Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Danenchofu


__ADS_3

Terlihat dua orang pria yang masih cukup muda melenggang bersama memasuki kabin VIP Air China. Di belakangnya sudah ada 4 body guard sangar yang selalu mengikutinya dengan setia.


Mereka segera mencari tempat duduknya dan beristirahat di seat masing-masing.


Kak Kai duduk di sebelah Zen. Sementara keempat body guard itu saling duduk terpisah. Ada yang duduk di sisi kanan, sisi kiri, depan, dan belakang. Mereka mengelilingi Zen dan kak Kai.


Tidak banyak yang menempati kabin VIP ini, malah saat ini hanya ada mereka ber-enam saja.


Kak Kai mengambil sebuah bacaan untuk mengurangi rasa bosannya, sementara Zen mulai menyandarkan badannya lalu memejamkan matanya. Mungkin dia masih terlalu mengantuk dan begitu lelah. Yeap, jarang melakukan olahraga dan melakukan peregangan otot malah membuat tubuhnya sedikit kesakitan dan merasa lelah. Rasanya sedikit kaku dan tegang saja.


"Saat ini masih jam 10.30 Am." ucap kak Kai sambil melihat Graff Diamond Hallucination-nya yang melingkar manis di tangan kirinya. "Kita akan landing di Narita Airport kira-kira jam 3 Pm. Kau bisa beristirahat dulu, Zen." imbuh kak Kai.


"Hhm ..." sahut Zen cuek dan masih memejamkan matanya. Sedangkan kedua tangannya saling disilangkannya di depan dadanya. Salah satu kakinya diangkat dan ditumpangkan si atas kaki yang lainnya. Sesekali Zen menggoyang-goyangkan telapak kakinya.


...⚜⚜⚜...


Bandar Udara Tokyo Narita


Tepat jam 3 Pm, pesawat Air China yang dinaiki oleh Zen dan kak Kai kini sudah landing di Narita Airport dengan cukup baik. Hentakannya terasa begitu teratur ketika maskapai itu melakukan pendaratan.


Setelah itu mereka segera memesan sebuah taksi untuk menuju ke sebuah hotel, Richmond Hotel Narita. Salah satu hotel yang berlokasi tak jauh dari Narita Airport.


"Istirahatlah dulu, Zen. Nanti kita bertemu lagi saat makan malam di bawah." ucap kak Kai setelah mengantar Zen ke kamarnya. Sementara kak Kai di kamar sebelahnya. Keempat body guardnya juga di kamar yang terpisah.


"Baiklah. Aku juga sangat lelah." Zen menyauti dengan wajah lesu.


"Yeap. Maka dari itu kau harus istirahat terlebih dahulu."


"Oke ..."


"Kalau begitu kakak akan ke kamar dulu."


"Hmm ..."


Kak Kai mulai meninggalkan Zen di kamarnya, sementara Zen segera memasuki kamarnya lalu menguncinya.

__ADS_1


Sebuah kamar yang terbilang cukup mewah dengan dipenuhi nuansa cream lembut. Berbagai furniture mewah juga sudah terpampang dengan rapi di berbagai tempat, menjadikannya begitu elegant dan fantastis.


Zen mulai melenggang mendekati jendela kamarnya, lalu dia menyibak gorden cream berlapis putih itu perlahan. Pemandangan yang cukup indah terbentang di hadapannya. Gedung-gedung tinggi pencakar langit seakan berlomba-lomba dalam meraih langit.


"Ah ... Tokyo." ucapnya penuh kerinduan. "Aku sudah datang ..." imbuhnya sambil memejamkan matanya.


"Aku harus pergi sekarang dan akan kembali sebelum makan malam!" gumamnya pelan dengan wajah serius.


Zen mulai mengambil topi dan maskernya untuk penyamarannya lagi. Perlahan dia mulai menjat melalui jendela kamarnya lagi.


"Whoa ... Lantai 4 dan tidak terlalu banyak pinggiran bangunan untuk bisa aku pijak saat ini. Well. Okay ... Ini tidak seberapa!"


Zen mulai menempelkan tubuhnya membelakangi dinding bangunan hotel mewah itu. Dia berjalan merayap dan mengendap-endap lalu melompat perlahan lantai demi lantai hingga dia mencapai dasar bangunan.


HAAPPP


Zen mulai memanggil sebuah taxi untuk menuju ke suatu tempat.


"Kita ke Danenchofu, Pak!" perintah Zen kepada sopir taxi itu.


Yeap, keluarga besar Kagami tinggal di kawasan Danenchofu, lingkungan yang bisa menandingi sebuah pinggiran kota bergaya Eropa kelas atas dengan taman yang begitu indah dan jalan-jalan yang mewah tentu saja.


Sepanjang perjalanan Zen hanya memperhatikkan bangunan-bangunan super megah dan kokoh di sisi sampingnya. Senyum samarnya selalu menghiasi wajah tampannya. Walaupun wajah bagian bawahnya tertutup oleh masker, namun senyum itu sangat tergambar dengan jelas dari sepasang mata bak okavango blue diamond itu.


Setelah beberapa saat, taxi itu mulai berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa kelas tinggi. Bangunan itu terlihat begitu kokoh dan sangat elegant.


"Tunggu saya dulu! Karena saya hanya ingin melihat mereka sebentar." ucap Zen sambil memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taxi itu.


"Baik, Nak ..." sahut sopir taxi itu sambil menerima uang dari Zen itu.


"Jangan panggil aku nak! Panggil aku tuan!" celutuk Zen sinis dan tegas.


"Eh ... Ba-Baik, Tuan ... Tuan muda ..." sahut sopir taxi itu lagi.


"Haisshhh ... terserah saja deh!" ucap Zen begitu kesal lalu bergegas turun dari taxi itu.

__ADS_1


Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Bagaimana ya? Apa aku pura-pura bertamu ke rumah saja ya?


Batin Zen sambil terus melangkahkan kakinya menuju rumah besar bergaya Eropa itu. Belum sempat Zen sampai di halaman rumahnya, sebuah taxi berhenti di dekatnya, dan membuat Zen berhenti sejenak memandangi taxi itu. Dia dipenuhi oleh rasa ingin tau yang cukup besar, siapa penumpang di dalam taxi itu?


Beberapa saat seorang wanita terlihat sedang turun dari taxi itu. Wanita yang memiliki wajah cantik dan tegas dengan mengenakan setelan kemeja dan celana press body.


Zen terdiam beberapa saat menatap wanita itu. Bahkan dia sudah berdiri dan mematung begitu saja memandangi wanita itu dari kejauhan.


"Hallo. Kamu mencari siapa?" sapa wanita itu saat sudah berdiri berhadapan dengan Zen. Saat ini mereka berdiri tepat di depan pagar rumah besar keluarga Kagami.


"Yuna ..." ucap Zen begitu lirih. Dan dia segera melepas topi dan masker yang tadi dia kenakan. "Ini aku ..." imbuhnya begitu lirih.


Wanita yang dipanggil Yuna itu memicingkan matanya menatap Zen dengan bingung.


"Aku sungguh merindukanmu ..." ucap Zen lirih dan tanpa sadar dia segera meraih wanita bernama Yuna dan langsung memeluknya begitu saja.


Sepasang mata Yuna membulat sempurna dan dia segera mendorong tubuh Zen.


"Dasar bocah kurang ajar!" celutuk Yuna sambil melayangkan tangan kanannya dan ...


PPLLAAKK ...


Zen terdiam dan malah tersenyum tipis menerima perlakuan istrinya yang kini sama sekali tak mengenali dirinya ini.


"Apa kau cari mati?! Suamiku akan benar-benar membunuhmu jika melihat semua ini!" timpal Yuna lagi dengan sangat tegas.


Zen tertawa kecil mendengar ucapan Yuna.


Begitu setianya kamu kepadaku, Sayang? Bahkan aku sudah tiada dan kau masih menjaga jarak dengan pria lain. Aku sungguh beruntung memilikimu.


Batin Zen tersenyum samar. Pipi kirinya kini sedikit memar dan memerah karena tamparan dari Yuna.


"Kamu wanita yang baik ya! Hhm ... Tentu saja! Aku tau itu! Aku sangat beruntung!" ucap Zen pelan. "Tapi suamimu sudah tiada, bukan?!"


"Siapa sebenarnya kau, Bocah? Dan kenapa berkata seperti itu?!" geram Yuna. "Tau apa kau soal suamiku?!" imbuh Yuna memicingkan mata menatap Zen dengan tajam.

__ADS_1


"Kalau aku jujur padamu, pasti kau akan menganggapku gila." ucap Zen sedikit lembut dan tersenyum samar. "Jadi ... aku ini adalah ..."


"Siapa dia, Nyonya?" potong seorang pengawal rumah yang tiba-tiba mendatangi mereka berdua.


__ADS_2