Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Shadow Forest


__ADS_3

Langit begitu cerah hari ini. Sang mentari juga mulai tersenyum menampakkan sinarnya yang memberikan kehangatan untuk semesta.


Gedung Wan Chai Universty masih terlihat begitu kokoh sama seperti biasanya. Mahasiswa dan mahasiswi terlihat sedang melakukan kesibukannya masing-masing di area kampus.


Di dalam sebuah ruangan terlihat seorang pria mulai mengemasi buku-bukunya dengan santai. Sementara mahasiswa dan mahasiswi lain satu persatu mulai meninggalkan aula ini.


"Zen. Kudengar Zhang Wei dan teman-temannya telah memberikan tuduhan palsu terhadapmu. Apa itu benar?" tanya seorang pemuda berambut jabrik yang sedang duduk di sebelah Zen.


"Hhm ... benar sekali." Zen menyauti dengan begitu santai dan tersenyum tipis. Sementara kedua tangannya masih terlihat mengemasi beberapa bukunya.


"Lalu apa kau menuntut balik mereka?"


"Tentu saja!" kini Zen semakin tersenyum lebar mendengar ucapan dari Bai Xi.


"Aku dengar mereka akan membayar dendanya. Jadi mereka akan segera kembali ke kampus lagi." ucap Jancent yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya diantara mereka berdua. Rasanya seperti dejavu saja!


"Hhm. Banyak uang juga ternyata dia." guman Zen tersenyum meremehkan.


"Tentu saja. Ayah Zhang Wei adalah seorang Presdir sebuah perusahaan yang cukup besar di Beijing. Dia tidak akan membiarkan anak kesayangannya mendekam di penjara begitu saja. Mungkin juga ayahnya sudah menemui managermu, Zen. Karena gugatan itu kini sudah diselesaikan." ucap Jancent.


"Hhm. Aku tidak tau soal itu." ucap Zen lalu bangkit dari duduknya dan segera berdiri. "Aku pergi duluan. Bye ..."


"Okay ..." sahut Bai Xi dan Jancent bersamaan.


Zen mulai melenggang dengan langkah lebar dan begitu gagah meninggalkan ruang kuliah. Dia menyusuri sebuah koridor panjang yang masih sedikit ramai oleh lalu lalang para mahasiswa.


Tiba-tiba Zen menghentikkan langkah kakinya dan menatap sisi belakang dari Wan Chai University. Terlihat sebuah hutan yang begitu besar dan terlihat begitu gelap. Bangunan pagar pembatas berdiri begitu kokoh membatasi antara kampus dengan hutan Shadow Forest itu.


Zen pernah mendengar beberapa rumor tentang hutan ini dari Bai Xi. Kisah yang begitu mistis dan membuat bergidik ngeri. Pernah juga dia mendengar dari Bai Xi, jika seorang mahasiswa Wan Chai University menghilang begitu saja setelah memasuki hutan itu.


Jika biasanya hutan identik dengan warna hijau dari daun-daun pohonnya, hal ini tidak berlaku untuk salah hutan yang berada di belakang kampus Wan Chai. Hutan yang dinamakan Shadow Forest ini terkenal dengan suasana gelapnya yang mencekam karena daerahnya jarang sekali terkena cahaya sinar matahari.


Dengan diisi oleh banyaknya pohon-pohon pinus di dalamnya, siapapun yang datang akan langsung dibuat merinding oleh suasana gelap yang begitu dingin dan mencekam.


Tidak hanya itu, hutan ini lebih menyeramkan karena berpotensi besar melihat hantu, roh-roh, dan mendengar suara-suara drum dari hantu para tentara. Nu gui adalah hantu wanita pendendam dengan rambut panjang di balut gaun putih. Dalam cerita rakyat China, hantu ini digambarkan sebagai roh seorang wanita yang bunuh diri sambil mengenakan gaun merah.

__ADS_1


Biasanya, ia mengalami kasus ketidakadilan ketika masih hidup, seperti dilecehkan secara seksual atau dirampok. Nu gui pun kembali untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang menyakitinya semasa hidup.


Tiba-tiba saja Zen melihat sosok Li Lian yang memanjat pagar pembatas itu dengan terburu-buru. Kemudian dia mulai berlari ke arah hutan dan terlihat sedang mengejar sesuatu.


"Hei, Bocah!" teriak Zen memanggil gadis itu, tapi sayangnya Li Lian sudah berlari ke dalam hutan itu. "Sial! Apa aku harus ikut campur lagi kali ini?" gumam Zen terlihat sedikit kebingungan.


"Haiisshhh ... sungguh merepotkan saja!" Zen mendengus dengan kesal lalu akhirnya mulai memanjat pagar itu untuk menyusul Li Lian.


HUUPP ...


Zen melompat dan berhasil mendarat dengan sempurna di dalam hutan itu. Zen mulai menyusuri sebuah jalan setapak yang tadi sempat dilalui oleh Li Lian.


"Hutan ini benar-benar gelap! Tidak ada cahaya matahari yang bisa memasukinya. Hhm ... kemana bocah itu pergi?" gumam Zen sambil terus melangkahkan kakinya dan menyibaki dedaunan yang menutupi jalannya.


"Li Lian! Dimana kau?" kini Zen mencoba berteriak memanggil nama gadis itu.


"Li Lian! Apa kau mendengarku?" teriak Zen lagi berharap gadis itu bisa mendengarnya.


Hanya ada sayup-sayup yang terdengar, tidak ada sahutan sama sekali dari gadis bernama Li Lian itu. Zen melirik Philippe Sky Moon Tourbillon-nya yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya.


"Sial! Kai pasti sudah menungguku di depan!" Zen mendengus dengan kesal. "Li Lian! Apa kau mendengarku?" Zen berteriak kembali memanggil nama gadis itu.


"Apa ini?" gumamnya berusaha sedikit mengintip.


Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda sedang berdiri di balik sebuah pohon yang cukup besar. Pemuda itu sangat tidak asing, pemuda bermata kebiruan dan sangat tampan. Yeap, pemuda itu adalah Li Zeyan. Dia terlihat sedang berdiri di balik pohon dan mengintai sesuatu.


"Li Zeyan?" ucap Jiro ber-raga Zen kebingungan. Bahkan dia sampai melihat dirinya sendiri jika dia sedang tidak bermimpi dan memastikan bahwa dia masih di dalam raga Zen.,


"Aku masih menempati raga Li Zeyan! Lalu siapa bocah itu?" Kagami Jiro sangat kebingungan dengan situasi saat ini, kini dia memutuskan muntuk menghampiri pemuda itu.


"Bocah ... siapa kau?" tanya Kagami Jiro setelah berada di dekat pemuda itu. Namun pemuda itu tidak menghiraukannya, dia terlihat begitu khawatir dan ketakutan sambil menatap arah depan.


Kini Kagami Jiro memalingkan wajahnya dan menatap arah pandangan pemuda itu. Kini matanya sedikit membelalak. Dia menyaksikan seorang gadis yang sedang disiksa oleh seorang pria paruh baya. Darah segar sudah mengalir dari beberapa luka di tubuhnya. Bahkan pakaiannya sudah koyak. Sepertinya pria paruh baya itu telah melakukan tindakan tidak senonoh terhadap gadis itu dan berakhir penyiksaan.


Pemandangan terakhir adalah sang pria paruh baya menusuk beberapa kali tubuh gadis itu hingga tubuh gadis itu tak bergerak lagi.

__ADS_1


"Cecunguk sialan!!" jiwa seorang Kagami Jiro yang sesungguhnya kini keluar, namun saat dirinya berusaha mendekati mereka dia terpental ke belakang. Sementara dia melihat pemuda yang menyerupai Li Zeyan itu mulai melarikan diri dan terlihat begitu ketakutan.


Tiba-tiba saja seberkas cahaya putih menyapu semuanya. Mereka berdua kini lenyap begitu saja. Zen terlihat begitu kebingungan dan mulai mendekati tempat dimana pria itu menyiksa gadis itu.


"Apa yang baru saja aku lihat? Hantu? Atau ... memory Zen? Arghh ..." gumam Zen lau memijat keningnya.


"Aku pernah melihat pria paruh baya yang membunuh gadis itu. Tapi dimana ya? Hhm ... aku lupa ..." kini Zen melihat sesuatu yang membuatnya sangat shock.


Dia menemukan tengkorak manusia yang masih utuh di balik semak-semak itu. Dan dia melihat sesuatu yang berkilauan tergeletak di atas tanah. Zen segera memungutnya dengan sapu tangannya.


Ada sebuah name tag bertuliskan "Xu Han", tak jauh dari tempat itu Zen juga menemukan sebuah kalung dengan sebuah liontin berbentuk hati. Dengan cepat Zen segera menyimpan benda-benda itu di dalam saku jaketnya.


PPUUKK ...


Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya dari belakang.


...⚜⚜⚜...


...By the way siapakah gerangan yang tiba-tiba datang? Jawabannya adalah di episode selanjutnya. Hehe ......


...Okay. Karena banyak yang penasaran dengan visual Kagami Jiro versi tua, kali ini author akan memberikan beberapa visual dari Kagami Jiro versi now. Yuk ... check this out ......








__ADS_1



...Bagaimana?? Ganteng apa sangar?? Semoga bisa menjawab rasa penasaran reader Never Say Good Bye selama ini. Hehe ... saatnya author undur diri. Dah .......


__ADS_2