
Di sepanjang perjalanan kak Kai hanya terdiam seribu bahasa. Sorot matanya terlihat begitu tajam dibalik kacamata beningnya dan menatap jalanan lurus di depan. Namun dia melajukan mobilnya dengan cukup kencang.
Amee juga terdiam dan tidak berani membuka percakapan untuk memecah keheningan saat itu. Sehingga sepanjang perjalanan, mereka hanya berteman dengan hening.
Akhirnya mobil itu sampai di depan sebuah appartement dan kak Kai sedikit menepi dari jalan.
"Pulang dan istirahatlah! Kakak akan segera pulang." ucap kak Kai pelan namun terdengar begitu dingin tanpa menatap Amee sama sekali.
"Kak ... aku ... maafkan aku ... aku ..."
"Sudahlah, Amee. Kita bicarakan besok saja. Ini sudah larut. Pulang dan istirahatlah." sela kak Kai yang masih menatap jalanan lurus di hadapannya masih dengan ekspresi yang sama.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Amee segera keluar dari mobil merah menyala itu. Wajahnya terlihat begitu murung dan sangat pucat. Perlahan dia mulai melenggang meninggalkan mobil kak Kai. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung dan terjatuh begitu saja.
BBRRUUGGHH ...
Kak Kai yang mendengar dan melihat Amee yang terjatuh segera turun dari mobilnya. Dia bergegas untuk menghampiri Amee.
"Amee ... kau baik-baik saja?" ucap kak Kai yang sudah meraih tubuh itu. "Kau sangat pucat, dan badanmu sangat panas." imbuh kak Kai yang terlihat begitu khawatir.
"Aku ... baik-baik saja, Kak ..." sahut Amee dengan begitu pelan, bahkan suaranya hampir saja tidak terdengar. Setelah mengucapkannya sepasang mata Amee terpejam begitu saja.
"Amee!" dengan cepat kak Kai segera membawa Amee ke appartementnya. Tak lupa dia juga menghubungi dokter pribadinya untuk segera datang memeriksa Amee.
Sambil menunggu sang dokter datang, kak Kai mulai mengompres Amee dengan air hangat. Dia melakukannya dengan sangat telaten. Namun Amee masih belum membuka matanya, seluruh tubuhnya masih terasa begitu panas. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang mengalami mimpi buruk. Keningnya berkerut dan kadang sedikit menggigil.
"Amee. Bertahanlah ... dokter akan segera datang." ucap kak Kai sambil mengompres kening Amee dengan menggunakan sebuah handuk kecil.
Setelah beberapa saat akhirnya bel berbunyi, kak Kai segera membukakan pintu dan ternyata dokter pribadinya, Zhong Li sudah datang. Dokter yang juga merupakan teman dekat kak Kai.
Dengan cepat dokter Zhong Li segera memeriksa kondisi Amee. Dan segera memberikan penanganan. Sementara kak Kai terlihat berjalan mondar-mandir di dekat mereka. Raut wajahnya juga terlihat begitu khawatir.
Setelah beberapa saat akhirnya dokter Zhong Li menyudahi pengobatannya.
"Bagaimana keadaan Amee, Zhong Li?" todong kak Kai setelah dokter Zhong Li menyelesaikan pemeriksaan dan tindakannya.
"Hanya kelelahan saja. Sudah aku berikan obat penurun demam. Sebentar lagi juga akan segera turun kok demamnya. Biarkan dia beristirahat dulu." jawab dokter Zhong Li dengan ramah.
"Hhm. Baiklah. Terima kasih." sahut kak Kai datar.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, Kai. Ini adalah tugasku." sahut dokter Zhong Li dengan ramah. "Bagaimana kabarmu? Lama kau tidak memanggilku?"
"Yah beginilah. Ragaku sangat sehat, namun hati dan otakku yang sedikit lelah. Apa kau bisa menanganinya, Zhong Li?" canda kak Kai menggoda teman sekolahnya itu.
"Ahahaha ... bukankah sudah ada Amee? Seharusnya dia mengobati segala lelahmu. Benar begitu?" dokter Zhong Li sedikit mengernyitkan kening menatap kak Kai.
Kak Kai tersenyum samar dan terlihat sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk sahabatnya itu, "Hhm. Seharusnya memang begitu. Amee sangat baik. Sepertinya masalahnya ada pada diriku."
"Sudahlah. Lebih baik kau mengiklaskannya saja! Dan memulai kehidupan yang baru ..."
Kak Kai kini menatap serius dokter Zhong Li, "Tidak bisa. Tidak bisa semudah itu ... meskipun aku sedang dilema luar biasa, tapi aku tidak boleh mengingkari janjiku."
"Ya sudah. Tapi aku sebagai sahabatmu sebenarnya hanya ingin melihat kamu bahagia."
"Terima kasih, Zhong Li."
"Hhm. Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Besok pagi ada dinas ke luar kota." ucap dokter Zhong Li dengan senyum ramah sambil menepuk bahu kak Kai.
"Hhm. Okay ..."
Dokter Zhong Li mulai melenggang dan meninggalkan appartement ini. Kini kak Kai mulai memasuki kamar Amee lagi, dia membenarkan selimut Amee.
Perlahan kak Kai mulai duduk di ranjang Amee. Raut wajahnya terlihat begitu murung menatap Amee saat ini.
Sebesar itu kah perasaanmu untuk Zen? Sampai-sampai kau bermimpi dan mengigau tentangnya? Amee ... maaf ... tapi aku harus melakukan semua ini! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri! Dan aku tetap akan pada jalanku! Maaf jika langkahku sangat membuatmu sedih dan begitu menderita. Tujuanku sebenarnya bukanlah kamu! Tapi tujuanku adalah Zen! Aku harus melakukan semua ini. Maaf jika harus melibatkanmu!
Batin kak Kai sambil mengelus pelan kepala Amee.
...⚜⚜⚜...
Zen mulai melepas pakaiannya dan menghempaskannya begitu saja di lantai. Kini dia terlihat begitu kesal.
"Setiap hari ada-ada saja lalat-lalat yang mengusikku! Dan parahnya lagi aku harus menahan diri! Sial! Sungguh tidak leluasa bergerak dengan tubuh ini!" sungutnya sambil menendang sebuah kotak sampah kecil dan akhirnya menabrak tembok.
BBRRAAKK ...
"Lebih baik aku mandi. Badanku bau wine karena ulah cecunguk itu!" gumamnya lalu melenggang ke kamar mandi.
Suara gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi. Dan setelah beberapa saat, Zen sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk baju.
__ADS_1
Setelah itu dia segera berganti dengan pakaian tidurnya yang berwarna putih. Nampaknya putih adalah menjadi salah satu warna favourite Zen semenjak jiwa seorang Kagami Jiro menjadikan raga Zen sebagai cangkang dari jiwanya.
Dia mulai meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah beberapa saat dia menempelkan ponsel itu pada telinganya.
"Hallo ..." sapaan seorang pria bersuara besar dan berat terdengar melalui line dari negeri seberang.
"Bagaimana? Sudah menemukan sesuatu?" tanya Zen to the point.
"Belum. Sabarlah sedikit, Wahai sahabatku!" sahutnya dengan kekehan.
"Haishh ... laporkan semua yang terjadi selama beberapa hari ini!" perintah Zen sambil menatap keindahan malam ini melalui balkonnya.
"Hhm ... tidak banyak yang terjadi. Namun tadi pagi tubuh aslimu hampir saja pergi untuk selamanya." jawab pria yang tak lain adalah Yukimura.
"Apa?!" tanya Zen setengah berteriak dan begitu terkejut. "Apa maksudmu?"
"Tiba-tiba saja signal-signal elektrokardiogram tidak stabil. Namun mereka berhasil menyelamatkanmu dengan alat pacu jantung."
"Ahhhh ... hampir saja aku kehilangan tubuhku!" keluh Zen sambil mengusap rambutnya ke belakang. "Lalu bagaimana keadaan tubuhku saat ini?"
"Masih belum sadar."
"Hhm. Baiklah." sahut Zen datar. "Yukimura, cari info juga mengenai Ley Bixing! Mengapa dia sampai berkhianat dan meninggalkan Doragonshadou?" imbuh Zen sambil mulai berjalan menuju kamarnya.
"Siap laksanakan!"
"Baik. Laporkan semua padaku yang terjadi mulai besok!"
"Hhm. Okay."
"Baiklah. Aku harus melakukan sesuatu! Besok aku akan menghubungimu kembali!" ucapnya sambil menghempaskan dirinya di atas ranjangnya.
"Baik."
Tut ... tut ... tut ...
"Harusnya aku memeriksa video itu. Tapi aku sangat mengantuk dan lelah. Hoamm ... Bocah, aku akan mengecek video itu lain kali. Tenang saja. Aku akan segera menemukan pelakunya." gumam Zen yang sudah semakin memejamkan matanya.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1