
Seorang gadis yang selalu berwajah tenang dan kalem terlihat sedang serius menatap sebuah laptop di hadapannya. Sesekali dia menggerakkan mouse dan menarikan jemari lentiknya yang indah di atas keybord yang menyala dengan lampu warna-warni itu.
Sesekali gadis itu menghentikkan aktifitasnya dan mulai menikmati secangkir matcha hangat untuk me-rilexkan kembali dirinya. Wajah ayu itu terlihat begitu lelah, bahkan mata panda itu juga mulai terlihat dengan samar saat gadis itu menghapus make up-nya.
"Ada beberapa dress dan pakaian yang sudah selesai dijahit. Setelah kembali ke Beijing harus segera melakukan pemotretan lagi dan untuk membuat katalog. Huft ... tapi bagaimana mengatakannya kepada kak Kai? Bahkan kak Kai juga akan segera ke Jepang. Hhm ... kali ini siapa yang akan menjadi model ya." gadis dengan rambut panjang kecoklatan itu malam ini juga mengikat rambutnya dengan gaya cepol.
Ditengah-tengah kebingungannya di heningnya malam yang begitu dingin ini, tiba-tiba ponselnya bergetar. Terlihat nama si pemanggil di layar ponsel berukuran 6 inchi itu,
Kak Kai
Gadis itu segera menggeser tombol hijau dan segera menempelkannya benda pipih itu pada telinganya.
"Hallo, Kak." sapa gadis itu dengan begitu ramah dan lembut.
"Amee, kamu belum tidur?" ucapan lembut dari kak Kai terdengar melalui speaker dari benda pipih itu.
"Belum, Kak. Aku sedang tidak bisa tidur. Kakak mengapa menelpon? Apa sedang tidak bisa tidur juga?"
"Hmm. Kakak ada di depan kamarmu."
Ucapan kak Kai membuat Amee sedikit terkejut dan segera duduk dengan tegap.
"Benarkah? Sebentar, Kak ..." Amee mulai turun dari sofa dan segera melenggang dengan langkah cepat untuk segera mencapai pintu dan membukakan pintu untuk kak Kai.
CEEKKLLEEKK ...
Terlihat seorang pria berkacamata dengan wajahnya yang selalu tenang mulai tersenyum begitu hangat. Saat ini dia mengenakan sebuah T-shirt berkerah berwarna putih, dan membalutnya dengan coat berwarna hitam.
__ADS_1
Meskipun di dalam sebuah ruangan, namun cuaca terasa begitu dingin saat ini. Setelah keduanya saling bertatapan dengan hangat beberapa saat, kini kak Kai mulai mengakhiri panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya.
"Silakan masuk, Kak. Akan aku buatkan sesuatu untuk menghangatkan kakak." ucap Amee dengan begitu ramah dan sedikit minggir untuk mempersilakan kak Kai untuk lebih dulu.
Kak Kai tersenyum hangat lalu mulai melenggang memasuki kamar Amee. Sebuah kamar yang berukuran standar dan bernuansa putih dengan pembaringan berukuran medium.
Dan benar saja seperti yang diucapkan oleh Zen beberapa saat yang lalu. Kak Kai melihat laptop di atas meja yang terbuka dan dalam keadaan masih menyala dan beberapa buku design juga masih berserakan di atas meja begitu saja.
Hal itu tentu saja membuat kak Kai merasa sedikit sesak dan ngilu. Kak Kai mulai berbalik dan menatap Amee kembali yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya.
"Amee ... jangan terlalu memaksakan diri dan selalu bekerja keras sendirian seperti ini." sepasang manik-manik indah dibalik sebuah kacamata bening itu terlihat begitu sayu menatap gadis di hadapannya itu.
"Ada kalanya kita harus berjuang, namun ada kalanya kita juga harus mengistirahatkan otak dan pikiran. Tidur dan istirahatlah, agar kamu tidak sakit. Kakak janji, besok kakak akan membantumu untuk menyelesaikan semuanya." ucap kak Kai begitu lembut dan tentu saja untaian kata-kata itu begitu membuat Amee merasa lebih tenang dan bahagia, hingga gadis cantik itu mengangguk pelan dan tersenyum begitu manis.
Amee segera melenggang mendatangi laptopnya kembali dan segera mematikannya lalu menutupnya. Beberapa buku desainnya juga mulai dirapikannya dan disusun menjadi satu.
"Tidak perlu, Amee. Kamu istirahat dan tidurlah. Besok kita akan menaiki kapal pesiar dan melakukan perjalanan selama 6 hari." ucap kak Kai yang membuat Amee begitu terkejut, karena sebelumnya tidak direncanakan untuk menaiki kapal pesiar. Bahkan sebenarnya besok mereka sudah harus kembali ke Beijing.
"Kemana, Kak? Bukankah besok kita akan kembali ke Beijing?" ucap Amee sedikit terkejut dan menatap kak Kai dengan kening berkerut.
"Tiba-tiba saja kakek Li Feng merubah schedule. Dan kakek juga sudah memesan sebuah kapal untuk kita. Hanya mengelilingi perairan China saja sih, karena pekan depan kita juga akan ke Jepang." kak Kai meraih kedua jemari Amee yang begitu hangat dan sedikit menunduk. "Pokoknya saat berlibur, kamu juga harus mengistirahatkan otak dan pikiran juga agar tidak stress. Okay?" senyuman hangat itu kembali menghiasi wajah kak Kai yang begitu sejuk dan meneduhkan.
Amee tersenyum dan mengangguk pelan, "Iya, Kak. Kakak juga ya ..."
"Hhm. Setelah kembali dari Jepang, kakak akan kembali mempersiapkan semua untuk pernikahan kita."
"Hhm. Iya, Kak." Amee tersenyum tersipu dan sedikit menunduk karena sebenarnya dia begitu berdebar jika membicarakan masalah pernikahan. Terlebih jika membicarakannya bersama kak Kai.
__ADS_1
Menyadari wajah Amee yang sudah sedikit merona, kak Kai tersenyum begitu gemas.
"Baiklah. Tidurlah ... kakak akan kembali bersama Zen dan segera tidur juga. Jangan lupa mengunci pintu ya."
Lagi-lagi Amee masih menunduk dan tak berani menatap wajah pria berkacamata itu, "Iya, Kak."
"Selamat malam ..."
CUUPP ...
Kak Kai mengecup kening Amee dengan begitu hangat dan lembut lalu segera melenggang pelan meninggalkan kamar Amee.
Derap langkah kakinya terdengar begitu tenang dan teratur, mengalun bersamaan dengan ritme teratur dari sebuah jam dinding di kamar itu. Sungguh tak sinkron dengan detak jantung kak Kai saat ini yang mungkin sudah seperti drum, hingga saat kak Kai sudah keluar dari kamar Amee, dia masih bersandar di dinding memejamkan matanya dan kembali mengatur napasnya.
"Kau sungguh memalukan sekali, Luo Kai! Hanya mengecup keningnya saja kau sudah setegang ini?!" gumam kak Kai begitu pelan dan memijat keningnya pelan.
Disaat kak Kai sudah melenggang beberapa langkah meninggalkan kamar Amee, tiba-tiba saja terdengar sesuatu dari arah belakangnya. Sesuatu yang terjatuh dengan begitu keras. Yeap, seperti seseorang yang terjatuh di atas lantai dengan cukup keras.
BRUUGGHH ...
Kak Kai segera berbalik untuk melihat apa yang sudah terjadi. Terlihat seorang gadis dengan balutan dress panjang hitam sudah terbaring si atas lantai begitu saja. Rambut kecoklatannya menutupi sebagian wajahnya, hingga wajahnya tak terlihat.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" kak Kai mencoba untuk mendekati gadis itu untuk menolongnya.
Namun tak ada jawaban dari gadis itu, bahkan gadis itu juga tak bergerak sama sekali.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" kini kak Kai mulai jongkok dan menyibak rambut gadis itu.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...