
"Kerja yang bagus, Amee!" ucap Zen dengan senyum lebar setelah sesi pemotreran berakhir.
"Uhm. Terima kasih, ini semua karena kamu." sahut Amee begitu pelan dan lembut.
"Ehm. Tidak juga kok. Itu karena kamu memang berbakat! Lain kali kamu harus bisa lebih percaya diri! Karena jika kamu percaya diri maka pesonamu akan benar-benar terpancar!" ucap Zen dengan jujur. "Kamu juga akan menjadi model yang baik di masa akan datang!"
"Terima kasih, Zen!" ucap Amee dengan tulus.
"Mau sampai berapa kali kau akan mengucapkan terima kasih kepadaku, Amee?" celutuk Zen dengan tawa kecil dan tentu saja membuat Amee menjadi salah tingkah lagi.
Ternyata Zen sudah baik-baik saja selama ini. Ah ... aku saja yang terlalu berlebihan mungkin selama 2 tahun ini. Syukurlah Zen bisa hidup dengan baik selama ini.
Batin Amee yang sedikit merasa lega.
"Ehem ..." tiba-tiba ada suara seorang pria yang berdehem. Sehingga Zen dan Amee yang sedang duduk bersama mulai mendongak melihat ke asal suara.
"Kak Kai ..." ucap Amee dengan sedikit tergagap dan segera berdiri.
"Zen. Kamu pulanglah bersama Vann dan pengawal lainnya. Kakak akan mengantar Amee pulang. Apa tidak apa-apa?" tanya kak Kai yang menatap serius Zen.
"Tentu saja tidak apa-apa, Kak. Aku pulang sendiri pun juga bisa kok."
"Tidak. Vann akan menyetir untukmu."
"Baiklah. Aku juga ingin segera pulang. Karena aku sangat lelah hari ini!" ucap Zen lalu bangkit dari duduknya dan kini berhadapan dengan kak Kai. "Aku akan pulang. Antarlah Amee!" imbuh Zen dengan senyum tipis lalu menepuk bahu kak Kai.
Kini Zen mulai menatap Amee dengan senyum tipis, "Teruslah berusaha! Kamu akan menjadi model besar juga suatu saat nanti!" ucap Zen lalu mulai melenggang meninggalkan mereka berdua sebelum Amee menjawab apapun ucapan Zen.
...⚜⚜⚜...
Di dalam sebuah kamar appartement yang bernuansa serba putih terlihat seorang pria tampan dengan memakai T-shirt putih tanpa lengan dan memakai celana santai di atas lutut berwarna hitam.
__ADS_1
Dia duduk di sebuah sofa berwarna soft cream dan sedang menimang-nimang sebuah pena berwarna keemasan yang memiliki ukuran lebih besar dibanding dengan pena pada umumnya.
Pria tampan dengan rambut silver yang tak lain adalah Zen itu mulai membongkar pena keemasan itu untuk mencari sesuatu.
Senyumnya mulai mengembang setelah dia menemukan sebuah memory card kecil yang terselip pada pena keemasan itu. Dengan cepat Zen segera memasukkannya pada card reader dan mencolokkannya pada laptop yang sudah menyala di hadapannya itu.
Jemarinya menari dengan lincah di atas keybord itu, sementara sepasang mata kebiruannya mulai terlihat serius menatap layar monitor di hadapannya itu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ada beberapa video yang terputar. Berawal dari sebuah pesta diskotik yang sempat Kagami Jiro ikuti beberapa hari sebelum terjadi penyerangan. Jemarinya dengan cepat terus memencet tombol next pada keybord itu untuk mencari sesuatu yang sedang dia cari saat ini.
Hingga akhirnya Zen menemukan sesuatu. Saat dirinya berjalan di basemant Japan Telexistence. Tiba-tiba ada sebuah mobil BMW hitam menabraknya dengan cukup kencang dari arah dalam menuju keluar.
Zen memundurkan video rekaman itu untuk mengecek dan mencari tau lagi barangkali ada sebuah petunjuk dan bukti pelaku penyerangan terhadap dirinya.
Akhirnya Zen menangkap plat mobil itu. Sebuah plat putih dengan tulisan hijau.
Itu berarti mobil yang sedang penyerang pakai saat itu adalah sebuah mobil pribadi. Dan di ataas 1000 cc. Plat dengan awalan huruf hiragana あ9-14.
Setelah mengirimkan pesan untuk Yukimura, Zen kembali melanjutkan melihat rekaman video itu. Terlihat seorang pria dengan memakai setelan jaz hitam mulai berjalan mendekati tubuh Kagami Jiro yang sudah tidak berdaya itu.
Hanya saja rekaman itu tidak memperlihatkan bagian wajah dari pria penyerang itu. Di dalam video hanya terlihat bagian bahu hingga perut saja.
"Pria penyerang ini bukanlah Ley Bixing. Postur tubuh mereka sungguh sangat berbeda! Itu berarti bukan Ley Bixing yang menyerangku saat itu. Apakah ada pengkhianat lain di dalam Doragonshadou?" guman Zen yang masih serius menatap video itu dengan kening berkerut. "Lalu siapa pria yang menyerangku saat itu? Tidak ada petunjuk lain. Ahh! Sial!" imbuhnya sedikit kesal.
"Lebih baik aku kirim salinan video rekaman ini untuk Yukimura! Siapa tau dia akan menemukan sesuatu yang tidak bisa aku temukan! Okay! Begitu saja." gumam Zen lalu mulai menyalin video itu dan mulai mengirimkan untuk Yukimura.
"Ah. Lebih baik aku melakukan peregangan otot sebelum aku tidur! Besok juga akan sedikit leluasa karena tidak ada shooting. Besok adalah waktunya ke kampus lagi. Hufft ..." guman Zen dengan malas dan mulai merapikan laptopnya lalu melakukan sit up di dalam kamarnya.
...⚜⚜⚜...
"Berikan satu botol lagi, Amee!" perintah kak Kai yang terlihat sudah sedikit tak sadarkan diri dan mulai sempoyongan.
__ADS_1
"Jangan, Kak! Kakak sudah minum terlalu banyak. Ini tidak bagus untuk kesehatan kakak." sahut Amee dengan sangat berhati-hati.
Terpaut umur 7 tahun membuat Amee selalu menghormati kak Kai dalam berkata maupun dalam bertindak. Dan memang sebenarnya Amee adalah tergolong gadis baik yang sangat lemah lembut dalam bertutur kata maupun bertindak. Dia selalu menghargai dan menghormati orang lain bahkan yang lebih muda dari dirinya.
Kecantikannya sungguh luar biasa. Bukan hanya paras, namun hatinya juga sangat cantik luar biasa. Salah satunya sudah terbukti dia yang selalu baik dan selalu menemani masa-masa kelam Zen di masa lalu.
"Amee ... berikan lagi padaku satu botol!"
"Tidak, Kak! Sudah cukup! Kakak sudah terlalu banyak minum." bantah Amee dengan halus. "Sekarang sebaiknya kakak beristirahat saja!" Amee mulai memapah kak Kai dan mengantarkannya ke dalam kamar kak Kai.
Dengan telaten Amee membantu kak Kai menuju pembaringan dan mulai melepaskan jaz, kaca mata, sepatu dan kaos kaki kak Kai.
"Kakak beristirahatlah! Aku ada di depan jika kakak butuh sesuatu panggil saja." ucap Amee yang berbalik hendak meninggalkan kak Kai.
Namun dengan cepat kak Kai duduk kembali dan menarik tangan kanan Amee, "Jangan pergi ... aku tidak mau sendirian ... jangan pergi ..." ucap kak Kai yang sudah hampir menutup matanya.
"Aku hanya di depan, Kak."
"Tidak ..."
Kini Amee kembali duduk di sebelah kak Kai dan berusaha menenangkannya.
"Amee ... suatu saat apakah kamu juga akan pergi meninggalkanku?" ucap kak Kai yang kini tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Amee.
"Ti-Tidak, Kak." ucap Amee yang terlihat begitu ragu. "Aku akan terus bersama kakak. Dan tidak akan meninggalkan kakak." imbuhnya dengan sangat pelan.
"Terima kasih, Amee ..." sahut kak Kai yang semakin mendalamkan kepalanya pada bahu Amee.
Zen ... maafkan aku. Aku tidak tau harus berbuat apa? Tapi aku sudah berjanji kepada kak Kai. Dan tentu saja ini semua demi kebaikanmu.
Batin Amee dengan mata yang sudah berair.
__ADS_1