
Seorang gadis tiba-tiba saja datang dengan langkah terburu dan sudah membawa sebilah pisau ke arah Christal.
"Dasar gadis penggoda!! Beraninya kamu selalu bersama dengam Li Zeyan dan menggodanya!! Rasakan ini!! Aku akan mengirimmu ke neraka!!"
Zen dan Christal cukup terkejut dan begitu terlambat menyadari kehadiran seorang gadis asing itu. Hingga akhirnya pisau itu mulai menghunus tubuh seseorang. Dan orang itu adalah Zen. Karena dengan cepat Zen meraih kedua bahu Christal dan memutar tubuhnya untuk melindungi Christal.
JLLEBB ...
Sebilah pisau itu berhasil menghunus bagian punggung Zen dan membuat darah segar mulai mengalir dan merembes membasahi pakaiannya.
"Li Zeyan ..." ucap Christal bergetar dan hampir tak mempercayai kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya ini.
Wajah mungilnya terlihat masih begitu shock menatap Zen yang masih berdiri di hadapannya dan berusaha untuk tetap tersenyum menatap Christal.
"Christal. Aku senang dan lega sekali kamu baik-baik saja ..." ucap Zen dengan senyum hangatnya.
Christal menggeleng pelan dengam manik-manik yang sudah menjadi sedikit berkaca-kaca karena merasa begitu takut dan shock.
"Li Zeyan ... kamu terluka ..." ucap Christal begitu ketakutan.
"Tidak mungkin!! Aku malah melukai Li Zeyan!!" gadis asing itu terlihat begitu histeris karena malah melukai Zen yang begitu diidolakannya bahkan begitu dicintainya, karena gadis ini adalah salah satu fans fanatik dari Zen.
"Ini semua gara-gara gadis penggoda ini!! Aku tak akan melepaskanmu, Gadis penggoda!!" imbuh gadis asing itu masih berusaha untuk mencelakai Christal.
__ADS_1
Namun dengan cepat dua orang pengawal Kagami mulai mencekal gadis asing itu dan segera mengurusnya. Pengawal Vann terlihat sedang menstabilkan pisau yang menancap untuk hentikan perdarahan dengan melakukan penekanan pada sekitar benda tersebut menggunakan kasa steril dan antiseptik.
Vann sengaja tak mencabut pisau di punggung Zen, karena benda tajam yang tertancap ini dapat menimbulkan terjadinya perdarahan yang lebih banyak lagi jika sembarangan saat mencabutnya.
Pengawal Yunxi dan pengawal Jin Heng juga terlihat begitu mengkhawatirkan Zen, terlebih tubuh Zen memberikan reaksi shock hingga Zen mulai mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya mulai terlihat pucat bahkan tekanan darahnya mulai menurun.
"Bagaimana ini? Apakah harus memberikan obat penenang untuk tuan Zen?" ucap Nokto yang tak kalah panik saat melihat kondisi Zen saat ini.
"Tidak, Nokto!" ucap Vann dengan cepat karena merasa kurang setuju dengan saran dari Nokto. "Kita cukup menghentikan pendarahannya saja dulu untuk mengarasi shock pada tubuh tuan Zen. Dan kita harus segera membawa tuan Zen ke rumah sakit terdekat. Pemberian obat penurun tekanan darah seperti obat penenang justru akan memberikan efek yang kurang baik dan sangat berbahaya, Nokto. Bahkan ini bisa menyebabkan kematian." imbuh Vann menjelaskan kepada Nokto.
Mendengar penjelasan dari Vann yang sedikit memahami ilmu kedokteran, tentu saja membuat sepasang mata Nokto sedikit membelalak saking kagetnya. Coba saja jika Vann sedang cuti saat ini, dan Nokto memberikan obat penenang untuk Zen dengan maksud untuk meredakan sakit itu, bisa-bisa Nokto malah akan membunuh Zen begitu saja.
"Astaga! Bodohnya aku ..." gumam Nokto sangat merasa bersalah.
Christal yang juga merasa ketakutan dan mengkhawatirkan Zen juga segera menyusul untuk mengikuti mereka ikut pergi bersama ke rumah sakit. Beberapa pengawal lainnya juga masih mengikuti mereka dan mulai memperketat pengamanan.
Sebenarnya semua pengawal sangat merasa bersalah karena tak ada satupun dari mereka yang berhasil menghalangi kejadian penusukan terhadap Zen yang sebenarnya mengincar Christal. Dan para pengawal itu juga begitu ketakutan jika Li Kai dan juga Kagami Jiro akan menjadi begitu murka karena sebuah kelalaian dalam penjagaan kali ini.
...⚜⚜⚜...
Shanghai Changhang Hospital.
Christal yang masih ditemani beberapa pengawal Kagami dan pengawal Zen, terlihat sedang duduk di sebuah bangku luar ruangan ICU. Christal terduduk dengan menutupi wajahnya dengan kedua jemarinya.
__ADS_1
Perasaannya saat ini masih saja kacau dan tidak menentu karena mengkhawatirkan Zen yang sedang menjalani sebuah operasi untuk penjahitan luka luar dan juga untuk penjahitan pembuluh darahnya yang juga terluka karena penusukan itu.
Ada rasa khawatir dan juga perasaan merasa bersalah kepada Zen. Karena Zen terluka seperti adalah karena untuk melindungi Christal dari serangan gadis asing itu. Detik demi detik berlalu, namun 3 jam seakan terasa seperti 3 tahun untuk Christal saat menantikan dokter itu keluar dari ruang ICU dan untuk menantikan kabar dan kondisi Zen saat ini.
"Luka tusuk itu cukup besar dan mengenai pembuluh darah yang besar di dalam punggung Li Zeyan. Perdarahan yang terjadi cukup banyak dan bisa jadi tidak berhenti hanya dengan penekanan pada luka saja. Oleh karena itu kami melakukan penjahitan pada pembuluh darah dan pada luka agar perdarahan bisa berhenti. Dan kami telah melakukan sedikit operasi untuk penjahitan tersebut ." ucap seorang pria paruh dengan jas putih kebanggannya setelah keluar dari ruang ICU. "Transfusi darah juga sudah kami lakukan dengan baik untuk mengganti darah Zen yang sudah cukup banyak terbuang."
"Terima kasih, Dokter. Lalu bagaimana keadaan tuan Zen saat ini?" Christal terlihat tak sabar untuk mengetahui keadaan Zen saat ini dan mulai menanyakan langsung kepada dokter yang sudah menangani Zen.
"Zen baik-baik saja, Nona. Saat ini sedang beristirahat. Sebentar lagi pasien akan segera dipindahkan ke kamar rawat, karena kondisinya yang sudah mulai membaik." sahut dokter itu dengan begitu ramah.
Dan mendengar kondisi Zen yang mulai membaik, tentu saja membuat Christal merasa begitu lega dan bisa membuatnya bernafas sedikit lega.
"Baiklah, Dokter. Bolehkah aku masuk untuk melihat dan menemaninya?" ucap Christal penuh harap agar diijinkan sang dokter untuk memasuki ruangan ICU.
"Tentu saja boleh, Nona. Silakan masuk. Namun hanya diperbolehkan satu orang saja." sahut Dokter itu kembali masih dengan nada bicaranya yang begitu bersahabat.
"Baiklah. Terima kasih, Dokter!" Christal menyauti dengan begitu bersemangat lalu mulai melenggang dengan langkah cepat untuk segera mendekati ruangan ICU dan mulai memasukinya.
CEKLLEKK ...
Christal mulai meraih handle pintu dan membuka pintu berwarna putih itu dengan begitu pelan agar tidak membangunkan Zen yang saat ini sedang beristirahat.
Christal mulai melihat seorang pemuda yang sudah mengenakan pakaian rawat bergaris berwana putih kombinasi biru yang sedang berbaring di atas brankar.
__ADS_1
Pemuda itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit, namun lebih terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur dengan cukup pulas. Pergelangan tangan kirinya terlilit dengan selang infus.