
"Kalian jangan sekali-kali berani bermain-main dengan menggunakan nama Doragonshadou! Atau lain kali bukan hanya akan patah tulang! Tapi mereka juga akan mengirimmu ke neraka!"timpal Zen dengan garang. "Apa kau paham?!"
"I-iya ... paham. Maafkan kita ..." preman yang tadi mengaku sebagai Kagami Jiro kini melempem seketika.
"Sekarang enyahlah kalian dari hadapanku!" perintah Zen dan mulai berdiri dan merapikan pakaian formalnya kembali.
"Ba-Baik ..." dengan tertatih-tatih ketiga preman itu segera meninggalkan tempat itu.
"Ini punya paman!" Zen menyodorkan beberapa lembar uang itu kepada seorang pria tua.
"Terima kasih, Nak." sahut pria tua itu dan terlihat begitu bahagia karena uangnya telah kembali.
"Oh ya ..." Zen merogoh dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar lagi uang lagi dan menarik tangan pria tua itu dan memaksanya untuk menerima uang itu. "Ini ada sedikit uang untuk tambahan berobat anaknya. Tolong diterima!" imbuh Zen dengan sopan.
"Tidak usah, Nak! Sudah menolongku saja aku sudah sangat bersyukur ..." pria tua itu menolak dengan sopan.
"Terima saja, Paman!" ucap Zen dengan senyum tulus. "Sekarang bergegaslah antar anakmu untuk berobat!"
"Ba-baik. Terima kasih! Masih muda saja sudah berhati baik dan sangat dewasa. Andai semua pemuda sepertimu ..." ucap pria itu dengan kagum.
Zen hanya tertawa kecil mendengar perkataan pria tua itu, "Ya sudah. Istriku sudah menunggu. Aku harus segera pergi. Permisi, Paman!"
Kini Zen berbalik dan mulai melenggang meninggalkan pria tua itu. Langkah kakinya begitu lebar dan dia berjalan dengan sangat gagah.
"Istri? Anak jaman sekarang mengapa selalu terburu-buru untuk menikah? Apakah mereka sudah tidak bisa lagi menahannya ..." gumam pria tua itu tersenyum samar dan menggelengkan kepalanya.
Sementara itu di dalam mobil ...
Yuna terus mengawasi Zen dari dalam mobil tanpa melewatkan sedetikpun untuk melewatkan sesuatu yang telah terjadi.
Dia anak yang baik! Dan cukup kuat! Hampir tidak terlihat kemapuan bertarungnya jika hanya melihat dari parasnya saja. Namun ternyata keahlian bertarungnya sungguh luar biasa. Bahkan pengawal Kagami saja bisa dia tangani dengan cukup mudah dan cepat. Aku sangat yakin, jika pemuda bernama Li Zeyan adalah bukan pemuda biasa!
Batin Yuna yang terus mengamati Zen hingga akhirnya Zen mulai memasuki mobil.
__ADS_1
"Maaf sudah menunggu cukup lama." ucap Zen dengan datar dan mulai memakai sabuk pengamannya kembali.
Dan dengan cepat Zen segera mengemudikan mobil itu lagi. Ternyata 3 mobil yang sedang dikendarai oleh kak Kai, pengawal Zen dan pengawal Kagami sedari tadi juga berhenti tak jauh dari mobil Yuna. Dan kini ketiga mobil itu kembali melaju mengikuti Mclaren FI LM-Spec Supercar silver itu.
"Li Zeyan ..." ucap Yuna memecah keheningan.
"Ya, Nyonya."
Yona mengambil sesuatu dari totebagnya. Sebuah bingkisan kecil yang sudah dia siapkan dari rumah. Dia membuka bingkisan itu dan seketika tercium aroma manis yang begitu menyeruak seisi mobil itu.
Yuna mulai menggigit cake berwarna kemerahan dengan wipe cream putih yang lembut.
"Kau mau?" Yuna menawari dan sedikit melirik Zen yang masih fokus mengemudikan mobil itu.
"Maaf. Tapi aku tidak suka makanan manis." jawab Zen dengan santai dan tak menyadari jika ternyata Yuna sedang mengetesnya kembali.
"Mengapa? Apa kau ada alergi atau ..." tanya Yuna ingin tau.
"Sejak kecil aku sudah tidak menyukainya."
Batin Yuna yang mulai kebingungan lagi.
"Li Zeyan! Apa kau pernah memiliki keluarga di Jepang?"
"Tidak. Semua keluarga besar Li adalah tinggal di China. Bahkan aku hanya seorang anak tunggal. Cucu satu-satunya dari Li Feng. Dan orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil." jelas Zen tanpa curiga.
"Jadi kau hanya tinggal bersama kakekmu saja?"
"Benar sekali."
"Tidak punya kerabat lainnya lagi?"
"Ada. Saudara kakek Feng beserta anak cucunya juga tinggal di Beijing."
__ADS_1
"Di China semua ya? Hhm ..." Yuna mengkerutkan keningnya, tangan kirinya dilipat dibawah dadanya. Sementara tangannnya mengenggam dan menutupi mulutnya dengan punggung telapak tangannya.
"Iya. Keluarga Li hanya tinggal di China, Nyonya."
Yuna hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia paham.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di ke Tokyo St. Luke's International Hospital. Sebuah rumah sakit elite dan sangat mewah di Tokyo. Zen segera memarkir mobil dan bersiap untuk turun.
Menyusul juga ketiga mobil lainnya yang sedang melakukan parkir lalu mereka segera menyusul Yuna dan Zen yang sudah mulai memasuki rumah sakit.
Meskipun Zen masih lengkap memakai masker untuk sedikit penyamaran, namun tentu saja masih banyak dari mereka yang sering melirik Zen dan Yuna yang begitu bersinar. Yeap, mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Yuna terlihat sangat stylish dan elegant dengan pakaian, tas, sepatu dan aksesoris-aksesoris lainnya yang tentunya bukan kaleng-kaleng. Semua adalah barang-barang branded yang tentunya sangat mewah dan limited edition. Rambutnya yang panjang dibiarkannya tergerai begitu saja, menari-nari tertiup angin pagi. Menjadikannya cantik luar biasa.
Begitu pula Zen. Dengan postur badan dan tinggi badan seperti Zen, ditambah dengan balutan setelan jaz high class menjadikannya terlihat begitu menawan dan berkharisma. Apalagi jika melihat sepasang mata bak kristal okavango blue diamond itu. Sangat menawan dan begitu menghipnotis kaum wanita. Perfect!
...⚜⚜⚜...
Ruang Perawatan VIP 3-3
Yuna membuka pintu kamar itu dan segera memasuki ruangan itu dengan hati-hati. Zen masih dengan setia mengikuti di belakannya.
Ritme dari higheels Yuna kini menurun ketika perlahan dia mendekati brankar suaminya. Tiba-tiba dia menghentikkan langkahnya dan memberi kesempatan untuk Zen terlebih dahulu. Namun Zen malah menghentikkan langkahnya dan berdiri tepat di samping Yuna.
Keduanya menatap nanar tubuh yang sedang terbaring lemah itu. Entah kapan tubuh itu akan segera terbangun.
Yuna ... mungkin raga yang sedang terbaring itu adalah suamimu. Namun kenyataaanya, jiwa pria yang sedang berdiri disisimu ini adalah Kagami Jiro yang sebenarnya.
Batin Zen dengan raut wajah yang begitu sedih dan sedikit melirik Yuna. Sementara Yuna masih dengan pandangan lurus menatap tubuh suaminya.
"Ada sekitar 20 tusukan pada tubuh tuan Kagami Jiro! Kemungkinan pelaku adalah orang yang memang benar-benar sudah mahir dalam hal itu. Karena tingkat keberhasilan terlihat dan dia berhasil melukai salah satu organ dalam tuan Kagami Jiro." ucap Zen dengan cukup serius namun tenang. Pandangannya kini sudah beralih menatap tubuh Kagami Jiro. Kedua tangannya masih dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Iya. Namun sampai sekarang belum ditemukan pelaku penyerangan itu." ucap Yuna begitu putus asa. "Tidak ada bukti yang tersisa. Bahkan semua kamera CCTV di tempat kejadian sedang offline saat itu."
__ADS_1
"Tenang saja, Nyonya. Pelaku akan segera ditemukan! Dia akan mendapatkan sebuah hukuman yang setimpal!" ucap Zen dengan sangat pelan namun tegas. Kedua tangannya dikepalkannya.