Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Beach in Love


__ADS_3

"Li Zeyan!! Kemarilah!!" Christal mulai melambaikan tangannya dan menatap Zen dari kejauhan.


Zen mulai melenggang kembali untuk segera meyusul Christal dengan wajah yang penuh binar. Kedua anak muda ini terlihat begitu bahagia saat ini. Karena cinta yang saling berbalas, dan ini adalah ikatan pertama dari keduanya.


Para pengawal juga terlihat selalu mengawasi mereka berdua. Untuk antisipasi jika ada yang akan berusaha untuk mencelakai mereka berdua. Sebenarnya samgat tidak leluasa, ketika berkencan namun harus selalu diamati dan diawasi seperti ini. Tapi ini demi kebaikan mereka berdua.


"Pantai ini sangat indah! Bagaimana menurutmu?" Christal tersenyum lebar menatap Zen dengan sepasang matanya yang mulai menyipit karena silau menatap sinar matahari yang samar-samar menyinari dengan tipis dari balik awan.


"Yep, aku sependapat denganmu, Christal. Pantai Habushiura memang sangat indah. Dan ini adalah kali pertamanya aku mengunjungi pantai ini." rambut silver Zen yang lurus menari-nari di udara karena terpaan angin pantai yang sedikit kencang.


Sementara kacamata dengan lensa kecoklatan itu masih bertengger dengan manis di atas tulang hidungnya yang mancung.


"Sekarang apa yang mau kamu lakukan? Berenang? Membuat istana pasir? Bermain voli? Berendan?" Zen mulai menatap Christal kembali.


"Ombak terlalu besar, sebaiknya kita tidak berenang. Tapi andaikan kamu bisa bermain surf, maka aku akan dengan senang senang hati melihatmu bermain surf, Li Zeyan." Christal tersenyum menatap Zen dengan mengangkat kedua alis indahnya.


"Ehm ... maafkan aku, Christal. Tapi aku belum pernah bermain surf sebelumnya." ucap Zen dengan begitu menyesal karena tak bisa memenuhi permintaan dari Christal.


"Oh ... maaf. Aku hanya sedang bercanda kok. Jangan pedulikan ucapanku, Li Zeyan!" ucap Christal dengan cepat karena merasa tidak enak dengan Zen.


Di sebuah drama yang pernah dibintangi oleh Zen, Christal pernah melihat Zen berakting sedang bermain surf. Dan mungkin Christal mengira jika itu adalah benar-benar nyata dan dilakukan oleh Zen di atas lautan yang berombak cukup besar.


"Christal, maaf. Tapi pada drama yang pernah kamu saksikan saat itu adalah tidak benar. Itu hanyalah sebuah editan, dan aku tidak benar-benar bisa melakukan surf. Maaf ..." ucap Zen yang merasa begitu bersalah karena menurutnya sudah melakukan sebuah kebohongan.


"Tidak kok. Justru aku yang minta maaf karena aku tak bisa memahamimu dengan baik. Maafkan aku, Li Zeyan." ucap Christal dengan raut wajah begitu menyesal.

__ADS_1


"Hhm. Tidak apa-apa kok. Kita jalan-jalan saja yuk!"


"Okay!"


Mereka berdua mulai melenggang bersama dan menyusuri pinggiran pantai Habushiura yang begitu indah dan memukau. Namun tiba-tiba angin bertiup lebih kencang dan berasal dari arah depan.


Mereka berdua mulai menghentikkan langkah kaki mereka. Zen segera berjalan satu langkah ke depan lalu berbalik menghadap Christal. Dengan cepat Zen segera meraih tubuh Christal dan mulai melindunginya dengan pelukan tangan kirinya, hingga menenggelamkan kepala Christal pada pelukannya, agar Christal tidak terkena terpaan angin yang cukup kuat dan dingin itu.


WUSSHH ...


Rambut Zen mulai menari-nari dengan lebih tegas karena angin itu, begitu juga dengan pakaiannya yang sedikit terbang karena angin kuat itu.


"Christal, angin lautnya begitu kencang. Apa kamu baik-baik saja?" Zen mulai menunduk dan menatap Christal yang juga mulai mendongak menatapnya.


"Aku baik-baik saja, Li Zeyan. Terima kasih ..."


Christal malah tersenyum lebar lalu malah memeluk tubuh Zen begitu saja.


"Mengapa minta maaf? Kamu tidak membuat kesalahan apapun kok. Dan aku senang kamu melakukannya, karena kamu melakukannya untuk melindungiku. Terima kasih ..." Christal masih membenakan kepalanya pada dada bidang itu.


Zen mulai tersenyum hangat dan membalas pelukan Christal dengan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Christal.


Dan semua pemandangan ini sungguh membuat pengawal Kagami begitu kebingungan untuk bertindak.


"Bagaimana ini? Mereka malah berpelukan seperti ini?" celutuk salah satu dari mereka yang masih mengawasi dari kejauhan.

__ADS_1


"Biarkan saja! Tuan Kagami Jiro memberikan sedikit kelonggaran untuk mereka, karena esok mereka akan berpisah dan akan lama untuk bertemu kembali. Kita hanya ditugaskan untuk berjaga jika ada yang mau mencelakai mereka berdua. Selagi Li Zeyan tidak melewati batas, maka biarkan saja!" sahut pengawal yang lainnya lagi.


"Baiklah jika memang seperti itu." sahut yang lainnya lagi.


Zen dan Christal kembali menyisiri tepian pantai itu lagi dan akhirnya mulai memasuki sebuah restoran yang berada di pinggiran pantai itu. Sebuah restoran yang cukup mewah dan memiliki view yang menawan, karena para tamu bisa menikmati makanannya sambil menikmati keindahan pantai Habushiura.


Beberapa makanan mulai dipesan oleh Zen, dan rupanya mereka juga memiliki kesamaan dalam makanan faforit. Sebenarnya Zen sudah reflek menuliskan makanan yang akan dia pesan tanla bertanya kepada Christal terlebih dahulu.


Karena selama menempati tubuh Kagami Jiro selama 4 bulan, Zen sudah cukup mengetahui beberapa hal yang disukai oleh Christal. Maka dari itu, sekarang Zen sudah menuliskan beberapa menu yang akan mereka pesan, dan tentunya akan digemari oleh mereka berdua.


Dan hal itu tentu saja membuat Christal kebingungan dan bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya. Mengapa Zen begitu mengetahui makanan faforit Christal? Apakah ini hanya sebuah kebetulan, karena Zen yang memesan makanan faforitnya yang kebetulan juga disukai oleh Christal?


Mungkin seperti itulah kata hati Chrital saat ini.


Belum sempat Christal berkata-kata, Zen sudah memanggil seorang pelayan pria untuk memberitahukan pesanannya. Setelah pelayan pria itu mencatat semua pesanan Zen, pelayan pria itu segera undur diri kembali.


Christal masih saja kebingungan menatap Zen. Namun Zen masih belum juga mengerti mengapa Christal tiba-tiba saja menjadi seperti itu.


"Ada apa, Christal? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Zen yang mulai meraba-raba wajahnya sendiri untuk memastikan sesuatu.


"Tidak ada. Hanya saja ..." ucap Christal yang mulai memicingkan sepasang matanya menatap Zen.


"Ya? Katakan saja, Christal. Ada apa?" ucap Zen seadanya dengan senyum tipis.


"Mengapa kamu memesan makanan dan minuman tanpa menawariku terlebih dahulu? Dan kamu memesan semua itu seolah-olah memang kamu sudah mengetahui semua kesukaanku. Sebenarnya darimana kamu mengetahuinya? Makanan dan minuman kesukaanku ... bagaimana kamu mengetahui semuai itu, Li Zeyan?" tanya Chistal yang sudah dipenuhi dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Zen yang mendengar ucapan dari Christal sekan kembali membeku seketika, padahal selama ini saat Zen memakai tubuh dari Kagami Jiro hal seperti ini sudah biasa. Dia akan segera memesan makanan sesuai dengan makanan dan minuman yang sering dipesan oleh Christal.


Namun nampaknya kali ini Zen sudah melupakan sesuatu, jika saat ini dia sudah memakai raga aslinya! Raga seorang pemuda tampan berusia 20 tahun dan seorang idol besar!


__ADS_2