
"Apa maksud kalian berbicara seperti itu?" tanya Xia Feii menyela pembicaraan antara Zen dan Yukimura dan terlihat begitu penasaran dan sangat ingin tau.
Pertanyaan dari Xia Feii sukses membuat kedua pria yang sedikit ceroboh itu merasa begitu tercengang seketika. Zen dan Yukimura mulai menatap satu sama lain dengan sangat bingung. Namun Zen sang aktor terbaik, tentu saja bisa mengatasi semua ini dengan baik dan terlihat alami dan sangat meyakinkan.
"Uhm, begini Xia Feii." ucap Zen tersenyum tipis menatap Xia Feii. "Selama ini tuan Yukimura selalu mengajari aku tentang ilmu berlatih bela diri. Dan aku bisa melakukannya dengan cukup baik."
"Bagaimana kalian melakukannya? Bagaimana tuan Yukimura mengajarimu tentang ilmu bela diri? Kalian berada di dua negara yang berbeda, dan sangat berjauhan." ucap Xia Feii sedikit curiga.
"Hhm? Xia Fei ... Xia Fei. Kita sudah hidup di jaman modern. Tidak menutup kemungkinan untuk kita saling belajar meskipun kita tidak berada di satu tempat."sahut Zen lagi dengan senyum lebar menatap Xia Feii.
"Benar sekali, Xia Feii. Kita sering melakukan panggilan karena Zen yang ingin berubah menjadi kuat." imbuh Yukimura menambahkan.
"Memang mau menjadi kuat seperti apalagi, Zen? Selama aku mengenalmu, kamu sudah begitu kuat dan terampil. Bahkan ilmu bela dirimu terlihat begitu keren dan sudah seperti seorang master saja lo. Apa itu masih belum cukup kuat?"
Pernyataan sekaligus pertanyaan dari Xia Feii terdengar begitu logis, karena saat pertama kali Xia Feii bertemu dengan Zen saat di gang kecil di dekat rumah sakit malam itu, Zen sudah terlihat begitu terampil dan cekatan. Bahkan bela diri Zen saat itu sudah seperti seorang master saja.
"Ya, Xia Feii. Sebenarnya sudah cukup lama aku mengenal paman Yukimura dan sudah lama aku berlatih dengan paman Yukimura." jawab Zen dengan cepat.
"Oh, begitu ya. Keren deh!!" celutuk Xia Feii.
Sebuah melodi muali terdengar dari pinsel Zen yang masih berada di dalam tas kecilnya. Dan rupanya panggilan itu berasal dari Thunder. Dengan cepat Zen segera mengambil ponselnya dan meminta ijin untuk mengangkat panggilan itu.
"Ya. Hallo, Thunder!" sapa Zen setelah mengangkat panggilan itu.
"Senior Li Zeyan. Aku sudah sampai di depan restoran. Kita pergi bersama sekarang atau kita mau makan dulu?" tanya Thunder dari seberang line.
"Baiklah. Kita berangkat saja sekarang. Christal dan tuan Kagami Jiro sudah menunggu kita. Tunggu sebentar, aku akan segera keluar." ucap Zen lagi.
__ADS_1
"Oke, Senior Li Zeyan. Dipamahami!" sahut Thunder.
Setelah mengakhiri panggilan itu, akhirnya Zen mulai berpamitan kepada Yukimura dan juga Xia Feii karena akan segera menemui Thunder yang sudah menunggunya di luar bangunan restoran ini.
Zen mulai meninggalkan gedung restoran ini dan mulai mencari sosok Thunder di depan restoran. Rupanya dia juga memakai sebuah topi dan masker setelah turun dari mobil van pribadinya. Saat melihat Zen yang sudah keluar dari restoran itu, Thunder segera menghampirinya.
"Hallo, Senior Li Zeyan!" sapa Thunder dengan nada rendah dan sopan.
"Ya. Ayo kita berangkat! Kita memakai mobilku saja. Manager dan pengawalmu biarkan mengikuti kita saja." ucap Zen.
"Okay, Senior Li Zeyan. Aku sudah mengaturnya kok. Hehe ... ayo kita berangkat!" ucap Thunder yang sudah terlihat begituntak sabaran.
Yeap, Thunder sudah terlihat begitu tidak sabar untuk segera bertemu dengan Christal dan juga Kagami Jiro.
"Hhm. Ayo!" sahut Zen lalu mulai melengang dan mulai menghampiri seorang pria berjas yang sudah menyiapkan sebuah mobil van putih untuk perjalanan mereka untuk menuju ke sebuah hotel yang berada tak jauh dari sini.
Kini Zen dan Thunder mulai memasuki mobil van pribadi Zen dan duduk bersama di sebuah sofa di belakang. Sebenarnya Zen cukup kebingungan menatap Thunder. Karena saat ini Thunder begitu membawa banyak bingkisan rapi.
"Tentu saja oleh-oleh untuk diberikan kepada Chistal dan kakaknya dong, Senior. Kata senior Li Zeyan kakak Christal sedang berada di Beijing bersama beberapa anggota keluarganya bukan? Jadi aku membawa beberapa hadiah dan oleh-oleh untuk mereka. Hehe ..." jelas Thunder diiringi dengan tawanya yang terlihat begitu manis dan menggemaskan.
Sungguh Zen dibuat tercengang dan terkejut karena jawaban dari Thunder. Bagaimana mungkin Thunder membawa hadiah sebanyak itu? Sementara Zen tidak membawa hadiah apapun saat ini?
Wah, gawat jika seperti ini. Bisa-bisa kak Jiro, Christal dan yang lainnya bisa perpaling dariku dan malah akan berpindah hati ke Thunder? Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja!
Batin Zen mulai meraih ponselnya dan berusaha untuk mengirim pesan untuk salah satu pengawalnya yang kebetan hari ini sedang mengambil cuti untuk istirahat.
Jin Heng, tolong beli beberapa perhiasan keluaran terbaru untuk Christal dan kak Yuna. Juga beli beberapa jaz keluaran terbaru dari desainer langganan kita. Beli juga pakaian untuk anak laki-laki berusia 3 tahun dari desainer itu. Dalam waktu satu jam kamu harus sudah membawakan semua itu ke lokasi yang aku kirimkan padamu. Aku akan memberikan bonus untukmu lima kali lipat dari biasanya. Li Zeyan.
__ADS_1
Pesan itu mulai dikirinkan oleh Zen untuk pengawal Jin Heng yang kebetulan sedang mengambil cuti kerja hari ini.
Jika dilihat-lihat, Zen sudah hampir mirip dengan Kagami Jiro yang sesuka hati memberikan perintah tak terduga untuk bawahannya. Namun bedanya, Zen melakukannya dengan sedikit lebih manis dengan imbalan bonus yang berlipat.
Bagaimana jika Kagami Jiro? Kalau Kagami Jiro akan memerintahkan hal seperti itu dengan menggunakan ancaman seperti potong gaji atau akan memecatnya jika sampai terlambat walau hanya satu detikpun.
...⚜⚜⚜...
Bonus part :
Jin Heng yang sedang mengencani kekasihnya di sebuah bioskop terlihat sedang menikmati sebuah film dengan genre romance action. Sang kekasih terlihat sedang menikmati film itu sambil memeluk lengan Jin Heng dan bersandar pada bahu lebarnya.
"Baby, aku juga ingin cincin yang seperti itu." rengek sang kekasih dengan nada yang terdengar begitu manja memeluk lengan kuat Jin Heng.
"Iya, Baby. Nanti jika aku mendapatkan rezeki lebih, aku akan membelikan cincin seperti itu deh." sahut Jin Heng yang masih fokus menonton film itu.
"Janji yah ..." ucap sang kekasih dengan begitu manja luar biasa.
"Iya, Baby. Aku janji deh." sahut Jin Heng yang terlihat begitu menyayangi kekasihnya.
TRINGG ...
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan berbunyi dan berasal dari ponsel Jin Heng. Di tengah-tengah pertunjukan film itu, akhirnya Jin Heng mulai mengambil ponselnya untuk melihat pesan itu. Khawatir jika itu adalah sebuah pesan yang begitu penting, makanya pria yang masih berusia 25 tahun itu mulai membaca pesan itu.
Dan ternyata pesan itu adalah sebuah pesan darurat yang dikirimkan oleh Zen untuk segera membelikan beberapa benda, dan Jin Heng juga harus segera mengantarnya ke sebuah hotel.
"Sayang ... maafkan aku. Tapi tuan Zen sedang memberikan tugas yang sangat penting saat ini untukku. Dan aku harus segera melakukannya." ucap Jin Heng tiba-tiba.
__ADS_1
Meskipun rasanya sedikit sedih dan kecewa karena kencannya bersama sang kekasih harus tertunda, namun karena iming-iming bonus dari Zen yang begitu besar membuat Jin Heng kembali bersemangat untuk segera menyelesaikan misi itu.
...⚜⚜⚜...