
Zen baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan kini baru berganti pakaian. Yeap, Dia sedang bersiap untuk makan malam bersama kak Kai.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba ritme teratur mulai terdengar dari arah pintu kamar Zen. Dan Zen segera melenggang menuju pintu itu dan membukanya.
"Ayo kita segera turun ..." ajak kak Kai setelah pintu itu terbuka. Namun tiba-tiba saja kak Kai membulatkan matanya menatap Zen. "Astaga Zen! Ada apa denganmu?" kini kak Kai meraih dagu indah Zen yang sangat tirus dan sedikit memiringkan wajah Zen utuk melihat pipi kiri Zen yang masih terlihat sedikit memar dan merah.
"Apa yang sudah terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya kak Kai begitu serius dan terlihat sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa kok. Ini tadi kejedot tembok saja kok gara-gara berjalan sambil ngantuk." sahut Zen sambil menepis tangan kak Kai.
"Jangan bohong sama kakak! Siapa yang melakukan ini?" tanya kak Zen lagi. "Bukankah dari tadi kau hanya di dalam kamar dan tidur? Atau jangan-jangan kau kabur, Zen?!"
"Bagaimana aku bisa kabur, Kak Kai? Bukankah para pengawal selalu berjaga di luar pintu kamarku?" kilah Zen mencari alasan. "Dan lagi ini adalah lantai 4. Mana bisa aku kabur lewat jendela?! Hah ... yang benar saja!"
"Hhm. Benar juga ya ..." gumam kak Kai yang masih menatap Zen dengan curiga.
Zen menyibak rambutnya yang masih basah ke belakang agar tidak mengganggu pandangannya. Dan tak sengaja kini kak Kai melihat luka di tangan kanan Zen.
"Ini luka apa lagi?" kak Kai kini menarik tangan Zen yang terluka itu.
"Ah ... Itu tadi nggak sengaja terkena ujung jendela yang sedikit tajam. Jadi ya seperti itu deh ..." kilah Zen lagi.
"Haduh ... sejak kapan kau menjadi begitu ceroboh seperti ini, Zen? Ayo cepat masuk dulu! Kakak akan mengkompres luka pada wajahmu."
"Baiklah ..." kini Zen memasuki kamarnya lagi dan diikuti oleh kak Kai.
Zen duduk santai di sofa dan menyalakan siaran Tv karena bosan. Sementara kak Kai menyiapkan air hangat untuk mengkompres luka memar pada wajah Zen.
"Wah ... bukankah itu Jia Li dan Du Huanran ..." kata Zen saat melihat Jia Li dan Du Huanran yang sedang mensponsori sebuah liptint pada iklan di Tv.
__ADS_1
"Benar itu adalah mereka berdua." sahut kak Kai yang tiba-tiba datang dengan membawa sebuah baskom yang berisi air hangat.
Dia meletakkan baskom itu di atas meja lalu duduk di sebelah Zen. Kak Kai mulai mencelupkan sebuah handuk kecil pada air hangat itu lalu memerasnya untuk mengkompres wajah Zen.
"Mereka terlihat sangat berbakat ya ..." celutuk Zen yang masih menyaksikan iklan itu. "Anak muda jaman sekarang memang hebat!" imbuh Zen lagi merasa takjub.
"Mengapa kau berbicara seperti itu? Memang kau fikir apa kau merasa sudah tua? Kamu saja seumuran dengan mereka kok." celutuk kak Kai diiringi tawa kecil.
Kini perlahan kak Kai mulai mengkompres luka memar pada wajah Zen.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Zen! Wajah dan seluruh anggota tubuhmu adalah asetmu yang sangat berharga. Kamu harus benar-benar menjaganya dengan baik."
"Iya ... iya ... sory deh. Aku kan nggak sengaja."
"Besok kau mau berlibur kemana? Biar kakak belikan tiket terlebih dahulu." tanya kak Kai sambil mencelupkan handuk kecil itu kembali pada baskom itu lalu memerasnya kembali.
"Aku ingin pergi ke Japan Telexistence!" sahut Zen yang masih fokus menatap layar televisi di hadapannya.
Japan Telexistence adalah tempat terakhir bagi Kagami Jiro sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan dunia ini. Yeap, di tempat itulah penyerangan terhadap Kagami Jiro terjadi. Dia ditabrak dan mendapatkan tusukan bertubi dari sang penyerang hingga akhirnya dia tewas.
"Hanya ingin melihat-lihat dulu." Zen menyauti begitu santai. "Setelah itu aku mau ke pergi ke pasar gelap untuk membeli beberapa senjata."
"Ha? Senjata? Mau kau apakan senjata-senjata itu nanti?" tanya kak Kai sedikit melongo.
"Aku ingin mencari samurai dan senjata api. Hanya untuk berjaga-jaga kok."
"Memang kau bisa memakainya?"
"Aku akan belajar. Aku juga harus menjadi kuat agar bisa menjaga diriku sendiri. Benar begitu bukan?"
"Oh ... memang ada benarnya sih. Baiklah. Kita akan pergi bersama besok." sahut kak Kai lalu meletakkan handuk kecil itu di dalam baskom.
__ADS_1
Tiba-tiba ada sebuah berita yang membuat Zen kini terdiam mematung begitu saja. Sepasang mata kebiruannya menatap lekat layar televisi di hadapannya itu.
Penembakan wakil pimpinan mafia Jepang (Yakuza) Kagami Yosuke dari kelompok Doragonshadou terjadi Kamis 27 Mei lalu di Kota Lida Perfektur Nagano.
Inilah awal pembuka akan adanya perang antar geng yakuza di Jepang. Penembaknya adalah pecahan Doragonshadou, dari Kobe Doragonshadou yang biasa disebut Hit-Man di Jepang.
Yakuza terbesar Jepang Doragonshadou pecah 28 Mei lalu dan saingannya dengan logo yang sama persis, membentuk Wolf Shadow tanggal 1 Juni dan diresmikan 2 Juni lalu terdiri dari 14 kelompok. Awalnya 13 kelompok, belakangan menyusul bergabung satu kelompok lain bersama Wolf Shadow.
Akibat perang dari perpecahan Yakuza terbesar ini adalah banyak masyarat juga seorang anggota masyarakat sipil terkena salah tembak dari anggota yakuza sehingga meninggal dunia di Kota Takeo Perfektur Saga. Penembakan oleh anggota Wolf Shadow yang bermarkas di Kota Kurume Perfektur Fukuoka.
Seorang reporter televisi menyampaikan berita terbaru saat ini dan berhasil membuat Zen sedikit shock.
"Hit Man Jepang?!" gumam Zen pelan dan sedikit menggeram. "Beraninya kau melakukan itu Ley!" kedua tangan Zen mengepal, sementara netranya masih menatap tajam layar televisi itu.
Beraninya kau berkhiananat Ley! Bahkan berani sekali kau melukai adik keduaku! Apa yang membuatmu menjadi seperti itu? Apa jangan-jangan kau juga yang telah menyerangku saat itu? Dasar sampah pengkhianat? Aku tidak akan bisa tinggal diam saja menyaksikan semua ini! Tapi aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Bocah ini juga masih memiliki kehidupan! Aku juga harus melakukan kehidupan sebagai bocah ini.
Batin Zen dengan wajah serius dan kening berkerut.
"Zen ... Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Perang antar gangster bukan menjadi hal yang yang tidak mungkin lagi. Jangan kaget ..." sahut kak Kai yang melihat Zen tiba-tiba terbawa suasana setelah melihat berita itu.
"Kak. Bisakah kita lebih lama di Jepang?" tanya Zen tiba-tiba.
"Jangan bercanda!" tandas kak Kai seketika. "Ini saja kita bisa pergi ke Jepang karena kakak bersikeras mengambil hati para sponsormu!"
"Haish ... Merepotkan!" celutuk Zen terlihat sangat kesal. "Paling tidak satu minggu saja lah. Setelah itu aku akan berjanji akan bekerja lebih baik lagi!"
"Tidak bisa! Jangan seenaknya sendiri, Zen." ucap kak Kai dengan tegas. "Tapi kakak akan usahakan dalam satu bulan sekali kamu bisa datang ke Jepang."
"Okay!"
Itu artinya aku hanya tinggal mempunyai dua hari saja untuk di Jepang! Aku juga harus melihat adikku Yosuke! Bagaimana kondisi dia saat ini ya?
__ADS_1
Batin Zen yang tiba-tiba teringat oleh sosok adik keduanya yang saat ini menjabat sebagai wakil dari Yamaguchi Gumi.
...⚜⚜⚜...