
"Apa?! Tuan Kagami Jiro sedang berada di ruangan sebelah?" ucap Zen begitu terkejut hingga dia membelalak dan mulutnya sedikit menganga.
Jika mereka melihat tuan Kagami Jiro sedang berada di sebelah. Lalu mereka melihatku sebagai siapa saat ini? Apakah mereka melihatku sebagai Zen? Wah ... apakah ini sungguhan dan bukan mimpi?
Batin Zen yang masih membelalakkan sepasang matanya dan mulai melihat kedua tangannya dan sedikit memutar-mutarkannya untuk memastikan sesuatu.
Tangan yang ramping namun memiliki struktur tulang yang cukup tegas kini mulai dilihatnya. Begitu putih, bersih, dan sangat sehat. Kini jemari Zen mulai meraba-raba wajahnya sendiri untuk merasakan susunan pada wajahnya. Dan dia merasakan wajahnya yang begitu mulus dan lembut, dengan hidung mancung yang memiliki tulang yang lurus serta dagu yang berbentuk V.
Tak puas dengan itu, kini Zen mulai melihat susunan badannya yang lain. Dia membuka beberapa kancing pakaiannya untuk memastikan sesuatu. Dan benar saja, tubuh yang dia tempati sekarang begitu ramping namun kini cukup atletis.
Tubuh ini begitu bersih. Semua tato itu kini menghilang. Ini adalah tubuhku! Ya! Ini adalah tubuhku! Aku sudah kembali! Akhirnya aku dan tuan Kagami Jiro sudah bertukar jiwa tubuh kembali! Ahh ... senang sekali!!
Batin Zen dengan wajah yang sangat berbinar dan terlihat begitu berbahagia.
"Zen. Pakai pakaianmu kembali!" ujar Kak Kai karena ternyata Zen sudah hampir melepas semua kancing pakaian rawat itu. Dan itu membuat Amee yang juga sedang berada bersama mereka sedikit malu dan tidak nyaman.
Zen yang mendengar ucapan kak Kai malah mendongak dan semakin tersenyum lebar menatap pria berkacamata itu. Bahkan Kak Kai yang sedang berada di sebelahnya kini langsung diraih dan dipeluknya dengan begitu eratnya.
Perasaan rindu, bahagia, terharu, semua perasaan itu berkecamuk di dalam hatinya berbaur menjadi satu.
"Kak Kai!! Kakakku satu-satunya di dunia ini!! Manager terbaikku!! Kakakku yang paling tampan dan baik hati!! Aku sungguh sangat merindukanmu!!" ucap Zen yang masih sangat erat memeluk kak Kai dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Sesekali Ze memejamkan sepasang mata kebiruannya dan menghirup dalam aroma khas kak Kai yang selalu dirindukannya selama ini.
__ADS_1
Tingkah konyol Zen yang seakan mereka sudah terpisah cukup lama dan tak bertemu dalam waktu yang sangat lama itu membuat kak Kai begitu kebingungan dan hanya melongo begitu saja.
"Aku kangen sekali dengan kakak!" Zen semakin memperkuat pelukannya dan membuat kak Kai merasa sedikit sesak dan kegerahan.
"Zen, ada apa denganmu? Mengapa kau seperti ini?" ucap kak Kai sangat kebingungan namun dia tak berusaha sama sekali untuk melepaskan pelukan dari adik semata wayangnya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Apa lagi setelah bertemu dengan kakak! Aku sungguh sangat senang sekali bisa memeluk kakak seperti ini lagi! Rasanya seperti mimpi saja! Uhhh ... kangen sekali! Aku rindu sekali ..." Zen mulai melepas pelukannya dan perlahan meraih wajah kak Kai dengan kedua jemarinya, lalu menatap lekat wajah kak Kai dan memperhatikan setiap detail dari wajah kak Kai.
Senyuman lebar itu menghiasi wajah tampan itu kembali, lalu Zen mulai memeluk kak Kai kembali dan mendaratkan kepalanya menempel pada dada dan leher kak Kai. Kak Kai dan Amee saling bertatapan dan merasa kebingungan.
Ada apa dengan anak ini? Padahal hanya seharian saja tidak bertemu denganku. Mengapa seperti sudah sekian lama tidak bertemu saja?!
Batin Kak Kai lagi yang masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Sebuah kejadian yang sangat unik!
Dan ini semakin membuat Amee dan kak Kai lebih merasa kebingungan.
"Uuhm ... iya, Zen. Aku juga merindukanmu." sahut Amee sedikit terbata dan sesekali melirik kal Kai, khawatir jika kak Kai akan salah paham ketika melihat semua ini.
Namun sangat berbeda dengan pemikiran dan kekhawatiran Amee. Kak Kai tersenyum tipis dan mengangguk pelan menatap Amee dan hal itu tentu saja sangat membuat Amee merasa lega.
"Uhm ... kalau begitu aku akan membeli sesuatu ke mini market sebentar." ucap Amee mencari alasan, karena gadis cantik ini masih merasa kikuk diantara mereka berdua dalam keadaan seperti ini.
Meskipun saat ini Amee dan Zen sudah tidak memiliki perasaan apa-apa. Namun untuk menjadi dekat kembali seperti itu, tentu saja akan sedikit mengganggu perasaan seorang gadis dan membuatnya tidak nyaman. Apalagi sebentar lagi Zen akan resmi menjadi adik iparnya.
__ADS_1
"Hhm. Baiklah. Pergilah, Amee. Jangan lupa belikan aku red velvet cake! Aku sedang ingin memakannya. Suasana hatiku sedang begitu baik saat ini!" ucap Zen yang sudah melepas pelukannya dan menatap Amee dengam senyum lebar.
"Hhm? Kini kau menyukai makanan manis lagi, Zen?" tanya kak Kai semakin kebingungan.
"Hhm. Aku selalu menyukai makanan manis, Kak Kai. Oh iya, Amee ... tolong belikan juga udang chrispy di kantin rumah sakit ya."
"Bahkan kini kau juga menyukai masakan sea food, Zen?" sepasang mata bening kak Kai di balik sebuah kacamata minusnya itu kini juga membulat kembali mendengar ucapa dari Zen.
"Hhm. Aku sedang ingin memakannya, Kak. Maukah kau membelikannya untukku, Amee?" Zen beralih menatap Amee untuk mendengarkan jawaban dari Amee.
"Ahh ... iya. Aku akan membelikannya untukmu." jawab Amee sedikit linglung karena perubahan sikap Zen hari ini. "Kalau begitu aku ke kantin dulu. Kalian berbincanglah."
Gadis cantik nan anggun yang selalu terlihat begitu kalem dan lemah lembut itu kini mulai melenggang dengan begitu anggun dan meninggalkan ruangan rawat VIP ini.
Bagaimana mungkin selera makan dan makanaan kesukaan dari seseorang bisa berubah-ubah seperti ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya? Siapakah dia yang selalu bersama denganku akhir-akhir ini?
Kak Kai membatin dan memicingkan sepasang matanya menatap Zen dengan begitu curiga. Namun kak Kai segera membuang pikiran yang tidak-tidak dan kembali bersikap wajar.
"Zen ... apa yang terjadi saat itu? Maaf jika kakak malah pergi dan sibuk sendiri saat itu." kini kak Kai mulai membantu Zen untuk mengancingkan kembali pakaian rawan Zen yang sejak tadi masih terbuka.
"Hhh? Tidak masalah kok, Kak. Para penjahat itu menculik Christal, lalu mereka meminta tuan Kagami Jiro untuk pergi ke suatu tempat jika ingin Christal selamat." jawab Zen seadanya dan jujur.
"Hhm, kakak tau itu. Dan kakak sudah mendengar semua dari Vann." sahut kak Kai yang mulai memperlihatkan wajah kesal, seperti saat dia sedang menemukan kenakalan yang dilakukan oleh artisnya. "Lalu kenapa kau begitu bersikap seperti pahlawan saat itu?! Bahkan kau hampir saja pergi seorang diri untuk menyelamatkan Christal! Katakan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi! Ada hubungan apa kau dengan Christal? Apa kau menyukai Christal? Bahkan saat itu kau begitu khawatir setelah mendengar Christal diculik ... "
__ADS_1