Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bersama ke Legendale Hotel Beijing


__ADS_3

Sebuah Ferrary merah menyala mulai membelah jalanan padat kota Beijing. Terlihat seorang pemuda tampan bermata bak okavango blue diamond sedang mengemudikan Ferrary merah menyala itu dengan begitu cepat dan gesit, yang tentu saja hampir membuat spot jantung seorang pria dewasa yang sedang duduk di sebelahnya.


Bahkan pria dewasa itu terlihat begitu ketakutan dan terus berpegangan pada gantungan di sisi samping atasnya.


Apakah tuan Kagami Jiro juga seorang pembalap? Mengapa begitu kencang mengemudikan mobilnya. Huft ...


Batin pria dewasa yang tak lain adalah Kagami Jiro yang berjiwa seorang Li Zeyan yang berjiwa begitu lembut.


"Pejamkan saja matamu jika takut!" ucap Zen dengan senyum tipis dan sedikit melirik Kagami Jiro melalui kaca yang tergantung di depannya.


Astaga, aku tidak pernah melihat diriku yang begitu ketakutan seperti ini. Raut wajahnya terlihat begitu menggelikan sekali, sumpah! Haishh ... tidak ada gentle dan manly sama sekali. Sial! Jangan-jangan selama ini Li Zeyan juga menggunakan tubuhku dengan seperti itu? Wah ... wah ... wah ... bisa-bisa hancur reputasi dan kharismaku! Dasar bocah!


Batin Zen menggerutu dan kini terlihat begitu kesal. Sementara Kagami Jiro terlihat masih begitu ketakutan dan masih terus berpegangan dengan cukup erat.


Setelah beberapa saat akhirnya Ferrary merah menyala itu mulai menepi di depan sebuah hotel yang terlihat begitu mewah dan memiliki bangunan yang begitu kokoh. Legendale Hotel Beijing memang tidak diragukan lagi. Hotel berbintang 5 ini memang hanya akan dikunjungi dari kelas menengah ke atas. Dan hotel ini juga memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari Bandar Udara Internasional Beijing Daxing.


"Kita sudah sampai. Ayo turun!" ucap Zen sambil melepas sabuk pengamannya.


Sementara Kagami Jiro mulai membuka matanya kembali dan mulai bernapas dengan lega, lalu membuka sabuk pengamannya. Keduanya kini mulai menuruni Ferrary merah menyala itu.


Kedua pria ini terlihat begitu gagah. Zen terlihat begitu menawan, tampan, cool, dan begitu sylish dan fashionable dan memiliki tatapan yang tajam namun begitu menawan. Sedangkan Kagami Jiro terlihat begitu gagah, berkharisma, tegas, dan tentunya juga sangat necis dengan setelan jaz mewahnya yang membalut tubuh besarnya yang begitu kekar.


Keduanya mulai memasuki Legendale Hotel Beijing dan mendapatkan sambutan hangat dari pelayan hotel ketika baru memasuki pintu utama.


"Selamat pagi. Selamat datang kembali, Tuan Kagami Jiro!" sapa pelayan itu dengan membungkukkan badannya dan begitu ramah.


Zen dan Kagami Jiro saling bertatapan sekilas, lalu Zen segera memberikan isyarat melalui tatapan matanya. Dan Kagami Jiro hanya mengangguk pelan menanggapi Zen.

__ADS_1


"Hhm. Selamat pagi ..." ucap Kagami dengan begitu berwibawa lalu mulai melenggang kembali dan diikuti oleh Zen yang segera menyusulnya dengan langkah lebar dan gagahnya.


Cckk ... bocah ini keren juga berakting menjadi diriku! Pantas saja semua orang menobatkanmu menjadi idol nomor satu! Aktingmu sungguh luar biasa! Li Zeyan, kau benar-benar bocah hebat namun tetap selalu berendah hati. Namun, karena kau terlalu baik, semua orang malah menyalahgunakan kebaikanmu itu dan malah menindas bahkan berusaha untuk menjatuhkanmu!


Batin Zen yang masih berjalan di sebelah Kagami Jiro.


"Hhm ... setelah lulus dari Wan Chai Unniversity apa rencanamu?" ucap Zen memecah keheningan. Karena di sepanjang koridor menuju kamar Kagami Jiro mereka hanya saling terdiam.


"Aku ingin melanjutkan S2 pada jurusan yang sama. Namun jika tuan Kagami Jiro masih menempati tubuhku hingga saat itu tiba, maka aku rela jika tuan Kagami Jiro yang memutuskannya sendiri." ucap Kagami Jiro dengan begitu lirih dan terdengar memilukan.


"Hhm. Begitu ya? Apa kau tidak ingin kita bertukar tubuh kembali?"


"Tentu saja ingin sekali, Tuan! Namun ... bagaimana caranya?" kini Kagami Jiro sedikit menatap Zen yang masih melenggang dengan gaya yang begitu gagah dan berwibawa.


"Aku juga masih belum menemukan caranya. Namun aku harap kita bisa segera bertukar tubuh kembali."


"Bocah yang baik!" puji Zen dengan tulus dan tersenyum tipis.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan sebuah kamar. Kagami Jiro segera menempelkan sebuah kartu keemasan untuk memindai lalu memasukkan beberapa angka pasword.


BBIIPP ...


Kagami Jiro mulai membuka pintu kamar itu lalu mempersilakan Zen untuk memasukinya terlebih dahulu, baru dia mulai memasukinya menyusul Zen.


"Sungguh bocah yang ramah dan punya sopan santun yang begitu tinggi." gumam Zen pelan dengan senyum tipis.


Kagami Jiro yang mendapat pujian dari Zen, tersenyum tipis dan terlihat begitu berbahagia. Tiba-tiba alunan melody mulai terdengar dari ponsel Zen. Zen merogoh dan melihat sekilas layar pada benda pipih itu untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya.

__ADS_1


Namun Zen membiarkannya saja dan menyimpan kembali ponsel itu. Tak lama kemudian lantunan melody itu mulai terdengar lagi. Akhirnya kali ini Zen mengangkat panggilan itu.


"Kau sedang dimana, Zen?" ucap pria dari seberang yang terdengar begitu khawatir. "Tanganmu masih sakit karena cedera, bahkan kau baru saja sembuh dari racun mematikan itu." imbuhnya begitu cemas.


"Jangan khawatirkan aku, kak Kai. Aku sedang bersama tuan Kagami Jiro. Dia mengajakku berjalan-jalan sebentar karena bosan. Jangan khawatir! Dia akan selalu melindungiku. Kau tau kan dia begitu kuat. Tidak ada yang bisa menandingi kekuatannya. Ahahaha ..." ucap Zen dengan kekehan kecilnya.


Kagami Jiro yang mendengarnya tersenyum geli, karena melihat sosok seorang pemimpin Doragonshadou yang ternyata selain memiliki sisi kejam dan tegas juga bisa sedikit narsis.


"Ya sudah kalau begitu. Setelah kembali ke Oakwood Residence Damei, langsung saja ke restaurant. Kita akan makan bersama dengan keluarga Kagami dan juga Xia Feii." ucap kak Kai dari seberang.


"Baiklah. Setelah menemani tuan Kagami Jiro, kita akan segera kembali ke Oakwood Residence Damei."


"Baiklah. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa!"


Zen segera mengakhri panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya. Sementara Kagami Jiro terlihat mulai mencari sesuatu di dalam sebuah koper besar berwarna hitam pekat.


"Setelah mengetahui ternyata kau adalah orang yang begitu menjaga etika dan sopan santun, aku menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya kau tidak akan berani menggoda istriku." gumam Zen lalu merebahkan dirinya di atas pembaringan berukuran King itu.


Kagami Jiro lagi-lagi hanya tersenyum manis mendengar ucapan dari Zen. Tentu saja dia tidak akan berani menggoda Yuna, mempunyai pikiran untuk menggodanya saja tidak pernah!


Aroma ini ... adalah aroma Yuna, aku rindu sekali. Hhm ...


Batin Zen sambil memejamkan matanya dan menghirup kembali aroma khas Yuna yang masih tertinggal pada pembaringan itu. Senyuman indah mulai menghiasi wajah tampannya dengan mata yang masih terpejam rapat. Sepertinya Zen sedang teringat dengan saat-saat indah bersama istri tercintanya.


Entah sampai kapan aku akan menderita dan tersiksa karena begitu merindukannya seperti ini? Apakah ini balasan dan doa-doa dari gadis yang pernah aku sakiti di masa lalu? Haishh ... tidak! Itu tidak benar!

__ADS_1


Batin Zen yang masih berbaring di atas ranjang itu dengan mata yang masih tertutup begitu rapat.


__ADS_2