
Jurang Desa Atule'er, Sichuan, Beijing China.
Seorang pria paruh baya terlihat sedang membawa tumpukan kayu bakar yang sudah dia kumpulkan satu persatu beberapa saat yang lalu. Seperti biasa pria paruh baya itu selalu mengumpulkannya dan membawanya ke rumahnya.
Pria paruh baya yang kira-kira berusia 46 tahun itu sebenarnya terlihat masih cukup tampan dan gagah. Sepasang matanya selalu terlihat begitu indah seperti batu kristal berwarna kebiruan dan begitu teduh dan hangat. Tulang hidungnya juga begitu mancung, bentuk rahangnya berbentuk V shape.
Dan jika diperhatikan dengan lebih detail dan teliti, sebenarnya pria paruh baya ini cukup mirip dengan seorang mantan idol nomor satu di Beijing, Li Zeyan. Hanya saja pria ini lebih tua dan terlihat seperti versi tua dari seorang Li Zeyan. Mirip sekali!!
Selama 15 tahun pria paruh baya ini tinggal bersama dengan seorang nenek-nenek yang sudah cukup tua renta. Mereka hidup bersama dengan begitu hangat, bahkan nenek itu sudah menganggap pria paruh baya yang bernama Wang Jun seperti putranya sendiri.
Karena sebenarnya nenek itu tak memiliki sanak saudara dan hidup sebatang kara sebelum bertemu dengan Wang Jun. Nenek itu menemukan Wang Jun 15 tahun yang lalu di bawah jurang dengan keadaan yang sudah cukup mengenaskan. Nenek itu mulai merawat Wang Jun dengan beberapa pengobatan tradisional dan mulai mengadopsi Wang Jun sebagai putranya.
Meskipun hanya sebatas anak angkat, namun sang nenek begitu menyayanginya, begitu juga dengan Wang Jun yang juga selalu menyayangi nenek itu seperti ibunya sendiri.
Namun, naas. Saat dalam berjalanan pulang ke rumahnya, seorang pengendara mobil yang kebetulan melewati desa itu tiba-tiba saja tak sengaja menyerempet Wang Jun dan mengakibatkan tubuh Wang Jun sedikit terhempas dan kepalanya menghantam jalanan beraspal dengan cukup keras.
Wang Jun segera dilarikan ke rumah sakit oleh sang penabrak karena mengalami pendarahan yang cukup serius pada bagian kepalanya, sementara sang nenek sudah cukup tua untuk merawat dan mengobati Wang Jun.
"Jun ..." ucap nenek itu begitu lirih dan memilukan saat melihat kondisi Wang Jun yang terbaring dengan lemah dan sangat pucat di atas brankar dan masih belum sadarkan diri. "Bangunlah putraku ... bukankah kamu berjanji akan mengajak ibumu ini untuk melihat kota jika uang kita sudah terkumpul?" nenek itu meraih jemari Wang Jun dan menangis sesegukan.
Wajah, tangan dan anggota tubuh lainnya sudah begitu dipenuhi dengan guratan-guratan nyata, menandakan jika umurnya sudah begitu tua.
"Jun ... bangunlah. Ibu tidak mau hidup sendirian lagi." isak tangis masih memenuhi ruangan ICU itu.
Nenek itu merasa begitu sesak saat melihat Wang Jun yang terbaring lemah dengan beberapa selang dan perban yang melilit beberapa anggota tubuhnya, terutama bagian kepalanya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Ayah ... jangan pulang terlambat. Dan mari bermain bersama-sama lagi setelah ayah dan ibu pulang ..." seorang anak berusia 5 tahun yang memiliki perawakan yang cukup gemuk dan memiliki sepasang mata kebiruan tersenyum lebar dan menarik-narik tangan pria itu.
"Baiklah, Zen. Ayah dan ibu akan segera pulang setelah pekerjaan selesai. Jangan nakal di rumah ya, Sayang. Jangan nakal saat bersama dengan kakek Li Feng." pria dewasa yang memiliki sepasang mata kebiruan itu mengusap lembut kepala anak berusia 5 tahun yang bernama Zen itu.
"Hhm. Iya, Ayah. Aku tidak akan nakal dan aku akan selalu menurut." ucap anak laki-laki itu dengan nada bicara yang begitu menggemaskan.
Beberapa saat seorang wanita yang berusia kira-kira 27 tahun mulai melenggang mendekati mereka berdua. Namun sepasang matanya masih terlihat sedikit sembab dan bengkak seperti sudah menangis semalaman.
"Ibu, jangan bersedih dan menangis lagi. Setelah ibu pulang, aku akan memberikan gambar buatanku untuk ibu, namun aku harus menyelesaikannya dulu saat ini." ucap anak laki-laki itu menatap sang ibu dengan senyum lebar.
"Hhm, iya ..." sahut wanita itu sambil mengecup kening anak laki-laki itu.
Namun saat mobil mereka melewati sebuah tebing curam, di sebuah tikungan yang cukup tajam, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan melebihi batas bahkan pengemudi itu sangat ugal-ugalan saat mengemudikannya.
Sebuah hantaman yang cukup keras akhirnya terjadi. Mobil itu menabrak mobil yang dinaiki oleh kedua orang tua anak laki-laki bernama Zen itu hingga mobil itu terjatuh ke dalam jurang.
CKKITT ...
BRRAKKK ...
SRRTT ...
"Li Zhi!!" wanita yang lak tak lain adalah istri dari pria itu berteriak histeris sebelum tubuhnya terhempas keluar dari mobil ketika tak sengaja pintu samping kemudi terbuka begitu saja.
__ADS_1
Sementara pria bernama Li Zhi itu terjatuh ke dasar jurang yang begitu curam bersama mobil mewah yang seketika menjadi rongsokan itu. Tak lama kemudian sebuah ledakan hebat terjadi. Mobil itu terbakar begitu saja.
.
.
.
.
.
Tubuh sorang pria yang masih terbaring di atas brankar bergetar hebat hingga akhirnya pria yang selama 15 tahun ini hidup dengan menggunakan identitas sebagai Wang Jun mulai membuka matanya. Sepasang mata kebiruan itu perlahan mulai terbuka begitu saja.
Nafasnya begitu tak teratur dan naik turun begitu saja atas sebuah mimpi yang baru saja dialaminya itu. Mimpi yang seakan begitu nyata!
"Li Zhi? Apakah itu nama asliku? Lalu anak bernama Zen itu ... apakah putraku? Gadis itu ... apakah dia istriku? Kecelakaan itu ... akh ... kepalaku pusing sekali ..." gumam Wang Jun mulai memegangi keningnya karena tiba-tiba saja kepalanya menjadi sangat pusing karena sebuah memori yang tiba-tiba saja terlintas begitu saja.
CEKLEKK ...
Pintu kamar rawat itu tiba-tiba saja terbuka dengan begitu terburu. Rupanya yang datang adalah seorang nenek bersama dengan seorang dokter.
"Wang Jun ... kamu sudah sadar putraku?" ucap nenek-nenek itu terlihat begitu berbinar saat melihat Wang Jun sudah terduduk, namun masih memegangi kepalanya yang dirasakan cukup pusing.
"Iya, Ibu. Tapi kepalaku sakit sekali ..." ucap Wang Jun yang masih terlihat begitu pucat.
"Dokter. Tolong putraku Wang Jun! Aku mohon, Dokter! Jangan sampai putraku kenapa-kenapa, Dokter." ucap nenek itu penuh harap dan berharap sang dokter akan dengan baik bisa menangani Wang Jun dan menyembukannya kembali.
"Baik, Nyonya. Silakan menunggu di luar sebentar. Saya akan melakukan pemeriksaan sebentar." ucap dokter itu dengan ramah.
__ADS_1
Nenek itu hanya mengangguk pelan dengan raut wajahnya yang terlihat begitu khawatir. Dan dengan terpaksa nenek itu mulai meninggalkan ruangan ICU dan menunggu di luar ruangan.
Sementara sang dokter mulai mendekati Wang Jun dan segera melakukan beberapa pemeriksaan.