
Sinar mentari mulai menyeruak dengan hangat dan memasuki melalui celah-celah kecil rumah tua itu. Udara pagi juga masih terasa begitu sejuk dan menenangkan hati.
Kak Kai mulai membuka matanya dan mendapati Zen sudah tidak ada di tempat tidur. Dengan cepat kak Kai segera duduk dengan tegap dan mulai mencari sosok Zen di seluruh ruangan karena begitu khawatir.
Kak Kai menyisiri ruangan demi ruangan dan menemukan Zen sedang terduduk di halaman samping rumah. Kak Kai menghembuskan napas lega dan mulai melenggang untuk menghampiri Zen dan duduk di sebelah Zen.
Zen terlihat begitu murung dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya sangat berbeda dari biasanya yang selalu ceria dan berseri. Kini dia terlihat begitu redup ibarat lampu.
"Zen. Kamu sudah sadar rupanya. Mengapa tidak membangunkan kakak? Bagaimana kondisimu saat ini?"
"Hhm. Aku baik-baik saja. Dan aku tidak mau membangunkan kakak." jawab Zen dengan pelan dan masih terlihat begitu murung dan tidak bersemangat.
Bagaimana tidak? Sebenarnya saat ini Zen sangat kesal dan marah kepada dirinya sendiri yang begitu teledor dan lemah. Seharusnya dia tidak lengah dan tidak memberikan celah sekecil apapun kepada para berandalan itu untuk menyerangnya.
Namun pada kenyataannya, seorang Kagami Jiro hampir saja terbunuh untuk yang kedua kalinya karena kurang waspada. Dan ini sungguh membuatnya merasa bahwa dirinya sangat payah dan lemah.
"Syukurlah ... kakak sangat khawatir sekali. Kakak begitu khawatir kalau sampai kamu tidak akan bangun kembali. Karena racun itu sangat mematikan." ucap kak Kai sambil menatap burung-burung yang mulai berterbangan di langit yang begitu cerah.
"Hhm." jawab Zen begitu singkat dan masih terlihat begitu murung.
"Untuk sementara waktu, kakak akan meliburkan jadwal kerjamu dulu. Dan kau harus fokus untuk kesembuhan dan pemulihan terlebih dahulu." ucap kak Kai pelan. "Maaf ... kakak tidak bisa melindungimu malam itu, Zen ..."
"Itu bukan salah kakak. Aku yang salah karena aku sudah lengah begitu saja." Zen menyauti dengan senyum tipis.
"Tidak ... tidak! Seharusnya kakak dan para pengawal harus selalu menjaga dan melindungimu!" ucap kak Kai juga kekeh.
"Hhm. Sudahlah! Yang terpenting aku sudah terselamatkan bukan. Dan aku akan membuat perhitungan kepada orang-orang itu! Jika perlu aku sendiri yang akan turun tangan untuk mengirimnya ke neraka!" geram Kagami Jiro yang mulai menampakkan sifat aslinya.
Beraninya dia menyerangku saat aku lengah dan tidak siap! Aku akan benar-benar membunuhmu!
Batin Zen yang mulai terbakar kembali.
"Tapi mereka tidak menemukan petunjuk melalui rekaman CCTV di club malam saat itu. Hhm ... ini sungguh sangat aneh." gumam kak Kai sedikit mengkerutkan keningnya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Tenang saja! Aku akan segera menemukan mereka!" ucap Zen dengan penuh keyakinan. "Apa gadis itu masih belum sadar juga?"
__ADS_1
"Belum ... semalam dia demam setelah menyelamatkanmu. Dan badannya tiba-tiba saja melemah."
"Kasihan sekali ... seluruh energinya mungkin terkuras saat sedang berusaha untuk menyelamatkanku." gumam Zen pelan.
"Hhm ... benar. Zen ..."
"Hhm ..."
"Sebenarnya kau ada hubungan apa dengan nyonya Yuna?" selidik kak Kai tiba-tiba.
Zen yang mendengar pertanyaan kak Kai itu tiba-tiba saja menjadi terdiam dan sesedikit kebingungan.
Apa aku mengigau tentang Yuna saat aku tak sadarkan diri? Ah ... gawat kalau sampai Kai curiga. Semoga saja bukan suatu hal yang aneh ...
Batin Zen yang terlihat begitu kebingungan.
"Zen ... apa kau mendengarku?" ucap kak Kai sambil melambaikan tangan di depan wajah Zen, karena tiba-tiba saja Zen terdiam dan melamun.
"Ahh ... iya ... tentu saja aku mendengarnya kok." ucap Zen meringis. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nyonya Yuna. Aku hanya mengagumi saja karena dia istrinya tuan Kagami Jiro yang begitu legendaris. Memang ada apa, Kak?" kicau Zen berpura-pura polos.
"Ahahaha ... mungkin kakak salah dengar saja. Mana mungkin aku sampai mengigau dan memimpikan istri orang? Terlebih istri seorang pemimpin Doragonshadou yang begitu menyeramkan. Bisa-bisa aku dibunuhnya, Kak!" ucap Zen dengan tawa kecilnya.
"Kau benar. Baiklah. Ayo kita masuk dan melihat nona Xia Feii ..."
"Baiklah ..."
Zen dan kak Kai mulai melenggang memasuki rumah bergaya kuno itu lagi dan mulai memasuki sebuah kamar yang terletak di paling ujung. Terlihat seorang gadis yang masih cukup muda sedang terbaring di atas pembaringan.
Setelah beberapa saat, gadis itu mulai membuka matanya perlahan. Terlihat manik-manik kehijauan itu yang sedikit sayu.
"Kalian ..." ucap gadis pemilik sepasang mata bak zambrud itu mulai berusaha untuk duduk.
Zen berinisiatif untuk segera mendekatinya dan membantunya untuk duduk.
"Terima kasih ..." ucap gadis itu tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih. Aku yang lebih banyak berhutang kepadamu." Zen menyauti lalu duduk di sebuah kursi.
"Tidak ... itu tidak benar. Aku juga sangat berhutang padamu. Karena malam itu kau menyelamatkanku dari para preman."
"Malam itu?" ucap Zen tak mengerti. Sepasang alis tampannya saling berkerut berdekatan.
"Hhm." Xia Feii mengangguk pelan. "Malam itu di gang kecil di dekat Beijing United Family Hospital, kau datang dan menyelamatkanku dari preman itu. Terima kasih ..."
Zen terdiam beberapa saat dan berusaha untuk mengingat sesuatu.
"Ah ... oh iya. Aku ingat!"
"Bukankah saat itu kau sedang di rawat di Beijing United Family Hospital, Zen?" tanya kak Kai tak mengerti.
"Ahahaha ... aku hanya turun untuk membeli sesuatu, Kak. Dan tidak sengaja aku bertemu dengan nona Xia Feii yang sedang dalam keadaan bahaya di bawah tekanan seorang preman. Jadi aku berusaha untuk menolongnya." kicau Zen berusaha untuk membela diri.
Meskipun kak Kai terlihat sedikit kesal karena ulah Zen di masa lalu, namun semua itu bisa langsung mereda begitu saja setelah dia melihat tawa Zen kembali. Karena sebenarnya kak Kai sangat ketakutan dan begitu khawatir jika Zen memang benar-benar tak bisa kembali lagi.
"Lain kali kamu tidak diijinkan untuk bepergian tanpa pengawal, Zen. Lihatlah ... kejadian tadi malam hampir saja merenggut nyawamu. Padalah semua pengawal ada, bahkan kakak juga ada di hadapanmu saja kau masih dalam bahaya seperti itu." sungut kak Kai.
"Hhm. Sebenarnya itu karena mereka yang sengaja menyerangku dalam keadaan aku tak siaga. Dan aku juga sedang lengah. Coba saja dia berani menyerangku dengan gentle, aku sangat yakin ini semua tidak akan terjadi." Zen mendengus dan terlihat begitu kesal.
Xia Feii malah tertawa kecil setelah mendengar celoteh dari Zen karena dianggapnya begitu lucu dan menggemaskan. Bayangkan saja seorang pria cantik seperti Zen sedang berkicau ria, pasti akan sangat menggemaskan bukan?
Beberapa saat, Vann mulai memasuki kamar dan membawakan 2 mangkok bubur yang masih begitu hangat.
"Kau yang memasak ini, Vann?" tanya Zen yang terlihat begitu tergoda melihat bubur dalam mangkok keemasan itu.
"Iya, Tuan Zen. Bubur ini dimasak menggunakan resep spesial dan sudah turun temurun dari keluarga Mu." jawab Vann. Atau lebih tepatnya Mu Vann.
"Wah. Kau sungguh keren! Istrimu pasti akan sangat mencintaimu kelak ..." cerocos Zen lalu menerima bubur dari Vann dengan begitu bersemangat. "Seorang istri pasti akan sangat bahagia jika suaminya pintar memasak. Apalagi jika kau memasaknya dengan sepenuh hati. Pasti akan benar-benar membuatnya jatuh hati ..."
Ucapan panjang lebar Zen seketika membuat kak Kai, Vann dan Xia Feii terdiam mematung karena kebingungan.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1