
"Tuan Zen, Tuan Kai sudah meninggalkan appartemennya. Namun dia belum meninggalkan Beijing. Kami sudah memastikan dan mengecek setiap bandara maupun pelabuhan dan tidak ada daftar namanya untuk keberangkatan tujuan manapun." laporan Yunxi melalui panggilannya dari seberang kepada Zen.
"Hmm. Cari lagi kak Kai di sekitar distrik Hongshan, Wuhan!" perintah Zen dengan begitu tegas dan terduduk di kursi sofanya.
"Distrik Hongshan, Wuhan?" ucap Yunxi mengulangi ucapan dari Zen, dan sebenarnya ada sebuah pertanyaan dalam dirinya. Mengapa tuannya begitu yakin jika kak Kai sedang berada di distrik Hongshan, Wuhan? Dan darimana Zen bisa mengetahui keberadaan kak Kai?
"Hhm. Ajak juga yang lainnya untuk memeriksa daerah disana. Aku akan segera menyusul." perintah Zen lagi.
Zen mengakhiri panggilan itu dan sepasang mata kebiruannya masih menatap miny computer di hadapannya yang menampilkan sebuah gambar dengan titik-titik tertentu, dan ada sebuah titik merah yang berkedip-kedip disana dan berlokasi di daerah distrik Hongshan, Wuhan. Dan sepertinya Zen sudah mengantisipasi dan memasang alat pelacak pada ponsel kak Kai. Bravo!
Zen yang sudah di dalam mobil Ferrary merah menyala yang ditinggalkan oleh kak Kai begitu saja, kini mulai memasukkan kunci dan memutarnya untuk menghidupkan mesin dari mobil itu dan segera mengemudikannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
BRRUMM ...
Ferrary merah menyala itu mulai melaju dan membelah jalanan kota dengan tujuan distrik Hongshan, Wuhan. Di sepanjang perjalanan, mini computer itu dibiarkan terbuka begitu saja oleh Zen. Sesekali Zen terlihat mengawasi layar dari miny computer itu untuk memantau pergerakan kak Kai.
Namun selama di perjalanan, titik itu tidak banyak bergerak dan sebenarnya malah berada di satu tempat.
"Mungkinkah Luo Kai sedang beristirahat di tempat itu?" guman Zen pelan dan masih fokus mengemudikan Ferrary merah menyala itu. "Hhm, bisa saja. Lagipula langit sudah mulai menjadi gelap. Di senja seperti ini mau pergi kemana lagi bocah berkacamata ini?! Pasti bocah itu sedang beristirahat disana, karena kondisi badannya juga belum sepenuhnya pulih."
Tiba-tiba terdengar ritme indah yang berasal dari ponsel Zen. Dengan cepat Zen segera mengangkat panggilan itu dan sedikit membenarkan earpiece yang sudah terpasang di kedua telinganya.
"Hallo ..." sapa Zen tanpa mengurangi tingkat konsentrasinya dalam mengemudi.
__ADS_1
"Tuan Zen, kami sedang mengalami macet ketika dalam perjalanan ke distrik Hongshan, Wuhan. Dan ini malah ban kami tiba-tiba pecah begitu saja. Jadi kami akan sedikit terlambat untuk segera sampai kesana, Tuan." jelas Vann dari seberang.
"Okay. Tidak masalah. Kalian ganti dulu ban itu dan lanjutkan perjalanan. Aku akan berangkat duluan."
"Baik, Tuan."
Zen segera mengakhiri panggilan itu dan menyimpan ponselnya kembali di dalam saku pakaiannya.
Setelah beberapa saat mengemudi, akhirnya Ferrrary itu mulai menepi di depan sebuah kontrakan 3 lantai yang tidak terlalu besar.
Zen mulai menghidupkan kembali miny computernya untuk melihat titik target. Dan memang titik kemerahan itu adalah di sebuah gedung kontrakan di hadapannya.
Zen mulai memakai maskernya dan juga topinya hitamnya. Kemudian dia mulai turun dari mobil merah menyala itu dan segera memasuki gedung kontrakan kecil itu.
"Permisi, Nyonya." sapa Zen dengan ramah lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galerinya. "Apakah ada penghuni baru di kontrakan ini? Dan apakah orang itu adalah ini?" Zen memperlihatkan sebuah foto kak Kai yang berapa di dalam galeri ponselnya.
Wanita paruh baya itu memperhatikan foto itu dengan seksama dan berusaha untuk mengingat sesuatu dan akhirnya dia mulai mengangguk beberapa kali.
"Ya. Anak muda itu baru saja datang tadi siang. Dia menempati kamar paling ujung di lantai 2. Kalau boleh tau kamu ada hubungan apa dengan anak muda yang tampan itu,Nak?" ucap wanita paruh baya itu mendongak menatap Zen dan mengkerutkan keningnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan halus itu.
"Aku adalah adik dari pemuda itu, Bibi. Terima kasih, kalau begitu aku akan menemui kakakku dulu." jawab Zen dengan begitu sopan dan ramah.
Yeap, beginilah Kagami Jiro. Dia akan selalu ramah jika berhadapan dengan orang tua. Rasa hormat dan patuh akan muncul dengan sendirinya.
__ADS_1
Zen mulai melenggang meninggalkan wanita paruh baya itu dan mulai menapaki tangga demi tangga hingga akhirnya dia sudah sampai di kamar lantai 2 paling pojok. Zen melihat ada sesuatu di tempat sampah di luar, ada sebuah sapu tangan di dalam tong sampah kecil itu.
Dan Zen begitu mengetahui siapa pemilik dari sapu tangan itu, sapu tangan itu adalah milik kak Kai. Dengan cepat Zen segera mengetuk pintu kamar itu.
Namun sudah lebih dari satu menit menunggu, pintu itu tak kunjung dibuka oleh sang pemilik kamar. Karena begitu kesal akhirnya Zen menendangnya dengan kaki kanannya dan seketika pintu itu terbuka begitu saja.
Zen mulai memasuki kamar itu dan mulai mengamatinya. Ada beberapa barang dari kak Kai, seperti pakaian, coat, syall, sepatu, bahkan Zen juga menemukan ponsel dari kak Kai lalu Zen memungutnya.
"Luo Kai!" Zen berteriak memanggil kak Kai dan mulai menyisiri kamar ini yang hanya memiliki 3 petak, yaitu kamar, dapur dan juga kamar mandi. Namun Zen tidak menemukan kak Kai di dalam kamar ini.
"Dimana bocah itu? Bahkan dia tidak membawa ponsel miliknya." gumam Zen yang terlihat sedang berpikir keras.
Zen mulai meraih mengutak-atik ponsel kak Kai dan berusaha untuk membuka paswordnya. Dan atas kecerdasan yang dimiliki oleh seorang Kagami Jiro, ponsel itu bisa terbuka dengan mudahnya. Entah bagaimana dia melakukannya, Author juga begitu kebingungan untuk menjelaskannya. Hehe ...
Zen mulai membuka beberapa aplikasi terakhir yang dibuka oleh kak Kai beberapa saat yang lalu, hingga akhirnya dia menemukan sebuah pesan yang berasal dari seseorang, yang membuat Zen yang sedang membacanya seketika berpikir keras.
Li Feng akan berakhir malam ini! Aku akan bersenang-senang sebelum benar-benar mengakhiri dan melenyapkannya. Jika kau masih peduli dengannya datanglah malam ini di gedung bekas perusahaan perhiasan yang sudah tak terpakai yang berlokasi di dekat stadion Fengtai, distrik Fengtai. Luo Yan.
"Luo Yan? Bukankah Luo Yan adalah nama salah satu dari ketiga berandalan yang menculik kak Kai malam itu? Dan nama marga mereka sama ... sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua?" gumam Zen terlihat sedany berpikir keras saat ini. "Sekarang aku harus segera menyusulnya, kakek Li Feng sedang dalam bahaya saat ini!"
BBUUAGGHH ...
Pukulan keras dan mengenai tengkuk Zen seketika membuatnya pingsan dan ambruk begitu saja. Terlihat dua pria mulai mengikat tangan dan tubuh Zen lalu membawanya turun dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil Van putih.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...