Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Christal Berubah


__ADS_3

Seorang pemuda dengan sepasang pupil kebiruan mulai keluar dari kamar mandinya dan masih mengenakan jubah mandinya yang berwarna putih. Rambutnya yang berwarna kecoklatan kini masih terlihat sedikit basah dan masih berantakan.


Pemuda itu mulai duduk di pinggiran tempat tidurnya dan mulai mengeringkan kembali rambutnya yang masih basah dengan sebuah handuk yang berukuran kecil.


Setelah beberapa saat sebuah benda pipih mulai diambilnya dari atas nakas dan mulai menghidupkannya kembali ponsel yang tadi sempat mati karena kehabisan baterai itu.


Setelah ponsel itu menyala, pemuda yang tak lain adalah Zen itu kini mulai menghibungi seseorang melalui ponsel itu. Panggilan pertama dilewatkan begitu saja oleh sang nomor tujuan itu, hingga akhirnya Zen mulai mencoba untuk kedua kalinya.


Dan panggilan kali ini akhinya mulai diangkat oleh seseorang yang kini sedang berada di seberang line.


"Hallo ..." kini terdengar sapaan dari seorang gadis yang berasal dari seberang line.


Nada bicaranya terdengar sedikit dingin dan cuek. Terlihat seperti seseorang yang sedang kesal.


"Hallo Christal. Selamat pagi. Kamu sedang apa?" sapa Zen dengan ramah seperti biasanya.


"Aku hanya sedang di kamar hotel saja, baru selesai sarapan pagi bersama." sahut Christal dari seberang.


"Oh, kapan kalian akan kembali ke Jepang?"tanya Zen sambil meletakkan handuknya di pangkuannya.


"Lusa kita akan segera kembali ke Jepang." sahut Christal dengan nada bicara yang sangat datar dan tidak bersemangat.


"Cepat sekali. Sayang sekali dua hari ke depan jadwalku juga sangat padat.


"Hhm. Tidak masalah kok. Aku tau kamu orang yang sangat sibuk." sahut Christal masih dengan nada bicara yang begitu datar, seperti dia yang masih kecewa dan kesal karena sesuatu.


"Christal apa kamu baik-baik saja? Kamu terdengar seperti sedang kesal kepadaku. Apa itu benar, Christal?" ucap Zen dengan hati-hati karena takut akan menyinggung perasaan Christal.


"Tidak, aku baki-baik saja." jawab Christal begitu singkat dat tidak berekspresi sama sekali.

__ADS_1


Dingin dan cuek. Namun sepertinya Zen cukup memahami, jika saat ini Christal memang sedang menyimpan sebuah kekecewaan, atau lebih tepatnya Christal masih begitu kesal dengan Zen.


Hari ini, seharian Zen tidak menghubungi Christal sama sekali. Pesan terakhir yang diberikan Zen adalah saat pagi yang mengatakan jika Zen akan melakukan sebuah syuting drama kolosal.


Beberapa pesan Christal juga mulai tidak dibalas setelah itu. Bahkan tidak dibaca oleh Zen. Hingga akhirnya saat malam malah ponselnya tidak bisa dihubungi dan Zen masih belum ada kabar juga hingga keesokan harinya.


Padahal Christal tau jika saat pagi Zen juga sedajg berada di tempat yang sama dengan dirinya. Namun Zen juga tidak berusaha untuk mebghubungi Christal, atau bahkan tidak berusaha untuk menemui Christal walaupun hanya sebentar saja.


Dan sepertinya itulah yang membuat Christal merasa kecewa, marah, dan kesal. Christal berfikiran buruk tentang Zen yang sedang berusaha untuk menghindarinya. Atau sebenarnya Christal sempat berfikir jika Zen memang sudah benar-benar tidak mau berhubungan dengannya dan menghilang secara halus dan pelan.


"Christal ... maafkan aku. Kemarin ponselku tertinggal di apartemenku. Seharian aku tidak memegang ponsel sama sekali. Dan saat aku kembali ke apartemen, ternyata ponselku sudah mati karena kehabisan baterai. Jadi aku charge terlebih dahulu dan berniat untuk menghubungimu setelah itu. Namun aku malah ketiduran begitu saja. Maafkan aku, Christal." ucap Zen dengan jujur tanpa ada kebohongan sedikitpun dia selipkan di dalam ucapannya.


Mendendengar penjelasan dari Zen, sebenarnya sudah cukup membuat Christal merasa sangat lega dan bahagia. Jika ternyata Zen memang tidak sedang berusaha unyuk menghindarinya atau melupakannya.


Dan sebenarnya penjelasan dari Zen cukup membuat Zen merasa malu karena Christal yang sudah berfikiran buruk tentang Zen. Padahal sudah sangat jelas jika Zen adalah seorang pria yang baik. Dan semua itu sudah diakui oleh kakak sulungnya, Kagami Jiro.


"Hhm, iya. Aku juga minta maaf ya, Zen. Aku sempat berfikiran buruk tentang kamu." ucap Christal sedikit merona karena malu dan merasa bersalah.


"Hhm ... hari ini kalian mau kemana?" tanya Zen lagi.


"Kita semua akan pergi bersama-sama ke pantai bersama paman Yukimura dan juga kak Xia Feii. Sebenarnya kami juga sangat berkarap kamu, kak Kai, dan Amee juga bisa ikut. Karena sangat langka kita semua bisa berkumpul bersama." ucap Christal seadanya.


Zen mengusap keningnya dan raut wajahnya terlihat penuh penyesalan.


"Maafkan aku, Christal. Namun dua hari ini jadwalku sungguh sangat padat. Aku berangkat pagi dan pulang sangat larut. Jika aku ingin menemuimu, itu juga sudah sangat larut. Bahkan aku tidak tau apakah aku bisa mengantar kalian ke Bandara atau tidak." ucap Zen terdwngar penuh dengan penyesalan.


Sebenarnya mendengar ucapan dari Zen cukup membuat Christal sedikit bersedih. Dan itu artinya mereka tidak akan bertemu kembali hingga entah berapa bulan atau berapa tahun ke depan lagi.


Namun Christal berusaha menutupi kesedihannya dan tetap berusaha untuk tetap ceria agar Zen tidak merasa bersalah kepadanya. Sebenarnya ini juga adalah salah satu resiko untuk Christal saat sudah berani menjalin sebuah ikatan bersama Zen.

__ADS_1


Zen adalah seorang idol nomor 1, dan tentu saja pastinya dia memiliki kesibukan yang luar biasa. Belum lagi menjadi kekasih Zen harus memiliki hati dan mental dan kuat. Karena hampir di setiap pekerjaannya, tak akan pernah luput dengan para aktris yang memiliki paras bak bidadari.


"Jangan khawatir, Li Zeyan. Aku tau kok kamu sangat sibuk. Tidak masalah kok. Hehe ..." ucap Christal berusaha untuk tetap ceria di hadapan Zen. "Kamu yang semangat ya!! Kata kedua keponakanku kamu berakting sebagai seorang ksatria dengan sangat keren. Wah curang sekali aku tidak bisa melihatnya kemarin."


"Ahaha ... tidak sekeren itu kok. Uhm, Christal ..."


'Ya?"


"Jangan pernah bosan ya menjalin ikatan yang seperti ini bersamaku. Aku terkadang memang sangat sibuk dan sulit untuk memegang sebuah ponsel." ucap Zen penuh harap.


"Hhm. Tidak kok. Aku sangat tidak bosan. Dan aku juga akan selalu percaya padamu." ucap Christal dengan tulus. "Uhm ... hanya saja ..."


"Hanya saja apa, Christal?" tanya Zen yang kali ini terdengar cukup penasaran hingga Zen sedikit membatkan sepasang mata indahnya.


"Hanya saja agak sulit mengatasi kak Jiro." ucap Christal dengan jujur.


"Memang apa yang terjadi dengan kak Jiro?" tanya Zen sangat ingin tau.


Belum sempat Christal menjawab pertanyaan dari Zen, Christal malah tertawa terbahak-bahak begitu saja, dan hal ini semakin membuat Zen merasa penasaran.


"Christal? Apa yang terjadi dengan kak Jiro?" tanya Zen lagi ingin tau.


Namun belum sempat Christal menjawabnya, tiba-tiba saja Vann sudah memasuki apartemen Zen begitu saja.


"Tuan Zen, kita harus segera berangkat. Ada sedikit masalah di LZ." ucap Vann dengan ekspresi serius.


"Oh baiklah. Aku akan berganti pakaian dulu." sahut Zen menatap Vann selama beberapa saat, lalu mulai bangkit dari duduknya. "Christal, akunakan menghubungimu lagi nanti. Sampai jumpa ..." ucap Zen sebelum mengakhiri panggilan itu.


"Hhm. Sampai jumpa ..."

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2