Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bertemu Rival


__ADS_3

"Amee ..." sapa Zen dengan seulas senyum.


Gadis yang dipanggil Amee itu kini menoleh pelan dan menatap Zen. Terlihat dengan sangat jelas jika dia sangat terkejut mengetahui Zen juga sedang berada di sini. Karena dia fikir Zen sedang melakukan shooting ataupun kesibukan lainnya, karena kak Kai tidak mengatakan akan menghadiri pesta ulang tahun An Jiu malam ini.


"Zen ..." ucap Amee yang masih sedikit terkejut.


"Aku tidak tau kalau kamu juga akan menghadiri pesta ulang tahun ini. Mengapa tidak berangkat bersama kak Kai?"


"Uhm. Aku diundang mendadak oleh An Jiu. Dan aku juga tidak tau kalau kak Kai dan kamu juga akan menghadiri pesta ini." jawab Amee masih sedikit kikuk.


"Oh ... ternyata begitu ya." jawab Zen sambil meneguk kembali minumannya dan menatap lurus ke depan.


Mengapa tiba-tiba terasa begitu aneh. Siapa sebenarnya gadis ini bagi Zen? Mengapa setiap berada di dekat gadis ini raga ini selalu saja terasa sedikit berbeda. Ada sebuah getaran yang sangat kuat dan terasa berbeda. Apakah jangan-jangan mereka pernah memiliki sebuah ikatan? Ataukah ... bocah ini juga menyukai Amee? Kalau aku melihat Amee, sebenarnya aku juga paham. Jika Amee memang memendam rasa untuk bocah ini. Namun mengapa Amee malah berkencan dengan kak Kai? Sepertinya bertambah lagi tugasku untuk mengungkap kisah mereka. Haishh ... kisah cinta yang sangat rumit.


Batin Zen lalu melirik Amee dengan ekspresi begitu penasaran.


"Aku senang ... selama ini kamu hidup dengan baik, Zen." ucap Amee tiba-tiba dengan begitu lirih sambil memandang langit malam yang begitu gelap. "Selamat ya. Akhirnya kamu bisa berada di puncak. Kamu harus menjadi lebih kuat, agar tidak mudah terjatuh kembali." imbuh Amee dengan begitu pelan dan tersenyun begitu manis.


Namun tentu saja Jiro sangat mengetahui semua ini. Meskipun Amee mengucapkannya dengan tersenyum, sebenarnya gadis ini sedang sangat terluka. Kening Zen berkerut dan sepasang mata okavango blue diamondnya menatap lurus gadis yang sedang berdiri di sebelahnya itu.


"Amee ... apakah kamu baik-baik saja? Dan apakah kamu begitu yakin jika aku baik-baik saja?" ucap Zen dengan tenang.


Ucapan Zen kini membuat Amee membekukan senyumannya dalam sekejap. Namun dia masih menatap langit malam, kemudian perlahan dia memberanikan diri menatap Zen.


Amee tak bisa mengatakan sepatah kata apapun saat ini, namun tiba-tiba saja matanya sudah sedikit berair dan sudah menjadi seperti kristal.


"Maaf. Jika aku tidak sempat mengunjungimu saat itu ..." ucap Amee dengan lirih.


"Mengapa kau berbohong? Kau pasti sangat tersiksa selama ini?"

__ADS_1


"Zen ... aku ... aku ..."


"Aku sarankan padamu ... jangan pernah membohongi hati sendiri. Itu tidak akan pernah berhasil, dan tentu saja akan sangat menyiksamu."


Sepasang mata Amee terlihat sedikit bergetar dan semakin berkaca-kaca.


"Apa yang sedang kau bicarakan, Zen?" tanya Amee berkilah diiringi tawa kecil dan menyilangkan kedua tangannya di bawah dada.


"Jika mau melupakan, maka lakukanlah dengan sepenuh hati. Dan mulailah membuka lembaran barumu dengan sepenuh hati juga ... jangan melakukan sesuatu dengan setengah-tengah, Amee!"


Amee mulai memalingkan wajahnya dan berjalan beberapa langkah untuk mencapai pagar pembatas balkon.


"Baiklah, Zen. Aku akan melakukan semuanya dengan benar mulai sekarang." ucapnya dengan lirih.


Semoga dengan begini, kalian bertiga bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi.


Batin Zen dengan tersenyum hangat menatap sisi belakang Amee.


"Aku angkat telpon dulu." ucap Zen sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya lalu sedikit berjalan menjauh dari Amee.


Sementara Amee hanya bisa menatap punggung Zen yang berjalan semakin menjauh darinya.


Zen benar-benar terlihat sangat baik-baik saja. Syukurlah. Berarti kini aku harus berusaha lebih keras lagi untuk melupakannya.


Batin Amee yang masih menatap Zen dari kejauhan. Saat Amee berbalik dan hendak melenggang tiba-tiba saja dia menabrak seseorang. Secangkir orange juice yang sedang dia pegang kini tumpah mengenai pakaian pria itu.


"Maaf. Maaf. A-aku tidak sengaja." ucap Amee cepat-cepat dan merasa sangat tidak enak karena membuat pakaian pria itu kotor tersiram orange juice miliknya. "Lu Yuan?" ucap Amee setelah dia mendongak dan melihat pria yang ditabraknya tadi ternyata adalah Lu Yuan, seorang aktor dan model besar yang terkenal dingin dan merupakan rival terberat Zen. Jika Zen adalah idol nomor satu, maka Lu Yuan adalah idol terbaik kedua saat ini.


"Hai, cantik ..." ucap Lu Yuan yang terlihat sudah sedikit teler dan tersenyum lebar menatap Amee.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja." ucap Amee lagi.


"Tidak apa-apa. Mau menemaniku minum wine? Maka aku akan memaafkanmu." ucap Lu Yuan lagi sambil meraih tangan Amee.


"Tidak. Aku tidak mimum ..." elak Amee dengan ramah dan berusaha untuk melepas cengkeraman tangan Lu Yuan.


"Amee. Mengapa kamu selalu jual mahal padaku? Apa karena kini kau sudah punya kekasih? Atau karena kau masih mengasihani Zen? Gyahahaha ..." tiba-tiba saja Lu Yuan tertawa terbahak-bahak.


"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka!" ucap Amee sedikit tegas, namun tentu saja masih terdengar begitu lembut. "Tolong lepas! Ini sangat sakit ..." Amee kembali untuk melepaskan diri dari cengkeraman Lu Yuan yang begitu kuat.


"Tidak sebelum kau mau menemaniku menikmati wine." sahut Lu Yuan sambil meneguk segelas red wine yang sudah di genggamnya dari tadi.


"Lu Yuan. Jangan jangan seperti ini! Kalau tertangkap di weibo karirmu akan hancur."


"Tidak ada wartawan disini. Pesta ini sangat privasi dan tertutup oleh wartawan. Ayo kita minum bersama!" lagi-lagi Lu Yuan menarik paksa Amee.


Amee masih berusaha menahan diri agar tidak terseret oleh Lu Yuan, namun tentu saja kekuatan Lu Yuan lebih kuat dibanding Amee.


"Lepaskan!" ucap Amee yang sudah semakin risih oleh sikap Lu Yuan.


"Lepaskan dia, Bocah!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang.


Lu Yuan mulai menghentikkan langkah kakinya dan mulai berbalik untuk mencari tau siapa yang sudah berani menghentikkannya. Begitu juga dengan Amee yang mulai melengos untuk melihat pria itu.


"Li Zeyan ..." ucap Lu Yuan dengan seringai manis.


"Lepaskan dia dan jangan ganggu dia! Apa kau tidak tidak melihat Amee begitu tidak nyaman karena tingkahmu!" pangkas Zen dengan sorot mata yang tajam menatap Lu Yuan.


Lu Yuan tertawa terbahak-bahak dan mulai melepaskan Amee. Dia mulai berjalan sempoyongan mendekati Zen.

__ADS_1


"Dia hanya mengasihanimu. Apa kau tidak memahaminya, Zen?" ucap Lu Yuan dengan seringai manis. "Tapi malam ini kau sudah berani mengacaukan moodku! Aku akan sedikit memberimu tamparan agar tau diri!" imbuh Lu Yuan lalu menyiram sisa wine pada pakaian Zen.


__ADS_2