Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Seperti Dejavu


__ADS_3

Kini Christal mulai meraih handle pintu dan membuka pintu berwarna putih itu dengan begitu pelan agar tidak membangunkan Zen yang saat ini sedang beristirahat. Dengan langkah kakinya yang begitu pelan dan hati-hati, Christal mulai mendekati brankar itu.


Terlihat seorang pemuda yang sudah mengenakan pakaian rawat bergaris berwana putih kombinasi biru yang sedang berbaring di atas brankar.


Pemuda itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit, namun lebih terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur dengan cukup pulas. Pergelangan tangan kirinya juga terlilit dengan selang infus.


Christal mulai duduk di sebuah kursi yang berada di samping brankar dan sedikit menghela nafas saat melihat kekasihnya yang masih terbaring dan belum sadarkan diri itu. Meskipun sang dokter mengatakan jika kondisi Zen sudah membaik, namun tetap saja Christal masih saja mengkhawatirkan Zen.


Kini Christal memberanikan dirinya untuk meraih tangan kanan Zen dan mulai menggenggam jemari hangat itu. Jemari yang akhir-akhir ini selalu menggenggam dan menghangatkannya.


"Cause every day I lie in my life. The brightest colors fill my head. A million dreams are keeping me awake. I think of what the world could be. A vision of the one i see. A million dreams is all it's gonna take. A million dreams for the world we're gonna make. Life is like a piano, white and black. If God play it, all will be a beautiful melody. Haa~ Never lose hope, because it is the key to achieve all your dreams. Never lose hope and never say good bye." tanpa sadar tiba-tiba saja Christal mulai melantunkan sebuah lagu Zen dengan begitu lembut dan menjiwai.


"Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world." suara indah dan lembut Christal terdengar begitu merdu dan mempesona saat mealntunkan lagu Zen yang begitu fenomenal ini. Bahkan nyanyiannya akan membuat siapa saja yang mendengarnya akan terpesona.


"Never lose hope and never say good bye~" entah mengapa Christal menyanyikannya begitu saja dan tak terasa air mata hangat sudah mulai membasahi pipinya yang begitu mulus dan hangat.


Dan entah perasaan apa yang sedang Christal rasakan saat ini? Rasanya semua ini seperti sebuah dejavu untuk Christal, dan seolah Christal pernah berada di dalam posisi seperti ini bersama Zen.


Ini aneh sekali, mengapa aku merasa seperti pernah berada disaat seperti ini? Padahal aku sangat yakin aku dan Zen tidak pernah berada di kondisi yang sama seperti ini sebelum-sebelumnya. Namun mengapa rasanya ... semua ini sudah pernah terjadi.

__ADS_1


Batin Christal yang masih cukup bingung dan berusaha untuk menyeka air matanya dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lainnya masih menggenggam jemari Zen dengan hangat.


Saat itu, sebelum kak Jiro terbangun dari koma ... saat itulah aku juga sedang menyanyikan lagu Never say good bye. Dan tiba-tiba saja kak Jiro terbangun dari koma. Situasi saat itu dan saat ini membuatku merasakan ada sedikit kesamaan. Padahal orang yang sedang aku jaga saat itu dan saat ini adalah dua orang yang berbeda. Namun aku merasa mereka ada kemiripan. Ya ... kak Jiro dan Zen sedikit mirip.


Batin Christal mulai tersenyum tipis menatap pemuda yang masih terbaring di hadapannya dengan sepasang matanya yang masih terpejam dengan rapat.


"Never lose hope and never say good bye~" Christal mulai melantunkan sedikit lagu fenomenal milik Zen dengan begitu pelan namun tetap terdengar begitu merdu dan indah.


Dan begitu ajaib!! Perlahan jemari Zen mulai sedikit bergerak dan menyusul Zen mulai membuka sepasang matanya, hingga sepasang pupil kebiruan itu mulai terlihat meskipun hanya sedikit saja.


"Li Zeyan ... kamu sudah sadar?" ucap Christal penuh haru dan sepasang mata beningnya mulai berkaca-kaca kembali hingga kilauannya terlihat seperti Christal.


"Pertanyaan macam apa ini, Li Zeyan? Yang terluka adalah kamu. Hingga pembuluh darahmu terluka karena tusukan dari gadis itu. Dan kamu sampai dioperasi seperti ini ... dijahit luar dan dalam. Pasti rasanya sangat sakit ..." ucap Christal begitu ngilu membayangkan luka pada bagian punggung Zen saat ini.


Mendengar ucapan dari Christal malah membuat Zen tersenyum tipis dan mengusap lembut pipi kiri Christal.


"Aku tidak masalah jika harus terluka, asalkan kamu baik-baik saja dan tidak terluka." sahut Zen dengan hangat dan malah membuat Christal semakin cemberut.


"Biarpun begitu kamu tidak boleh lagi seperti ini, Li Zeyan! Lain kali kamu harus menahan dan menghentikan semua serangan dengan baik! Jangan sedikitpun memberikan kesempatan kepada mereka dan membiarkan mereka melukai dirimu! Jangan biatkan mereka menyentuh tubuhmu lagi!" ucap Christal memohon dengan penuh penekanan dan begitu tegas.

__ADS_1


Zen tersenyum hangat dan mengangguk pelan, "Hhm. Baiklah. Aku berjanji padamu, Christal. Lain kali aku tak akan membiarkan hal ini terjadi lagi. Namun apapu akan aku lakukan untuk selalu melindungimu."


Ucapan Zen sedikit membuat Christal merasa cukup lega. Namun kalimat terakhir dari ucapan dari Zen itu sedikit membuat Christal menjadi sedikit merasa tersipu, namun Christal juga merasa segan dan tidak enak.


Tok ... tok ... tok ...


Tiba-tiba saja mulai terdengar ritme teratur yang berasal dari pintu. Dan tak lama kemudian pintu itu mulai terbuka.


Terlihat 2 orang perawat yang memakai pakaian putih kebanggannya dengan sebuah bandana di atas kepalanya mulai memasuki ruangan ICU dan menghampiri Zen dan Christal. Mereka juga membawakan sebuah kursi roda.


"Hallo, selamat sore." sapa salah satu perawat itu dengan sangat ramah. "Kami akan memindahkan tuan Zen ke ruangan rawat presiden suite di lantai atas sesuai dengan yang sudah diperintahkan." imbuh perawat itu lagi mulai mendekat Zen.


"Oh ... biar aku saja yang membantu Li Zeyan!" ucap Christal dengan cepat dan mulai bangkit dari tempat duduknya lalu mulai membantu Zen untuk duduk.


Christal juga meraih lengan kiri Zen dan melingkarkannya pada bahunya lalu mulai membantu Zen untuk berpindah ke kursi roda. Sementara salah satu pengawal terlihat membantu membawakan sebuah botol infus milik Zen.


Christal mulai mendorong kursi roda itu dan mereka semua kini mulai meninggalkan ruangan ICU dan berpindah ke ruangan rawat.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2