
"Sayang ... apa kamu akan pergi sendirian ke tempat itu?" ucap Yuna yang terlihat begitu khawatir dan meraih jemari Kagami Jiro.
"Iya, Yuna. Sekarang kembalilah ke rumah! Kau akan aman saat berada disana!" titah Kagami Jiro. "Aku harus segera pergi sekarang!"
Yuna menggelengkan kepalanya pelan dan sepasang mata beningnya sudah mulai berair karena menahan tangis. Rasanya begitu berat untuk melepaskan kepergian suaminya kembali. Padahal baru saja beberapa waktu yang lalu Kagami Jiro terluka karena diserang dan ditusuk oleh seseorang.
"Jangan pergi seorang diri ... aku mohon ... bawalah beberapa orang untuk pergi bersamamu..." ucap Yuna lirih dan masih menahan tangis.
"Tidak, Yuna! Aku harus pergi seorang diri. Jika tidak, itu akan sangat membahayakan Christal. Aku tidak mau kehilangan Christal. Kau kembalilah! Aku harus pergi sekarang!" Kagami mengusap pelan pipi kiri Yuna yang ternyata sudah basah karena air matanya.
Kagami Jiro mulai meraih dan memeluk Yuna, berusaha untuk menenangkannya kembali.
"Kembalilah dan tunggu aku di rumah, Yuna ..." Kagami Jiro mengusap pelan rambut Yuna dan mengecupnya dengan dada yang begitu sesak.
Sementara Yuna malah semakin erat memeluk tubuh besar itu, seakan tak mau melepasnya kembali. Karena Yuna sungguh merasa takut akan merasakan kehilangan seperti saat itu lagi. Saat 7 bulan yang lalu, sebuah penyerangan yang mengakibatkan suaminya koma selama 3 bulan. Begitu terasa sesak jika membayangkan semua itu.
Perlahan Kagami Jiro mulai melepas pelukannya kembali dan menatap hangat wanita cantik itu selama beberapa saat. Lalu dia mulai mundur hingga genggaman hangat diantara keduanya mulai terlepas meski dengan begitu berat.
Tangis Yuna mulai pecah kembali setelah punggung Kagami Jiro mulai menghilang dari pelupuk matanya. Yeap, Yuna tak bisa lagi membendung tangisnya dan kini dia hanya bisa menangisi kepergian suaminya yang tak bisa dia halangi. Karena nyawa adik iparnya juga sedang dalam bahaya saat ini.
...⚜⚜⚜...
Kagami Jiro mulai menyusul Zen setelah menghubungi salah satu pengawal Zen, untuk mengetahui keberadaan Zen saat ini. Ternyata dia sudah pergi ke tempat parkiran mobil dan sudah bersiap untuk segera meninggalkan Tokyo Disney Resort.
"Tuan Kagami Jiro!" Kagami Jiro berhasil menemukan Zen tepat saat Zen mau memasuki mobilnya. "Tuan, tunggu!"
"Jangan menghalangiku, Bocah!" ucap Zen menandaskan.
__ADS_1
"Tuan. Tolong dengarkan aku, Tuan!" pinta Kagami Jiro masih berusaha untuk menahan lengan Zen agar tidak memasuki mobil itu.
"Apa? Apa yang harus aku dengar darimu, Bocah?! Jangan mengulur waktuku! Saat ini adikku Christal sedang dalam bahaya! Dan aku harus segera datang dan menyelamatkannya!" tandas Zen mulai membuka pintu mobil itu.
"Yang mereka nantikan adalah kehadiran dari raga tuan Kagami Jiro!" ucap Kagami Jiro memberanikan diri menghadapi Zen.
"Hhm?" Zen memicingkan sepasang matanya dan menatap tajam Kagami Jiro. Bahkan Zen mulai mendekati wajah sangar Kagami Jiro masih dengan ekspresi menyebalkan. "Jadi apa maksudmu, Bocah? Maksudmu aku harus menyerahkan semua ini padamu begitu saja? Bahkan kau tak bisa bertarung dengan baik! Apa kau bisa untuk mengalahkan mereka dan melindungi Christal?!" Zen mengangkat kerah baju Kagami Jiro dan terlihat begitu kesal untuk menghadapinya.
"Meskipun aku begitu lemah, dan aku juga tidak akan bisa menghadapi mereka semua, namun jika tuan datang dengan memakai raga itu ... itu akan sangat membahayakan Christal, Tuan." ucap Kagami Jiro memberanikan diri.
Karena, sebenarnya untuk menentang seorang pemimpin Doragonshadou adalah sangat berbahaya dan tidak pantas untuk seorang ingusan seperti Li Zeyan. Bahkan sebenarnya mendapat perlakuan tegas seperti itu saja sungguh membuat jiwa seorang Li Zeyan menjadi ciut.
Zen terdiam dan masih memicingkan sepasang mata kebiruannya itu menatap Kagami Jiro. Sepertinya dia sedang berpikir keras saat ini, hingga akhrinya Zen mulai melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Katakan apa rencanamu!" sepasang pupil kebiruan itu masih menatap lekat pria dewasa di hadapannya itu, dan sebenarnya situasi saat ini seakan-akan mereka sedang bercermin dan melihat diri mereka masing-masing.
"Biarkan aku yang datang ke tempat itu, Tuan. Sesuai dengan yang mereka inginkan." ucap Kagami Jiro masih dengan begitu tenang dan berharap Zen akan menyetujuinya.
"Lalu bagaimana kau akan menyelamatkan Christal? Bukankah bela dirimu masih belum maksimal? Selama ini memang Yukimura selalu melatihmu dengan baik dan disiplin. Namun itu masih belum cukup!" ucap Zen menandaskan.
"Baiklah. Kita akan pergi bersama, Tuan. Namun jangan sampai mereka melihat tuan juga ikut bersamaku."
"Apa maksudmu? Kau pikir aku punya kekuatan super untuk menghilang, Bocah?!"
"Begini, Tuan. Aku yang akan mengemudikan mobil itu dan seakan-akan terlihat aku memang datang seorang diri." ucap Kagami Jiro dengan berhati-hati.
"Lalu?" potong Zen tak sabar.
__ADS_1
"Lalu ... tuan ... maaf ..." Kagami Jiro terlihat begitu ragu untuk melanjutkan kalimatnya, karena dia sungguh takut Zen akan tersinggung karena ucapannya, hingga akhirnya dia malah meminta maaf.
"Hhm? Katakan saja!" potong Zen masih menatap Kagami Jiro lekat dan sudah bersiap mendengarnya.
"Aku akan mengemudikan mobil tuan. Dan tuan bersembunyi ... di dalam bagasi." Kagami Jiro meemelankan suaranya dan sedikit mengernyitkan kening sambil menunduk, karena khawatir idenya akan mendapat sambutan yang tidak baik dari Zen.
Zen terdiam beberapa saat dan terlihat sedang mempertimbangkan ide dari Kagami Jiro.
"Aku akan menemui mereka dan akan berusaha untuk menghadapi mereka. Namun jika aku tak sanggup melakukannya seorang diri, maka pilihan terkhir adalah tuan bisa segera keluar dan itu adalah pilihan terburuk ... karena kemungkinan mereka akan mencurigai kita kembali." Kagami Jiri mengatakannya dengan serius.
"Mencurigai kita kembali? Apa maksudmu, Bocah?" Zen benar-benar tak mengerti dengan ucapan dari Kagami Jiro, karena sebelumnya Yukimura belum sempat menceritakan hal ini kepadanya.
"Ya, Tuan. Sepertinya ada pihak musuh yang mengetahui tentang semua ini ... mereka mengetahui pertukaran jiwa diantara kita." ucap Kagami Jiro dengan suaranya yang besar dan tegas. Sementara Zen masih dengan seksama mendengarkannya.
"Sebelum penyerangan dan penusukan malam itu, pelaku mengatakan hal itu padaku, Tuan. Mereka juga mengatakan ... dia juga mengatakan padaku jika dia tak akan membunuhku saat itu. Namun pemimpin mereka sendirilah yang akan melakukan itu semua itu dengan caranya yang akan sungguh membuat tuan Kagami Jiro merasa tersiksa."
Zen kembali terdiam dan berpikir keras kembali, berusaha untuk mencerna semua ucapan Kagami Jiro
"Dengan menyakiti orang-orang yang aku sayangi?" gumam Zen pelan. "Aku tidak akan memaafkannya!" geramnya mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya karena menahan emosinya yang hampir meledak.
"Kita pasti bisa menyelamatkan Christal, Tuan." ucap Kagami Jiro berusaha untuk menenangkan Zen.
"Hhm. Meskipun kamu lemah, rupanya kau lebih dewasa dalam bertindak dan mengambil keputusan disaat genting seperti ini dibanding denganku, Bocah." Zen menepuk bahu Kagami Jiro dan sedikit tersenyum. "Mari kita lakukan bersama!"
"Hhm. Iya, Tuan!"
Zen mulai menatap ketiga pengawalnya yang berada agak jauh dari mereka, "Aku akan pergi bersama tuan Kagami Jiro! Kalian kembali saja ke hotel dan tunggu aku disana! Dan jangan ada yang berani mengikutiku!"
__ADS_1
Meskipun dengan berat hati dan begitu terpaksa, namun ketiga pengawal Zen tak bisa membantah perintah dari Zen.
...⚜⚜⚜...