penglihatan sehingga pemeriksaan serta penanganan lanjutan untuk mengeluarkan pecahan kaca dalam bola mata hanya bisa dikerjakan oleh dokter spesialis mata. Jadi sebaiknya kita tunggu kedatangan dokter Xia Feii."


"Selain spesialis bedah, dokter Xia Feii adalah seorang dokter spesialis mata, Tuan. sahut dokter itu dengan seulas senyum.


"Oh ... seperti itu ya." gumam kak Kai pelan.


Tiba-tiba saja terlihat seorang gadis yang masih cukup muda dan cantik dengan pakaian formal datang dengan langkah tergesa.


"Dimana pasien?" tanya gadis itu yang terlihat begitu terburu-buru. "Segera pindahkan ke ruang oprasi!"


"Baik, Dokter Feii!" sahut dokter pria itu sambil membungkukkan badannya.


Kini Xia Feii mulai menyadari keberadaan kak Kai dan terlihat begitu terkejut.


"Luo Kai, apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Xia Feii begitu terkejut. Umur keduanya tak jauh beda, jadi setelah mengetahui hal itu mereka hanya saling memanggil dengan nama saja. "Apakah ... apakah salah satu korban dari ledakan yang terjadi di labolatorium kampus Wan Chai adalah Zen?" imbuh Xia Feii begitu hati-hati dan sebernarnya di dalam hatinya dia berharap agar kak Kai mengatakan tidak.


"Kau benar, Xia Feii. Zen adalah salah satu korbannya." jawab kak Kai begitu pelan.

__ADS_1


"Lalu ... bagaimana kondisi dia saat ini?" terlihat Xia Feii yang terlihat begitu khawatir setelah mendengarkan jawaban dari kak Kai.


"Dia hanya terluka sedikit saja. Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan penanganan untuk Jancent, kau bisa menjenguknya." sahut kak Kai begitu ramah.


"Dokter Xia Feii! Semua sudah disiapkan!" tiba-tiba seorang perawat datang untuk menjemput Xia Feii.


"Oh, baiklah. Aku akan segera datang." ucapnya nenatap perawat itu. "Kai, aku pergi dulu!" kini Xia Feii menatap kak Kai untuk berpamitan.


"Hhm. Tolong lakukan yang terbaik untuk Jancent!"


"Aku akan berusaha ..." sahut dokter cantik itu dengan seulas senyum lalu segera berbalik dan mulai melenggang meninggalkan kak Kai.


...⚜⚜⚜...


Hallo reader tersayang ...


Terima kasih sudah selalu membersamai dan selalu mendukung Never Say Good Bye. Jangan lupa untuk selalu mendukung Never Say Good Bye ya. Karena like, comment, vote, rate, dan gift dari kalian sangatlah berarti untukku.


Semoga karya receh ini bisa menghibur dan semakin disukai. Dan semoga Zen dan Jiro juga selalu disukai kalian semua. Maaf jika selama penulisan masih terdapat begitu banyak typo. Dan terima kasih yang selama ini selalu mengingatkan. Hehe ...


Dan pada kesempatan ini Anezaki mau mengucapkan,


TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINNKUM


SHIYAAMANAA WASHIYAAMAKUM


TAQOBBAL YAA KARIIM.


Author Anezaki mengucapkan MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR dan BATIN.


Salam hangat dari Anezaki ♡


Sampai jumpa di beberapa bab selanjutnya ♡

__ADS_1


__ADS_2