
Seorang pria paruh baya terlihat mulai memasuki ruangan rawat VIP di salah satu rumah sakit Beijing United Family Hospital. Wajahnya menggambarkan sebuah kekhawatiran yang luar biasa saat ini.
Tentu saja, cucu satu-satunya yang dia miliki, bahkan satu-satunya keluarga yang dia miliki di depan matanya mendapatkan serangan dari senjata api, dan kini baru saja menyelesaikan oprasi untuk pengambilan peluru.
Sementara di atas sebuah brankar, sudah duduk seorang pemuda tampan yang sedang sibuk dengan ponselnya dan terlihat sedang melakukan panggilan dengan seseorang. Disaat menyadari ada kakek Li Feng yang mulai memasuki ruangan itu, pemuda yang tak lain adalah Zen itu segera mengakhiri panggilannya.
"Yukimura, aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye ..." ucap Zen lalu mengakhiri panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Hallo, Kakek Li Feng." sapa Zen dengan senyum lebar dan begitu merekah.
Kakek Li Feng segera menarik kursi dan duduk di samping brankar. Raut wajahnya masih memperlihatkan kekhawatiran meskipun Zen terlihat baik-baik saja saat ini.
"Zen. Bagaimana keadaanmu? Apakah masih terasa begitu panas dan sakit luka di lenganmu? Maafkan kakek yang sangat tidak berguna dan tidak bisa melindungimu." ucap kakek Li Feng yang terlihat begitu menyesal.
"Kakek. Aku baik-baik saja. Aku tidak akan mati hanya karena satu peluru yang mengenai lenganku. Aku bahkan selamat dari racun mematikan yang dikeluarkan oleh pisau parysatis saat itu bukan? Kali ini hanya luka ringan saja, jadi kakek tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan aku. Dan kakek jangan menyalahkan diri kakek seperti ini." ucap Zen berusaha untuk menghibur kakek Li Feng.
"Biar bagaimanapun itu sangat berbahaya, Zen. Dan tentu saja kakek akan sangat khawatir. Karena hanya kamu satu-satunya yang kakek punya saat ini. Satu-satunya keluarga kakek saat ini." ucapan irih dari kakek Li Feng membuat Zen menghentikan tawa kecilnya.
__ADS_1
Tiba-tiba suasana menjadi begitu hening dan keduanya masih melakukan kontak mata selama beberapa saat. Tatapan hangat dari keduanya saling bertaut satu sama lain dengan penuh dengan keharuan.
"Kakek Li Feng. Sebenarnya masih ada lagi keluarga kakek selainaku." ucap Zen dengan begitu berhati-hati.
"Apa maksudmu, Zen?" tanya kakek Li Feng mengkerutkan keningnya menatap Zen.
"Kakek Li Feng, sebenarnya masih ada satu cucu kakek lagi selain aku. Dan saat ini, dia lah seharusnya yang lebih memerlukan kakek. Karena dia sedang terluka lebih parah dariku. Dia sedang terbaring lemah dan sedang berjuang sendirian melawan mautnya. Kakek temanilah dia ..." ucap Zen menatap hangat kakek Li Feng disertai dengan senyuman hangatnya.
"Apa maksudmu Zen? Kau adalah satu-satunya putra dari Li Zhi, putraku. Itu berarti kau adalah satu-satunya cucu dari keluarga Li." kakek Li Feng masih terlihat bingung dengan ucapan dari Zen.
Kakek Li Feng terdiam seribu bahasa setelah mendengar ucapan dari Zen. Rasanya masih belum bisa menerima semua kenyataan itu. Masih terlihat begitu ragu-ragu dan belum yakin dengan semua yang sudah dia dengar dari Zen.
"Siapa yang mengatakan semua itu padamu, Zen? Dan bisa saja orang itu hanya sedang membual dan hanya memanfaatkan untuk masuk ke dalam keluarga Li. Berbicara tanpa bukti hanya akan terlihat seperti omong kosong. Terlebih Li Zhi putraku sudah tiada." sanggah kakek Li Feng yang masih terlihat begitu waspada dan berhati-hati dalam mengambil sikap.
Zen termenung beberapa saat, memang ada benarnya semua yang diucapkan oleh kakek Li Feng. Namun tak menutup kemungkinan juga jika sebenarnya Luo Kai adalah kakak satu ayahnya. Namun Zen juga harus mendapatkan bukti untuk memperkuat semua kebenaran itu, agar kakek Li Feng bisa mempercayainya.
"Kakek bisa melakukan tes DNA, terhadap kak Kai dan juga aku. Untuk membuktikan apakah dia adalah kakakku, saudara seayah atau bukan. Apakah ayahku Li Zhi adalah ayah biologis dari Luo Kai atau bukan." ucap Zen dengan tenang.
__ADS_1
Setelah terdiam dan memikirkan selama beberapa saat, akhirnya kakek Li Feng menyetujui saran dari Zen hingga akhirnya dia mengambil sample rambut dari Zen dan kak Kai untuk melakukan tes DNA.
...⚜⚜⚜...
Seorang pemuda terlihat sedang terbaring lemah di atas brankar di salah satu ruangan rawat VIP di rumah sakit Beijing United Family Hospital.
Wajahnya terlihat begitu pucat, beberapa anggota tubuhnya seperti lengan kanan, bahu kanan dan juga punggung terlilit dengan beberapa perban.
Dia bahkan belum juga terbangun setelah tak sadarkan diri akibat beberapa tembakan itu. Di sampingnya sudah duduk seorang gadis dengan balutan dress selutut berwarna kecoklatan yang selalu menangisi pemuda itu. Bahkan matanya sudah terlihat begitu sembab dan bengkak karena terlalu lama menangis.
Gadis itu mulai memberanikan diri untuk meraih jemari dari pemuda yang masih terbaring tak sadarkan diri itu. Perlahan jemari itu mulai digenggamnya hingga beberapa saat.
"Kakak ... aku sangat mengkhawatirkan kakak. Hiks ... kakak cepatlah bangun ... hiks ... jangan seperti ini, Kak. Kakak harus kuat dan harus bisa melewati ini semua!" ucap gadis itu begitu lirih dan terdengar begitu memilukan hati. "Bangunlah, Kak. Aku berjanji tidak akan menyusahkan kakak lagi. Aku juga berjanji akan menuruti semua keinginan kakak. Aku juga rela jika kakak memang tidak pernah menyukaiku ... asalkan kakak sadar kembali, aku akan merelakan semua itu. Asal kakak membuka mata kembali, maka aku sudah merasa cukup tenang. Bangunlah kak Kai ..." gadis itu masih menangis dan menunduk dengan jemari yang masih menggenggam jemari pemuda itu.
Bahkan gadis itu masih terus menangis hingga akhirnya dia tertidur begitu saja.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1