
Jadwal yang sungguh-sungguh sangat padat! Setelah menyelesaikan shooting di lokasi tertentu, kini Zen mulai mendatangi Wan Chai Unniversity. Yeap, karena selain sebagai seorang idol dan aktor besar, Zen juga adalah masih menjadi seorang mahasiswa.
Bisa dibayangkan betapa lelahnya raga dan juga otak Li Zeyan. Beraktifitas hampir 16 jam setiap harinya. Itupun jadwal kuliah sudah sangat diminimalisir karena menyesuaikan dengan jadwal shooting dan pemotretan ataupun konser.
Jalanan berliku dan terjal dilaluinya dengan sangat gigih, meskipun beberapa saat lalu Zen pernah merasa begitu terpuruk hingga mencoba dan berusaha untuk mengakhiri hidupnya sendiri saat itu.
Namun dengan kejadian itu, kini menjadikan Zen menjadi seorang pria yang lebih kuat dan tangguh. Dan tentu saja karena kejadian itu, sebuah pertukaran jiwa terjadi hingga akhirnya Zen bisa mengenal Christal.
Sungguh kisah yang sangat unik. Namun satu hal yang bisa kita ambil, setelah hujan turun maka akan ada pelangi indah yang menghiasinya. Begitu juga dengan kehidupan, selalu datang satu paket masalah beserta solusinya.
Hari ini tiba-tiba saja Zen mulai dipanggil oleh salah satu profesor di ruangannya. Entah ada kesalahan apa? Namun sepertinya Zen sama sekali tidak membuat kesalahan apapun.
Zen mulai mengetuk pintu dan mulai memasuki ruangan profesor Loid itu setelah sang pemilik ruangan mulai mempersilakan dia masuk.
"Duduklah, Li Zeyan!" titah sang profesor Loid sambil membenarkan letak kacamatanya.
Seperti biasa, semua orang pasti sudah bisa membayangkan seseorang yang mendapatkan gelar profesor pasti akan memiliki rambut yang sedikit botak di kepala bagian depan. Namun tidak untuk profesor Loid, pria lulusan Harvard ini masih cukup muda dan malah tampan. Rambutnya masih utuh dan begitu sehat.
"Ya, Profesor." ucap Zen lalu mulai duduk di hadapan profesor tampan itu.
"Begini, aku ingin menyampaikan sesuatu dan sedikit bertanya padamu." ucap profesor Loid menautkan kedua jemarinya dan menatap Zen dengan tegas. Dan seperti ada yang sedang dipikirkan dan dibatin oleh profesor Loid saat ini.
"Ya, Profesor? Kalau boleh tau ini soal apa ya?" tanya Zen yang sebenarnya mulai penasaran.
__ADS_1
Karena ini adalah pertama kalinya Zen dipanggil oleh seorang profesor setelah 4 bulan tak pernah masuk kuliah.
Apakah selama ini tuan Kagami Jiro kuliah dengan baik saat memakai ragaku? Apakah jangan-jangan dia sudah bertindak kasar dan memukul seorang mahasiswa saat di kampus?
Batin Zen mulai menerka-nerka.
"Nilai kuliahmu meningkat pesat selama 4 bulan. Namun mengapa sebulan terakhir ini nilai kuliahmu menurun lagi? Bahkan hampir di semua mata kuliah. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa kamu sedang ada masalah, Li Zeyan?" selidik profesor Loid mengkerutkan keningnya menatap Zen sedikit bingung.
Seketika Zen membatu setelah mendengar ucapan dari profesor Loid yang sedang membahas nilai mata kuliahnya. Sebenarnya nilai Zen tidak terlalu buruk, dan nilai di semua mata kuliahnya masih di atas rata-rata selama ini.
Namun saat jiwa seorang Kagami Jiro, mulai menempati raga Zen selama 4 bulan. Nilai hampir di semua mata kuliah Zen naik dan meningkat pesat, bahkan bisa dibilang nilainya sangat sempurna! Karena pada dasarnya Kagami Jiro adalah memang seorang genius. Otaknya sangat genius dan cerdik.
Dan semua itu tentunya membuat orang di sekeliling Zen merasa sangat kebingungan. Bagaimana nilai seseorang bisa berubah-ubah begitu saja dalam sekejap. Sungguh tak masuk akal dan malah terlihat seperti nilai dari 2 orang yang berbeda.
"Ada apa, Li Zeyan? Jika memang ada masalah kamu bisa bercerita kepadaku. Selama ini profesor Wu juga sangat memperhatikanmu. Dan dia cukup mengkhawatirkanmu." ucap profesor Loid yang masih berusaha untuk membantu Zen.
Karena selama satu bulan ini profesor Wu dan profesor Loid mengira jika Zen sedang tertekan atau sedang mengalami masalah lainnya. Setelah kasus Zhang Wei dan teman-temannya yang selalu saja berusaha untuk mencelakai Zen hingga saat itu menyebabkan tak hanya Zen yang terluka, namun Li Lian dan Jancent juga terluka parah dan mengalami cacat.
Semenjak saat itu beberapa profesor yang menyayangi Zen mulai lebih memperhatikan Zen, karena khawatir kejadian kecelakaan seperti saat di labolatorium akan terulang lagi.
"Sebenarnya ... tidak ada masalah apa-apa, Profesor Loid." jawab Zen masih mengusap tengkuknya dan meringis karena sebenarnya Zen merasa begitu malu saat menyadari salah satu kenyataan, jika Kagami Jiro rupanya lebih cerdas dari dirinya.
"Apa kau sedang merasa tertekan saat ini, Li Zeyan? Apakah ada mahasiswa yang masih suka mengganggumu selain Zhang Wei, Lee, Sang Yuan Yi dan Lin Fang?" tanya profesor Loid lagi yang masih berusaha untuk mencari akar masalah dari menurunnya nilai semua mata kuliah Zen selama 1 bulan ini.
__ADS_1
"Tidak ada, Profesor Loid. Mungkin aku hanya terlalu merasa lelah dengan rutinitasku dan menyebabkan belajarku kurang maksimal. Tidak ada yang sedang menggangguku kok." jawab Zen masih dengan kening berkerut dan masih meringis.
"Hhm begitu ya ... baiklah jika memang seperti itu. Aku hanya khawatir padamu kok. Aku ingin bertanya satu hal padamu Zen ..." kini profesor Loid mulai menatap Zen lebih serius.
"Ya, Profesor?"
Kini profesor Loid mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya. Sebuah gantungan kunci dengan hiasan sebuah gitar berwarna hitam. Sepasang mata bak okavango blue diamond itu sedikit membulat melihat gantungan kunci itu mengapa bisa sampai ke tangan profesor Loid?
Padahal selama ini gantungan kunci itu tak perrnah dibawa oleh Zen saat pergi ke kampus. Karena gantungan itu hanya digantungkan oleh Zen menyatu dengan sebuah kunci rahasia yang selalu disimpannya di apartemenya. Kunci rahasia itu adalah untuk mengunci sebuah kotak kecil yang berisi dengan peninggalan dan kenangan dari kedua orang tuanya.
Mengapa kunci itu bisa berada pada genggaman tangan profesor Loid? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa tuan Kagami Jiro pernah membawa kunci itu saat pergi ke kampus?
Batin Zen masih kebingungan sendiri.
"Apakah ini milikmu, Zen?" tanya profesor Loid memicingkan sepasang matanya yang sudah sipit menatap Zen.
"Hhm. Benar sekali, Profesor Loid. Itu adalah milikku." jawab Zen dengan hati-hati.
"Lalu apakah itu artinya kamu yang menyerang Lee malam itu, Li Zeyan?" tanya profesor Loid semakin menatap Zen lekat.
Apa ini maksudnya? Tuan Kagami Jiro tak pernah mengatakan apapun mengenai kehidupanku selama 4 bulan itu. Apa saja yang sudah tuan Kagami Jiro lakukan dengan tubuhku aku tidak mengetahuinya. Lalu aku harus menjawab apa saat ini?
Batin Zen mulai kebingungan kembali untuk menjawab pertanyaan dari profesor Loid.
__ADS_1